
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Hampir tengah malam. Bukanlah waktu yang tepat untuk kembali ke apartemen. Seharusnya. Karena sudah terlalu sunyi bagi seorang gadis untuk melintasi perkotaan pada jam seperti ini.
Segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Mereka hidup di kita metropolitan. Dan ada banyak tindak kriminal yang terjadi meskipun kota cenderung ramai. Tapi Mia tetap kembali. Karena ia ingat janjinya kepada Owen.
Aku akan menunggumu di apartment. Kata-kata yang tidak mungkin Mia abaikan begitu saja.
Meskipun Mia sangat sadar bahwa Owen pastilah sudah tertidur. Siapa juga yang akan begadang dan menunggu dirinya sepanjang malam.
Terlebih lagi kekasih nya adalah orang yang cukup sibuk. Tapi setidaknya besok pagi mereka bisa bertemu. Itu sedikit mengobati rasa bersalah Mia. Besok pagi ia akan minta maaf karena tidak bisa pulang tepat waktu.
Mia juga terlalu lelah untuk sekedar berbasa-basi. Yang ia inginkan saat ini hanyalah pulang dan tidur. Atau mungkin sedikit menikmati cake pengantar tidur.
Jika saja Elston tidak menahannya lebih lama, mungkin Mia bisa kembali tepat pukul sembilan malam. Tapi mau bagaimana lagi, Elston adalah bosnya. Dan Mia tidak bisa berbuat sesuka hati. Kecuali pria itu. Benar-benar pria yang licik.
Memikirkan bagaimana Elston akhir-akhir ini benar-benar membuat Mia kebingungan. Hubungan yang rumit sedang terjadi pada mereka. Mia tidak bisa mengabaikan semua nya begitu saja.
Karena jelas Mia juga merasakan ada yang berubah pada hubungan yang tertulis secara jelas di atas kertas. Antara atasan dan juga anak buah.
__ADS_1
Terkadang Mia merasa jika Elston bukanlah seperti Elston yang ia kenal. Pria itu membuat dirinya kebingungan. Tidak hanya sikapnya. Tapi juga perlakuan nya.
Terkadang Elston bersikap masa bodoh. Terkadang juga tidak bisa di tebak. Tapi ada banyak kesempatan dimana Mia bisa melihat Elston seperti pria kebanyakan; memiliki sisi sensitif, sedikit rapuh dengan ego yang tidak bisa di taklukkan. Benar-benar membuat pusing.
...❄️❄️...
Mia sudah menaiki tangga apartemen nya ketika ia mendengar ada suara samar-samar yang berasal dari lantai yang sama seperti gedung miliknya. Mungkin itu tetangga lain.
Karena tentu saja area itu lebih banyak di huni oleh orang-orang dewasa dengan pekerjaan atau kehidupan yang jauh di atas Mia.
Pastilah orang-orang yang memiliki pekerjaan lebih berat dari dirinya. Setidaknya itulah yang Mia pikirkan sebelum ia menjadi lebih dekat dengan sumber suara.
Tapi semakin dekat Mia kepada suara itu, Mia semakin merasa yakin bahwa itu suara yang familiar. Tidak seperti percakapan. Tapi lebih kepada perdebatan kecil antara sepasang kekasih. Dan Mia yakin betul ia sangat mengenal suara itu.
"Ehm. Maaf mengganggu." Mia menyela keduanya. Karena tidak mungkin ia akan berdiri di sana semalam suntuk bukan? saat menyadari kehadiran Mia Dan mata Owen langsung terpaku pada dirinya. Sedikit terkejut dan juga terasa asing.
"Suara kalian agak begitu. Kau tahulah. Ini juga sudah larut. Aku takut.." Mia mengamati ekspresi keduanya. "Permisi." Tidak seharusnya Mia ikut campur. Apapun yang terjadi saat ini di antara keduanya Mia hanya perlu menunggu.
Menunggu Owen menjelaskan padanya. Jika Owen menganggap dirinya harus melakukan itu. Dan jika memang ia menghargai perasaan Mia sebagai seorang kekasih.
Mia hampir saja pergi melewati keduanya saat suara Vivian tiba-tiba saja tertuju padanya; "Kau." katanya membuat Mia langsung tahu siapa yang di maksud oleh Vivian.
"Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya." Mia ingat itu. Di depan apartemen, di kampus dan juga di pesta. Mia ingat semuanya.
__ADS_1
"Ku rasa begitu."
"Kau si Afrodite." kata Vivian lagi. Rupanya itulah yang paling Vivian ingat dari sosok Mia. Untunglah bukan sosok yang memalukan.
"Apa?" Kini giliran Owen yang nampak terkejut. "Kami bertemu di pesta. Dia dan kekasihnya menggunakan kostum,"
"Bos ku." Sela Mia mengingat bahwa Elston bukanlah kekasih seperti yang Vivian katakan. "Yah. Mereka di sana. Dan kami bertemu. Hanya saling menyapa sebentar."
Entah kenapa Mia merasa lega. Mungkin ia bersyukur karena tidak ada kesalahpahaman yang bisa terjadi di antara dirinya dan Owen yang berasal dari informasi yang baru saja Vivian sebutkan.
Meskipun Mia berharap demikian, Mia juga tidak tahu bagaimana pikiran Owen yang sebenarnya.
"Silahkan kembali ke apartemen mu Mia. Kau pasti lelah. Selamat malam." kata-kata yang Mia tidak sangka akan keluar dari mulut Owen.
Mia kecewa. Tentu saja. Ia merasa bahwa Owen masih tidak ingin mengakui hubungan mereka di hadapan orang lain; terutama di depan Vivian. Ataukah hubungan mereka memang seharusnya tidak diketahui orang lain.
"Baiklah. Maaf menyela. Selamat malam." Mia tidak bisa mengabaikan tatapan menyesal yang terlihat dari mata Owen. Tapi Mia juga tidak ingin mengajukan protes. Karena ini bukan saat yang tepat.
...Benar-benar menyebalkan!...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...