
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Ada apa? apa kau perlu sesuatu?" tanya Mia, yang langsung menyadari kedatangan Elston. Wajahnya menghangat. Sementara jantungnya mulai berdegup dengan ritme yang terasa asing.
Anehnya, tanpa Mia sadari, ia tak tahu sejak kapan, kehadiran Elston mulai mengusik hatinya. Apakah semua ini karena pernyataan itu? ataukah ada hal lain yang belum ia sendiri sadari.
Tapi yang ia tahu adalah, Elston yang sekarang ada bersamanya, adalah Elston yang berbeda dari Elston yang dulu.
Elston yang saat ini adalah Elston yang memiliki begitu banyak sisi baru yang mampu membuat perasaan Mia goyah. Sosok yang lembut dan hangat. Sosok yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Aku mencari mu." Tangan Elston melingkar dengan nyaman pada pinggang ramping milik Mia. Sementara gadis itu masih berdiri dengan nyaman di tepian kolam. Berusaha agar posisinya tidak membuat mereka marasa canggung. Meskipun harus ia akui bahwa saat ini ia merasa hangat karena ada seseorang yang mendekapnya erat.
...Ah ada-ada saja!...
Kenapa juga jantungnya harus berdebar seperti ini? padahal sebelumnya ia tak pernah tersipu meskipun Elston mencuri ciuman di pipinya. Tapi sekarang, hanya dengan jarak sedekat ini mampu menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya. Sesuatu yang mendebarkan dan mampu menghilangkan fokus dalam sekejap.
"Membutuhkan sesuatu?" Mia meneguk ludah gugup. Sedang pandangannya masih berusaha fokus pada pantulan kelap-kelip cahaya lampu yang berkilau di atas pantulan air kolam yang bening.
"Hem. Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan banyak hal."
Banyak hal? apakah ada sesuatu yang menganggu Elston? ataukah ini masih tentang aku dan hubungan kami? entahlah. Sebaiknya ku tanyakan saja.
"Boleh aku tau apa itu?"
Elston menyeringai samar. Sementara hembuskan nafasnya yang hangat membuat bulu kuduk Mia sedikit meremang. "Aku memikirkan tentang mu. Aku juga sedang bertanya-tanya kapan kira-kira kau akan membalas perasaanku."
Deg...
Ternyata benar.
Helaan nafas Elston seakan mengatakan bahwa perasaannya sudah cukup lelah. Lelah menunggu, mungkin. Namun anehnya, bibir itu tak ingin berucap sedikit pun. Tapi bagi Mia semua itu terlihat lebih jelas meskipun Elston tak mengatakan apapun.
Selama ini Elston telah melakukan banyak hal untuk dirinya. Menyayangi nya. Menjaganya. Mengajarkan banyak hal. Bahkan pria itu berubah demi dirinya. Dan sekarang, Mia harus membuat Elston menunggu jawaban atas pengakuan sebelumnya.
"Maafkan aku Els. Jika aku sudah membuat mu menunggu terlalu lama." Mia hanya tidak ingin menganggap enteng perasaan Elston. Karena Mia tahu bahwa Elston membawa seluruh ketulusannya saat mengatakan bahwa pria itu menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Aku masih belum bisa memberimu jawaban yang berbeda Els. Karena sekarang aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Kita yang saat ini membuat ku merasa nyaman dan juga aman."
Meskipun tahu jika jawabannya lagi-lagi akan membuat Elston kecewa, namun Mia tak menyesal mengatakan semua itu.
Karena bagi Mia, kejujurannya jauh lebih baik ketimbang ia harus mengatakan sesuatu yang tidak ia rasakan.
Semua itu karena Mia telah memutuskan untuk belajar menerima ketulusan Elston. Ia ingin agar perasaan mereka memiliki takaran yang sama. Karena itulah, Mia tak ingin tergesa-gesa dengan semuanya. Termasuk perasaan yang akan ia berikan.
"Kau tahu, aku begini bukan karena aku takut menjalin hubungan lain setelah hubungan pertamaku berakhir seperti itu. Tapi karena dirimu Els." Mia melepaskan tangan yang melingkar di pinggang nya dan mulai berbalik perlahan untuk menatap manik milik Elston.
Mia ingin memastikan bahwa Elston memahami maksud hatinya. "Kau yang membuatku merasa nyaman menjalani semuanya seperti ini." Bagi Mia, Elston sudah seperti seorang malaikat penjaga. Perasaannya akan selalu baik-baik saja setiap kali mereka bersama. Dan Mia juga berharap sebaliknya.
Tapi saat ini, semuanya hanya sampai di situ. Mia tidak merasakan hal lainnya lagi. Ia memang tak ingin kehilangan Elston, tapi ia juga tak ingin memaksa pria itu terus menyukai dirinya seandainya Elston tak bisa menunggu hatinya berubah. Selain itu, Mia juga masih memiliki ketakutan dalam hatinya.
"Aku tidak ingin merusak apa yang telah kita jalani hanya karena status Els. Kau mengerti maksudku bukan?" Mia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah ia lakukan dulu. Mia tak ingin terjebak pada kisah yang sama. Dan sungguh, Mia ingin menghapus semua kenangan itu dari hidupnya.
