OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-60


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Sepanjang malam Elston tidak kembali ke kamarnya. Ia terus berada di ruang kerja untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia perlukan selama kepergiannya dengan Mia nanti. Rencana Elston benar-benar sudah bulat. Ia tidak akan menunda-nundanya lagi....


...Ia akan menggunakan berbagai macam cara untuk bisa membawa Mia pergi. Meskipun nanti Mia akan membenci dirinya, Elston tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah keselamatan gadis itu....


...Setelah mengenal Vivian cukup lama, Elston sedikit banyak mengetahui bagaimana cara Vivian bertahan di kalangan kelas atas selama ini. Vivian memanglah seorang wanita yang ambisius. Karena itulah ia bisa mendapatkan kedudukan serta semua kekayaannya....


...Wanita pekerja keras dan tidak takut dengan tantangan. Mungkin itulah yang bisa menggambarkan sosok seorang Vivian. Tapi bukan berarti Elston tidak tahu apa yang telah wanita itu lakukan di balik semua itu. Karena itulah Elston menjadi khawatir saat tahu Mia menjadi orang ketiga di antara Vivian dan tunangannya....


...Jika mengingat kembali bagaimana sosok seorang Vivian, Elston hanya bisa menahan kemarahan. Semua rencana dan juga ancaman yang tersirat dalam kata-kata Vivian memang benar adanya. Karena itulah Elston ingin melindungi Mia....


...Cih. Ambisi dari seorang wanita memanglah sangat menakutkan....


...❄️❄️...


Ditengah-tengah keheningan malam, terdengar suara ketukan pelan pada pintu ruang kerja milik Elston. Sementara Elston masih enggan untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaannya.


"Masuklah Bones." seru Elston yang berpikir bahwa pada saat seperti ini hanya Bones sajalah yang masih terjaga. Sementara Elston sedang memasukkan satu per satu paspor, visa, dan dokumen-dokumen penting ke dalam koper yang akan ia bawa.


"Els.. ini aku." Mia muncul di ujung pintu dengan wajah yang terlihat masih mengantuk. Elston tersentak untuk sesaat. Karena ternyata Mia lah yang saat ini ada di ruangan itu bersama dirinya.


"Kau sedang apa? Apa aku mengganggu mu? aku mencarimu dikamar tapi tidak ada." kata Mia.


...Apakah Mia terbangun karena khawatir padaku?...


Elston melihat pada jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Elston berbalik sambil menunjukkan senyum simpul di wajahnya. "Hei cantik. Ada apa? apa kau terbangun karena aku tidak ada?" kata Elston gemas dengan ucapannya sendiri.


"Kau sedang apa?" Mia melangkah masuk. Dan memperhatikan apa yang sedang Elston lakukan. "Untuk apa semua ini? apa kau akan pergi?"

__ADS_1


Rasa ingin tahu Mia memang tidak bisa dihentikan. Begitu lah gadis afrodite miliknya. Elston tersenyum samar, kemudian melanjutkan memasukan semua berkas yang masih tersisa di atas meja hingga selesai.


"Bukan hanya aku Mia. Tapi kita." kata Elston. Mia mengernyit karena bingung. "Maksudmu kita?" tanya Mia. "Kita akan pergi ke LA lusa. Ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan di sana. Dan aku membutuhkan mu. Karena itu aku ingin kau ikut bersama ku." Elston harus berbohong. Karena jika tidak, mungkin Mia akan menolak ajakannya. Dan rencananya akan gagal.


"Aku? maksud mu aku akan ikut bersama mu?" Mia masih tidak mengerti. Ia bingung dengan rencana yang tiba-tiba saja Elston katakan. "Tapi.." Mia diam sesaat. Jika ia pergi, maka akan ada banyak hal yang harus ia lakukan sebelum ia ikut bersama Elston. "Berapa lama kita akan pergi?"


"Tidak tahu. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Sampai pekerjaan ku selesai." membuat alasan seperti ini memang bukan sepenuhnya kebohongan.


Elston memang ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan di LA. Tapi tidak lama. Hanya saja mengingat semua rencana berbahaya dari Vivian, Elston akan memanfaatkan situasi itu untuk tinggal di sana bersama Mia. Hanya mereka berdua.


"Apakah pekerjaan itu sangat penting? jika aku pergi maka aku harus.."


"Kau tenang saja. Bones yang akan mengurus semuanya untuk mu. Kau hanya perlu menyiapkan barang-barang pribadimu. Selebihnya tidak usah kau pikirkan." kata Elston. Karena ia yakin Bones bisa menyelesaikan semuanya.


