OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-88


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Tidak ingin membuang waktu, Elston langsung mengambil ponsel dan juga jas nya. Dipasang nya dengan cepat, bahkan sesekali ia salah memasukkan tangannya. Elston terlihat buru-buru, karena itulah Mia tersenyum.


Tadinya, Mia pikir Elston akan menolak bertemu dengannya, tapi ternyata pria itu sangat antusias walaupun sekedar untuk ajakan makan malam.


"Ayo. Aku sudah siap." Elston tersenyum. Ia berdiri di samping Mia, kemudian menggenggam tangan gadis itu. Saat tangan mereka bertaut, ada semacam sengatan listrik yang membuat wajah keduanya bersemu.


Elston sungguh tidak bisa membendung semua perasaan yang saat ini telah penuh dan terus meluap-luap dalam dadanya.


Tanpa bertanya, dipeluknya Mia dengan erat. Ia ingin menyalurkan perasaan bahagia yang ia rasakan pada gadis itu. "Terimakasih sudah datang padaku Mia. Aku benar-benar senang bertemu dengan mu." kata Elston membenamkan wajah di ceruk leher Mia.


Diciumnya aroma gadis itu dalam-dalam hingga memenuhi seluruh kepalanya. Elston ingin mengingat baik-baik momentum kali ini. Mia terasa kecil dan hangat dalam rengkuhannya.


Hati Mia berdebar. Kakinya bahkan terasa lemas dalam pelukan Elston. Ia kalah tapi ia bahagia. Elston kembali membuat dirinya benar-benar bersinar.


"Aku juga Els. Maafkan aku. Dan terimakasih. Terimakasih karena kau mau bicara padaku." kata Mia merasa bersalah.


"Bagaimana mungkin aku tidak ingin bicara padamu sayangku?" suara Elston bergetar. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku menunggu mu selama ini. Aku selalu mengatakan pada diriku, jika kau akan datang suatu saat nanti karena itulah aku selalu menahan diriku untuk berlari padamu. Dan sekarang, akhirnya kau benar-benar datang. Aku senang sekali."


Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibandingkan dengan saat ini. Jika bisa ia tidak ingin melepaskan pelukannya dari Mia untuk selamanya. Karena jika ia lepaskan, ia takut jika gadis itu akan pergi lagi.


Mia tersenyum. Hatinya terasa hangat. Ternyata selama ini Elston memikirkan dirinya. Ia pikir pria itu sudah tidak ingin lagi melihat dirinya.


"Aku datang karena aku merindukan mu Els. Aku sangat merindukanmu." kata Mia membalas pelukan Elston sama eratnya.


Untuk sesaat Elston melonggarkan pelukannya, ditatapnya mata Mia untuk menemukan sesuatu dalam gadis itu, dan di sana Elston hanya menemukan kejujuran. Mia mengatakan yang sebenarnya. Isi hatinya.


Apakah ini artinya perasaan ku terbalaskan?


"Aku mau mencium mu Mia? bolehkah?" tanya Elston dengan tatapan yang melekat pada bibir ranum Mia. Mendengar pertanyaan Elston, Wajah Mia merona, ia tidak menjawab, tapi hanya memberikan anggukan samar.

__ADS_1


Tentu saja ia tidak keberatan akan hal itu, karena Mia sendiri menginginkan hal yang sama.


Saat bibir Elston menyentuh bibir Mia dengan hati-hati, jantung keduanya berdebar. Baik Elston maupun Mia bisa merasakan sesuatu yang bergetar dan hangat yang keluar dari dalam sana.


Perasaan yang selama ini tertahan, sudah seharusnya dilepaskan. Elston mulai merasakan desakan dalam dirinya. Bibir lembut dan ranum yang saat ini tengah dilumatnya adalah bibir termanis dalam hidupnya.


Bibir Mia mampu menggetarkan bahkan mampu membuat Elston kehilangan akal sehat. Pengontrolan diri yang telah ia bangun dengan begitu kokoh dalam sedetik hancur berkeping-keping.


Gadis itu menghancurkan semuanya. Elston tidak bisa menahannya lagi. Gelombang perasaan yang ditimbulkan karena kedekatan mereka terlalu besar. Elston tidak bisa menangani semua itu.


Apa yang harus ku lakukan? Ya Tuhan, bagaimana bisa kau memberikan cobaan seperti ini kepadaku? tentu saja aku akan jatuh, dan hancur berkeping-keping.


Saat Elston kembali menyesap bibir termanis itu dengan rakus, ia kehilangan akal. Pengendalian dirinya sudah hancur berkeping-keping. Maka jangan minta ia untuk bertahan, karena ia tidak akan sanggup menolak semua perasaan yang ditawarkan padanya saat ini.


"Els..." suara Mia terengah, dengan pipi yang kian bersemu sedang seluruh tubuhnya mulai bergetar karena gelombang kenikmatan yang berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa asing dan menuntut untuk diselesaikan saat itu juga.