Saat itu, cintanya benar-benar terlalu naif. Tapi sekarang, ia tak ingin melakukannya lagi. Seandainya pun nantinya ia bisa membalas perasaan Elston, Mia ingin menjalani semuanya dengan benar. Secara perlahan, namun dengan rasa yang tepat. Bukan dengan sesuatu yang di paksakan.
"Aku hanya ingin kau menjadi milikku, Mia. Kau tahu bagaimana perasaan ku selama ini. Aku begitu menyukai mu. Dan jujur saja, aku juga merasakan ketakutan yang sama. Tapi meskipun begitu, aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar kata nyaman." Elston kembali mengeratkan pelukannya.
Mia bisa mendengar dengan jelas bagaimana jantung pria itu berdetak untuknya. Berbanding terbalik dengan yang Elston rasakan saat ini. Pria itu justru kembali diliputi oleh perasaan resah. Semua ini karena kata nyaman terkutuk itu.
Kata nyaman kini bagaikan tembok penghalang baru dalam hubungan mereka. Seharusnya kata itu tak pernah ada saja dalam dunia ini. Seharusnya hanya kata; Ya. Aku bersedia, dan aku mau. Hanya tiga kata itu yang boleh ada diantara dirinya dan Mia. Tidak dengan kata lainnya.
Elston selalu menginginkan hal itu dari Mia. Saling mengisi dan juga saling memberi tanpa rasa sungkan, balas jasa, ataupun terpaksa.
"Kau tahu. Aku selalu merasa frustasi memikirkan bagaimana jika orang lain juga menginginkan apa yang aku inginkan. Menyukai wanita yang kusukai. Dan mengagumi apa yang juga ku kagumi. Sama seperti sebelumnya. Dan kau tahu bagaimana semua itu bisa saja terjadi bukan?"
Membayangkan hal itu saja sudah membuat Elston marah dan terluka, apalagi jika semua ketakutannya menjadi kenyataan.
"Kau berlebihan Els. Aku tidak semenarik itu."
"Cih. Kau saja yang tidak tahu."
Elston menggerutu layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk. Karena ia tahu, Mia adalah bunga yang mampu menarik begitu banyak lebah. Karena itulah ia selalu merasa takut.
"Tapi aku tidak akan memaksa mu Mia. Karena aku sungguh-sungguh menyukaimu Mia. Aku hanya ingin agar kau memberiku kesempatan, dan membuka hatimu. Perlahan saja." pinta Elston dengan lembut.
Dan hal itu jugalah yang saat ini sedang kulakukan Els..Aku sedang mencobanya. Untukmu. Batin Mia.
__ADS_1
"Aku masih memiliki banyak waktu untuk menunggu, aku juga tidak akan kemana-mana, karena itu perlahan-lahan saja. Hem?"
Jika memang itu yang Mia butuhkan, tidak peduli berapa lama pun waktu yang di perlukan, Elston hanya akan berada ditempatnya - menunggu. Tapi entah sampai kapan ia harus seperti ini. Semua perasaan ini sungguh menyiksanya.
...❄️...
Mia sungguh berterimakasih atas perasaan Elston yang begitu tulus. Bahkan untuk kehidupan yang ia jalani saat ini. Semua kesempatan yang ia dapatkan, waktu yang mereka lewati bersama. Semua ini bisa terjadi bukan tanpa alasan.
"Kau sangat berharga bagiku Els. Dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan di masalalu." ketakutan Mia membuat dirinya tak bisa membalas ketulusan Elston begitu saja.
"Jika memang perasaan ini telah berubah karena mu, maka aku akan mengatakannya dengan mulut ku sendiri. Tapi kau tahu, bahwa aku tidak akan berbohong hanya demi membuat mu bahagia sesaat. Karena keinginanku, adalah lebih dari itu."
Elston tahu apa yang Mia maksudkan. Karena itulah Elston memutuskan untuk menunggu. Sebab yang juga ia inginkan adalah hubungan yang bertahan selamanya. Bukan sesuatu yang sementara. Dan sampai saat itu tiba, Elston akan tetap bertahan untuk Mia.
"Aku tahu Mia. Aku tahu. Karena itulah aku begitu menyukaimu. Karena kau adalah gadis penyihir yang selalu jujur. Kau tidak akan berbohong padaku. Aku akan memberimu waktu sampai kau menyadari bagaimana perasaan mu sendiri."
Elston masih bisa menunggu. Hanya saja, ia tidak tahu berapa banyak lagi waktu yang ia punya. Karena ia hanya manusia, bukan sang pembuat takdir. Tapi kejujuran Mia sudah mampu membuat hatinya jauh lebih tenang.
"Boleh aku memeluk mu lebih lama? Aku hanya ingin seperti ini sebentar saja." Elston akan merindukan rasa ini. Kedekatan ini, dan juga kehangatan ini.
Tangan lembut yang menepuk punggungnya, membuat Elston merasa enggan untuk melepaskan Mia. "Kau jahat sekali. Kau adalah gadis penyihir pertama yang ku temui seumur hidupku."
Memikirkan waktu yang tersisa di antara mereka membuat hati Elston kembali terenyuh. Ia sungguh tak ingin meninggalkan Mia. Tapi ia tetap harus melakukan itu.
"Aku pasti akan sangat merindukan mu Aprhodite ku."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...BONUS!...
...Elston sebagai pria pesolek......
...VS...
__ADS_1
...Elston yang jatuh cinta pada Mia.....