"Dan satu lagi. Tentang Apartemen mu, aku sudah membelinya. Surat-surat kepemilikan nya akan dikirimkan dalam waktu dekat. Dan itu atas namamu."


"Apa? kau membeli apartemen nya?" tapi kenapa? kenapa kau harus membeli apartemen itu? Mia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Elston pikirkan. Apakah semua konglomerat melakukan semuanya dengan sesuka hati?


"Hem. Aku membelinya, untuk mu. Tidak ada alasan. Hanya ingin saja." Benar bukan? Mia tidak akan pernah mengerti jalan pikiran Elston. "Jadi, apa lagi yang kau perlukan? apa masih ada yang kurang? jika ya, maka katakan saja."


"Tidak. Tidak ada yang kurang. Hanya saja, Kenapa kau melakukan semua ini?" Mia masih bingung. Kepergian tiba-tiba tanpa terencana sebelumnya. Apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui?


"Kenapa kau terlalu banyak bertanya Mia? yang perlu kau lakukan hanyalah mengucapkan terimakasih. Itu saja. Jangan pikirkan yang lainnya lagi." kata Elston memaklumi sikap kebingungan yang Mia tunjukan.


"Tapi.."


"Sssttt....aku tidak ingin mendengar kata tapi lagi dari mulut mu. Jadi.." Elston menutup jarak keduanya. "Jangan memikirkan alasan kenapa aku melakukan semua ini untuk mu lagi Mia. Karena jawabannya akan tetap sama. Karena aku ingin." mata yang menunjukkan ketulusan dan senyum yang mempesona terasa tidak tepat di saat seperti ini bagi Mia.


"Sekarang kau hanya perlu kembali tidur, agar besok pagi kau bisa membereskan barang-barang mu. Aku juga akan menemani mu pergi." kata Elston membelai lembut pucuk kepala Mia.


"Tapi.."


"Mia.." Elston menyipitkan matanya memperingati. Sementara peringatan Elston justru membuat Mia tersenyum. "Aku hanya ingin bertanya. Apa kau tidak tidur?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh Elston membuat nya mengulum senyum bahagia. "Kau ingin aku tidur bersama mu?" Kata Elston menggoda.


"Bukan begitu Els." wajah Mia merona. "Maksud ku kau juga harus istirahat. Dan aku akan kembali ke kamar tamu. Terimakasih atas ranjang empuk milik mu." kata Mia malu.


Elston menahan tangan Mia sesaat kemudian melepasnya dengan enggan. "Tidur lah di kamar ku Mia. Aku akan merasa aman jika aku melihat mu ada di sana. Ini adalah perintah." tatapan asing yang tiba-tiba saja membuat Mia mengernyit. Apakah itu sebuah kekhawatiran? tapi kenapa?


"Tapi aku..."


Elston mengisyaratkan dengan jari telunjuknya agar Mia tidak berkomentar apapun lagi dan hanya perlu kembali kemar seperti perintahnya..


"Ya ya.. baiklah. Selamat malam Els." Mia menuruti permintaan Elston. Ia tidak akan bisa menang jika berdebat dengan Elston. Lagi pula itu hanya akan membuang-buang waktu mereka.


"Selamat malam Afrodite ku." balas Elston tersenyum senang.


"Dasar gadis penyihir. Kau sudah seperti istriku saja." Jantung Elston berdebar. "Ah.. Apa mungkin hanya aku yang berpikir begitu? Biarlah. Lagi pula apa bedanya? Toh Mia memang akan menjadi milikku."


...❄️❄️...


...MENSION REAGHAL...


Pukul tiga dini hari Owen baru tiba di rumah. "Kau baru pulang Son?" Hilbert sengaja menunggu kedatangan putranya.


"Ia pa. Aku mengambil barang-barang ku." sahut Owen yang benar-benar membawa koper berukuran sedang. Yang berisikan barang-barang pribadi miliknya.


"Bagaimana dengan rencana kepergian mu? apa kau sungguh-sungguh akan melakukannya? maksud papa.."


"Aku benar-benar akan pergi pa. Tidak apa-apa. Lagi pula aku perlu menenangkan diri karena masalah yang terjadi. Anggap saja kali ini aku kembali melarikan diri." kata Owen lelah. "Tapi aku janji jika ini akan jadi yang terakhir. Karena itu.."


"Tidak apa-apa Son. Papa mengerti. Lakukan saja apa yang baik menurut mu. Apapun yang kau hadapi saat ini, cobalah memikirkan dampak positif nya alih-alih kau hanya menyalahkan diri sendiri."


"Terimakasih papa."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2