Ditatapnya pria itu. Mata Elston sama berkabut nya dengan mata Mia. Bahkan ia Mia tidak mengatakan apapun Elston tahu jika Mia menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman.


...❄️❄️...


Mengerti akan tatapan gadis itu, Elston pun kembali memulai aksinya. Di rengkuh nya Mia sekali lagi hingga tubuh mereka menyatu.


Kali ini, Elston akan menunjukkan betapa ia menginginkan gadis itu. Betapa keras ia menahan dirinya dari godaan ya g ditimbulkan Mia pada dirinya.


"Aku akan mencium mu perlahan. Rasakan aku Mia.. rasakan setiap sentuhan ku pada dirimu." ucap Elston. Pertama-tama ia mencium bibir Mia. Dilumatnya dengan lembut dan sedikit menuntut. Mia pun membalas ciuman itu sama antusiasnya.


Kini Elston tidak ragu lagi. Perlahan-lahan ciumannya pun turun, diciumnya pipi Mia dengan lembut. Kemudian beralih ke cuping Mia, dan sekali lagi Mia kembali melenguh.


"Rasakan Mia.. rasakan aku.." godaan terbesar yang Mia rasakan dalam hidupnya, adalah sentuhan Elston. Pria itu menyentuhnya dengan cara yang berbeda.


Sementara bibir Elston terus menjelajah di bagian leher Mia, tangannya membuka satu kancing kemeja gadis itu.


Mia tidak ingin menginterupsi perbuatan Elston, karena ia juga menginginkan sentuhan pria itu ditubuhnya.


Mia ingin tahu bagaimana rasa yang diberikan Elston pada dirinya. Saat kancing baju Mia sudah terlepas, Elston sedikit menyingkap baju Hem yang Mia kenakan hingga bahu gadis itu terbuka sepenuhnya.


Elston memberikan kecupan-kecupan pada kulit Mia, kemudian memberikan tanda di sana. "Akkkhh.. Els.." suara Mia tercekat.

__ADS_1


Ia baru tahu jika sebuah ciuman akan membuat dirinya merasa seperti ini. Elston kembali mencium Mia.


Saat lidah Elston mulai menjelajahi sudut-sudut terdalam mulut Mia, gadis itu mengerang kecil, hingga menimbulkan efek yang luar biasa dalam diri Elston.


"Kau ingin aku berhenti?" bisik Elston saat tangannya membelai lembut punggung Mia. Sementara tangan gadis itu melingkar di pinggangnya.


"Apa kita harus berhenti?" suara Mia kembali bergetar.


Pria itu tersenyum. "Tidak. Tentu saja tidak." Elston kembali mencium bibir Mia. Perlahan mulai turun ke leher putih dan harum sementara kedua tangannya mulai bermain di bagian bokong Mia. Menyentuh nya dan meremas nya perlahan.


Dengan perlahan Elston menuntun Mia untuk bergerak, sementara tangannya meraba-raba mencari tombol untuk membuka kamar pribadinya.


Saat tombol itu ditekan, pintu dibelakang Mia terbuka. Ia sedikit terkejut, namun tidak membuat dirinya melepaskan ciumannya.


Dalam sekali gerakan Elston mengangkat tubuh Mia, sementara dengan sigap Mia melingkarkan tangannya pada leher Elston.


Saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar, Elston kembali menutup pintu. Mia tidak perduli dengan apa yang Elston lakukan, yang ia tahu saat ini ia menginginkan pria itu.


Perasaan yang kian membuncah membuat tubuh Mia semakin bergetar. Bukan karena takut, tapi karena ia menyukai setiap sentuhan yang Elston lakukan.


"Mia, aku benar-benar menginginkan mu sayang. Aku, aku sangat mencintai mu." bisik Elston Elston menggigit pelan cuping Mia membuat tubuh gadis itu meremang.


Ditatapnya mata Elston sesaat, pria itu juga menginginkan dirinya sebesar ia menginginkan pria itu. "Lakukan saja apa yang kau mau. Aku mau bersama mu Els.." kata Mia memerah.


Kali ini Mia lah yang lebih dulu mencium Elston. Ia tidak ingin mereka berhenti di sini. Ia menginginkan hal yang sama seperti yang di inginkan pria itu.


Dengan perlahan Elston membaringkan Mia di atas ranjang sementara ia memposisikan diri agar tidak menyakiti gadis itu.


Kali ini Elston benar-benar tidak akan menahan diri lagi karena Mia telah membalas cintanya.


"Kau ingin lampunya dimatikan?" tanya Elston sambil membelai pipi Mia yang bersemu.


"Terserah kau saja Els. Ku mohon jangan terlalu banyak bertanya, lakukan saja." kata Mia malu.


"Kau benar-benar gadis penyihir!"


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2