
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Melihat sinar matahari yang bersinar cerah tepat pukul tujuh pagi adalah kesukaan Mia. Baginya, sinar matahari yang begitu menyilaukan adalah satu pertanda baik.
Karena Mia kurang menyukai langit mendung dan juga awan kelabu, baginya hal-hal seperti itu akan mengingatkan dirinya pada masa lalu yang kelam. Hari terburuk dalam hidupnya.
"Lihatlah Mia. Matahari sedang tersenyum padamu!" Mia mengangkat tangannya untuk menghalau sinar matahari yang masuk dari jendela kamarnya. "Ah, terangnya. Sangat indah." Mia tersenyum. Jantung nya kembali berdebar cepat.
Ia sudah siap untuk berangkat bekerja. Berkat makanan yang di berikan tetangga tampan di malam sebelumnya, Mia tidak perlu lagi repot-repot untuk memasak.
Saat keluar dari apartemen, Mia juga membawakan sebagian makanan yang sudah di panaskan untuk Owen. Mia tidak akan sanggup menghabiskan semuanya sendirian. Karena itulah Mia membagi setengahnya lagi untuk pria itu. Bukankah sejak awal memang seharusnya mereka berbagi?
...❄️❄️❄️...
Di persimpangan menuju apartemen, Mia melihat sosok yang sudah sangat ia kenali. Tubuh tinggi dan berotot yang tanpa harus di lihat dari dekat pun Mia hafal dengan siluet nya. "Selamat pagi Mia. Sudah mau pergi?" sapa pria itu. Owen mengatur nafasnya agar lebih teratur. Pria itu baru selesai berolahraga dan tubuhnya masih penuhi keringat. Sangat maskulin.
Mia tersenyum. "Hai, selamat pagi juga." Balas Mia. Bukankah mereka terlalu akrab untuk ukuran seorang mahasiswa dengan dosennya? Tapi itu bukan salah Mia. Pria itulah yang meminta nya begitu. "Dan, Yup. Aku ingin pergi bekerja." lanjut Mia.
Mia mengeluarkan sapu tangan kecil dari dalam tasnya, dan mengarahkannya pada Owen. "Pakailah." tentu saja Owen menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih Mia. Aku akan mengembalikan nya nanti." Ah senyum itu lagi. Mia hanya mengangguk samar sambil menahan nafas sesaat.
__ADS_1
"Apa tempat bekerja mu sangat jauh?" Owen kembali bertanya. Dan Mia hanya menjawab singkat, "Cukup jauh." Mereka tak perlu membagi informasi terlalu detail bukan?
"Mau ku antar? kau hanya perlu menunggu sebentar." tawar Owen, terlihat ingin buru-buru bergerak dari tempatnya. Tapi Mia justru langsung menolak tawaran itu tanpa berpikir lebih jauh, "Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri." tolak Mia.
...Owen sudah bersikap terlalu baik. Sudah seharusnya Mia tidak menambah pekerjaan pria itu. Setidaknya itulah yang Mia pikirkan....
Meskipun merasa sedikit kecewa, tapi Owen sadar bahwa hubungan antara dirinya dan Mia tidak sedekat itu untuk bisa dengan nyaman mengantar gadis itu hingga tiba di tempat nya bekerja. Seharusnya ia sadar lebih awal. "Baiklah jika kau ingin begitu." Owen Bergerak gelisah.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Mia melanjutkan langkahnya. Begitu pula dengan Owen. Tapi kemudian Mia berbalik. "Owen!" Panggil Mia dan sedikit terkejut karena pria yang di panggil nya bergerak lebih cepat dari yang Mia pikirkan, "Ya?" sahut Owen yang sudah kembali berdiri di hadapan Mia.
"Makanannya enak. Dan, aku sudah memanaskan bagian mu. Sudah ku letakkan di atas meja apartemen mu." ujar Mia memberitahukan makanan yang sebelumnya ia siapkan untuk pria itu.
Dan entah kenapa, hal itu bisa sedikit mengurangi kekecewaan owen. Owen tersenyum samar, "Terimakasih Mia. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot. Aku membeli nya untuk mu." Owen Bergerak lebih dekat. Dan Mia kembali berdebar.
"Tidak masalah. lagi pula terlalu banyak jika ku habiskan sendiri." sahut Mia. Tangannya meraih rambut yang tertiup menutupi pipi nya.
...Manisnya....
"Kalau begitu aku pergi. Bye." pamit Mia untuk keduakalinya.
"Bye Mia, sampai nanti."
...❄️❄️❄️...
__ADS_1
...MENSION ELSTON...
Elston bergerak tidak nyaman di kamarnya. Ia gelisah menunggu kedatangan Mia. "Bones. Dimana Mia ..?" Elston bertanya melalui alat komunikasi langsung yang terhubung dengan lantai utama. Suaranya terdengar serak. Elston baru saja terbangun.
...Dan yang pertama kali di carinya adalah Mia. Aneh....
"Nona Mia belum datang tuan muda." jawab Bones.l dengan tenang seperti biasanya. Mendengar hal itu Elston mengernyit tak senang. "Cih. Dia bilang tidak akan terlambat. Tapi lihatlah gadis itu bahkan belum muncul." gerutu Elston layaknya anak kecil yang sedang merajuk. Dan cibiran Elston masih bisa di dengar oleh Bones. Bahkan sangat jelas.
"Ini memang belum jam nya nona Mia untuk bekerja tuan." jelas Bones dengan nada ramah.
Elston diam sejenak, seraya mencari-cari di mana letak jam dinding nya. "Benarkah?"
"Benar tuan. Jam bekerja nona di mulai 30 menit lagi. Apakah anda memerlukan sesuatu?"
30 menit lagi? kenapa lama sekali. Apa gadis itu memang harus selalu tepat waktu?
"Ah, membosankan." gumam Elston malas. "Suruh dia langsung ke kamar ku saat dia tiba nanti. Katakan aku menunggu nya. Segera." Perintah Elston lagi.
"Baik tuan muda."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...