
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Saat terbangun di pagi hari, sekujur tubuh Mia terasa pegal. Terutama di bagian intinya. Bagaimana tidak, permainan Elston sungguh luar biasa. Bahkan untuk orang yang pertama kali melakukannya pun, Mia sangat mengakui hal tersebut.
Kini satu persatu ingatan tentang malam yang panas dan mendebarkan itu mulai bermain di dalam kepalanya.
Setiap sentuhan dan belaian di sekujur tubuhnya akibat dari perbuatan Elston terekam dengan jelas. Bagaimana pria itu menciumnya, menyentuhnya, bahkan ketika tubuh mereka bersatu. Mia mengingat semuanya.
Bahkan rasanya. Ia ingat betul bagaimana rasa yang diberikan Elston pada dirinya. Pria itu memberikan rasa yang membekas dengan jelas. Sesuatu yang manis dan luar biasa, bahkan nyaris sempurna.
Mengingat semua itu, wajah Mia kembali merona, bahkan senyuman kecil merekah di bibirnya sebelum ia benar-benar membuka mata.
"Selamat pagi sayang." Elston menyapa Mia dengan senyum cerah yang khas. Sejak tadi pria itu terus memandangi wajah kekasihnya bahkan sebelum gadis bangun.
Mendengar sapaan Elston membuat tubuh Mia sedikit menegang. Lihatlah betapa besar dampak yang diberikan pria itu pada dirinya.
Alih-alih merasa terkejut, Mia justru merasa bahagia karena Elston ada di sisinya saat ia membuka mata. Pria itu tidak meninggalkan dirinya sendiri.
Di tatapnya wajah Elston, Wajah pria yang selalu tersenyum dengan lembut, membuat jantung Mia terus berdebar. "Selamat pagi Els." balas Mia seraya membelai wajah Elston.
Kulit wajah pria itu mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, hingga terkesan sedikit kasar namu terlihat lebih seksi dan maskulin. "Mimpi indah sayang?"
Mia mengangguk, "Hem. Bagaimana dengan mu?" Elston tersenyum kemudian mengecup bibir Mia singkat, "Sama seperti mu, sangat indah."
Beberapa saat kemudian, saat isi kepala Mia mulai berfungsi dengan cara yang semestinya, ia tersadar saat memperhatikan Elston yang sudah mengenakan piyama.
Dilihatnya lagi dirinya, astaga. Tubuhku hanya terbalut kain tipis. Mia hampir menjerit. Elston tertawa kecil saat melihat ekspresi terkejut pada wajah kekasihnya. Benar-benar menggemaskan.
"Sepertinya kau harus mandi sayangku." kata Elston yang langsung duduk kemudian mengangkat tubuh Mia dalam sekali rengkuh.
Mia sedikit terkejut karena hal tersebut. Entah dari mana Elston mendapatkan kekuatannya. Padahal selama ini Elston selalu terlihat feminim.
Ah .. bukankah semalam pria ini juga menunjukkan sisi maskulinnya? Bahkan mungkin terlampau maskulin. Fix, bahwa selama ini Elston menyembunyikan siapa dirinya.
"Aku bisa mandi sendiri Els." protes Mia namun tetap melingkarkan tangan di leher Elston sebagai tempat untuk berpegangan.
__ADS_1
"Kenapa? kau malu? aku kan sudah melihat semuanya." Deg... jantung Mia kembali berdebar kencang. "Bahkan kau juga sudah melihat milikku, jadi kenapa harus malu?"
"Kenapa kau harus mengatakan itu!" balas Mia yang cepat-cepat menyembunyikan wajahnya. "Dasar m3sum."
Saat keduanya berada di dalam kamar mandi, Elston kembali melakukan hal yang sama pada tubuh Mia. Meskipun masih terasa sakit, tapi Mia tidak menolak sedikitpun. Bahkan semakin Elston menyentuhnya, semakin ia menginginkan pria itu. Lagi, dan lagi...
...❄️❄️...
Setelah mengganti pakaiannya dengan yang baru, Mia berniat untuk pergi ke kantor. Ia masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap.
"Aku harus pergi Els. Aku juga tidak ingin karyawan mu,- Mia berhenti sesaat. "Astaga... Aku melupakan Bones." pekik Mia.
"Els.. aku lupa memberitahu mu kalau semalam Bones menunggu kita. Bagaimana ini, apa Bones menunggu semalaman dibawah sana? padahal aku mengatakan jika kita tidak akan lama."
Ah... dasar bodoh. Bisa-bisa nya aku melupakan pria baik itu. Seharusnya aku tidak melakukannya, bagaimana ini? Batin Mia kembali merasa bersalah.
Melihat kepanikan di wajah Mia justru menjadi hiburan tersendiri bagi Elston. Mia sungguh menggemaskan. Apa aku harus menggodanya lagi? Tapi bagaimana kalau nanti dia justru menangis?
Gadis inikan sangat cengeng. "Bones sudah kembali ke Mension sejak semalam. Jangan khawatir sayang." kata Elston menggenggam tangan Mia dan menciumi nya berulang kali.
Lagi pula tidak mungkin juga ia membiarkannya pria paruh baya itu berjaga semalaman di sana, sementara dirinya bermesraan di atas sini.
"Jangan dipikirkan, Bones sudah lama bekerja padaku. Tanpa diberitahu pun dia tahu apa yang harus dilakukannya. Kau tenang saja." Elston mengusap pelan rambut Mia.
"Nah, sekarang ayo kita sarapan. Aku sudah menyiapkan makanan sehat yang baik untuk tubuhmu. Bukan kah kau harus mengembalikan stamina mu?"
Elston menggandeng tangan Mia, kemudian membawa gadis itu untuk keluar dari dalam kamar. "Aku tidak tahu jika kau punya ruangan seperti ini di kantor mu." kata Mia mengomentari tempat yang telah menjadi tempat penuh kenangan manis baginya.
"Aku jarang menggunakan kamar ini. Hanya jika aku tidak pulang saja dan harus menyelesaikan pekerjaan penting seperti semalam." goda Elston sambil menciumi tangan yang ada dalam genggaman nya.
Kening Mia berkerut. Pikirannya mulai memikirkan semua perkataan yang baru saja Elston ucapkan. "Benarkah?" celetuk Mia.
Sedang wajah gadis itu jelas menunjukkan bahwa ia kini tengah memikirkan banyak hal.
Elston berhenti dan menahan tangan Mia, membuat langkah gadis itu ikut terhenti. "Hei.. apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Elston membuat Mia sedikit canggung.
"Aku? tidak. Aku tidak memikirkan,-
"Aku bisa melihat dengan jelas apa yang tertulis di wajah mu itu." sela Elston. Mia tersipu. "Tidak. Hanya saja,-
__ADS_1
"Mia dengarkan aku." kata Elston kembali menyela. Ditatapnya mata Mia dengan tatapan yang penuh dengan keseriusan.
"Kau adalah cinta pertama ku, dan kau juga yang pertama melakukannya dengan ku. Dan aku tahu jelas bahwa aku juga yang pertama untuk mu, benar?"
Mia mengangguk. "Karena itu jangan berpikir yang tidak-tidak. Karena aku tidak akan bercinta dengan orang lain selain dirimu. Baik Sebelumnya atau pun nanti. Karena aku hanya mencintaimu."
Mia kembali mengangguk, tapi kali ini disertai senyuman cerah yang muncul di wajahnya. "Aku juga mencintaimu Els."
...❄️❄️...
...BRAAAK!...
Wajah Owen memerah. Tatapan tajam matanya tertuju pada layar komputer yang saat ini tengah menyala.
Tangan Owen terkepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Isi kepalanya kini mulai dipenuhi oleh hal-hal yang membuat ia ingin mengeluarkan semua kemarahan saat itu juga.
"Brengsek! Dasar pria brengsek!" teriak Owen dengan suara memenuhi seisi ruangan. "Berani-beraninya kau menyentuh wanitaku! Arrrkkkhh!"
Pria mana yang tidak akan menggila saat melihat laporan seperti ini. Terlebih hal itu menyangkut orang yang dicintainya.
Photo-photo yang diterima hari ini menunjukkan bahwa Mia yang datang ke kantor Elston pada tengah malam, dan gadis itu tidak pernah keluar lagi dari gedung itu sepanjang malam.
Sedang gambar selanjutnya adalah photo dimana Mia dan Elston sedang bersama-sama yang diambil pada pagi harinya, tepat saat keduanya meninggal kantor sambil bergandengan tangan.
Yang artinya, mungkin saja Mia sudah menghabiskan malam bersama pria itu. Entah mereka melakukannya atau tidak yang jelas mereka bersama, sepanjang malam. Dan hal itu saja sudah cukup untuk membuat Owen meradang.
Hanya memikirkan hal ini saja sudah membuat hatinya tak karuan. Aku tidak bisa terus di sini. Aku harus memastikan semuanya sendiri. batin Owen kembali bergejolak.
"Benar. Aku harus pulang. Harus." Owen mengangkat ganggang telepon dan menghubungi sekertaris pribadinya.
"Bereskan semuanya. Kita akan kembali hari ini juga." perintah Owen dengan jelas.
"Baik tuan. Akan saya siapkan segera."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1