
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Satu Minggu yang Mia lalui ternyata lebih tenang dari apa yang ia harapkan. Baik Elston ataupun Owen, tidak satupun dari keduanya yang datang secara tiba-tiba untuk menemuinya.
...Semuanya terasa kembali pada satu waktu sebelum mereka saling terlibat satu sama lain....
Bukan berarti Mia tidak memikirkan nya sama sekali. Hanya saja, ia memilih untuk mengabaikan semua itu, dan lebih memilih untuk fokus pada diri sendiri.
"Mia. ini laporan yang harus kau bereskan. Jika sudah selesai, segera berikan pada Mrs. Olivia." kata Maurin yang adalah rekan sekerja Mia.
Saat ini Mia sudah resmi menjadi salah satu pegawai di perusahaan mode milik sahabat Elston. "Baiklah. Aku akan segera menyelesaikan nya." sahut Mia, menerima beberapa tumpukan berkas dari Maurin.
Mia cukup merasa senang karena akhir-akhir ini ia hanya disibukan oleh pekerjaan. Meskipun terkadang ada saja kiriman yang datang untuk dirinya. Tapi Mia tidak mau ambil pusing dengan hal-hal tersebut. Ia hanya ingin bekerja dan menemukan lagi apa yang telah hilang dari dirinya.
"Akkhh.. akhirnya selesai juga." Mia merenggang punggung nya yang terasa kaku. Sudah hampir tiga jam ia berada di depan komputer nya.
Tok..Tok.. Suara ketukan jari di atas pembatas meja kerja Mia. Dan Maurin lah yang saat ini berdiri di sana.
"Hei, mau makan siang bersama? hari ini orang-orang dari tim pemasaran ingin mentraktir kita." kata Maurin tersenyum senang.
"Sepertinya mereka ingin merayakan pencapaian mereka bulan ini. Tapi apakah tidak masalah jika aku ikut bergabung?" ujar Mia. Ia cukup tahu diri jika ia adalah pegawai baru di sana.
Menurutnya sedikit tidak etis, dirinya yang baru saja bergabung dalam perusahaan tersebut ikut merayakan sesuatu yang dilakukan oleh rekan-rekan senior dikantornya.
Apalagi Mia belum mengenal banyak orang kecuali Mrs. Olivia, Maurin, dan beberapa rekan satu divisi nya.
"Tidak apa-apa. Justru merekalah yang ingin kau ikut. Karena itu aku bertanya padamu." sahut Maurin yang saat ini tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Mia.
"Lagi pula anggap saja ini sebagai cara untuk menghemat uang makan siang." tambah gadis berambut sebahu dengan wajah oval yang cukup manis.
"Yah. Baiklah. Kalau begitu aku akan ikut." turut Mia menerima ajakan para seniornya. "Tapi sebelum itu aku harus menyerahkan ini." Mia menunjuk pada laporan yang sudah ia cetak.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu dilantai dua bersama dengan rekan-rekan tim yang lain."
Setelah memberikan laporan nya pada Mrs. Olivia, Mia pun turun ke lantai dua, dimana Maurin dan rekan-rekan lainnya sudah menunggu.
"Mia, di sini?" Maurin melambai pada Mia. Di dekat wanita itu sudah berkumpul lima orang lainnya yang juga menunggu bersama-sama dengan Maurin.
Dua orang wanita dan tiga lainnya rekan pria. "Apa aku terlalu lama? maaf sudah membuat kalian menunggu lama" ujar Mia merasa sungkan.
"Kau ini bicara apa sih. Santai saja. Ayo sini. Mari ku perkenalkan kau pada teman-teman dari tim pemasaran. Aku sudah mengenal mereka semua cukup lama. Jadi santai saja." kata Maurin memaklumi.
Mia merasa sedikit lega karena ia bisa dekat dengan wanita seperti Maurin. Selain ramah, Maurin juga sering membantunya dalam urusan pekerjaan.
"Teman-teman perkenalkan. Ini Mia. Anak baru di divisi kami. Meskipun dia masih baru, tapi pekerjaannya tidak perlu diragukan." ujar Maurin memperkenalkan Mia pada teman-teman nya.
"Hai Mia. Aku Gaby." Sapa wanita pertama. Wanita yang terlihat ramah dengan tatapan sedikit tajam. "Aku Lucy." timpal wanita kedua. Mia mengulurkan tangan dan menyambung tangan rekan-rekan lainnya. "Hai. Aku Mia. Mohon bantuannya."
"Nah. Kalau yang ini, Frans." Ujar Maurin, pada pria yang paling tinggi dari dua pria lainnya. Pria itu terlihat ramah, dan senyumnya juga manis. "Hai Mia. Senang bertemu dengan mu." katanya mengulurkan tangan.
"Yang di sebelah sana Jerry, dan yang itu Antonio." lanjut Maurin.
"Nah, aku rasa cukup untuk sesi perkenalan nya." Sela Maurin buru-buru. "Bisakah kita langsung pada intinya saja. Aku sudah sangat lapar." Maurin sedikit merengek.
"Kau benar. Aku juga." tambah Lucy lebih bersemangat. "Kalian kan memang selalu lemah jika sudah berkaitan dengan makanan." Gaby juga ikut berkomentar.
"Sudahlah. Ayo. Jam makan siang kitakan terbatas." Pria yang bernama Jerry menyela ketiga nya, membuat mereka semua mengangguk samar.
"Kalau begitu ayo. Makanan sudah menunggu kita." seru Maurin yang langsung melangkah dengan semangat diikuti rekan lainnya.
"Hei.. kau harus terbiasa dengan pemandangan seperti ini." Frans yang berjalan di sisi Mia membuka suara. "Aku tidak masalah. Aku justru senang bisa memiliki rekan kerja yang ramah dan ramai seperti ini."
"Aku harap kau tidak keberatan jika kita akan sering bertemu nanti." Frans tersenyum, sambil menyamakan langkah dengan rekan-rekan di depannya. "Kami sudah mengenal sejak awal bergabung di perusahaan ini tiga tahun lalu." laki-laki itu mulai bercerita.
"Dan kalian semua dekat sejak saat itu?" tanya Mia mengimbangi. "Tidak semua. Aku dan Maurin sudah mengenal sejak pertama. Kami bahkan diterima diwaktu yang sama."
"Dan yang lainnya menjadi dekat karena kami berada dalam satu tim." Sambung Frans. "Seperti nya aku akan iri dengan pertemanan kalian." sahut Mia. Selama ini ia tidak punya seseorang yang bisa disebut teman, selain dari Elston.
__ADS_1
Dan saat ini, ia dan Elston pun bahkan sedang menjaga jarak. "Kalau begitu kau harus sering-sering bergabung bersama kami." tambah Antonio yang ternyata mendengar percakapan keduanya.
"Aku..?"
"Itu benar Mia. Lagi pula kami tidak keberatan jika bertambah satu anggota lagi." Kali ini Frans lah yang bersuara.
"Hei.. jangan coba-coba mendekati gadisku." Maurin Manarik tangan Mia. "Kau akan dimangsa jika dekat dengan para buaya ini." wanita itu tersenyum mengejek pada ketiganya.
"Nah, Mia. Kau ikut dengan kami saja. Bukankah wanita harus lebih dekat dengan kaum wanita?" Kini Gaby lah yang ikut menggandeng tangannya.
"Ya.. Yah.. terserah kalian saja. Aku justru akan sangat berterimakasih." Mia tersenyum pasrah. Dalam hati ia sangat bahagia karena sudah dikelilingi oleh orang-orang baik dan ramah seperti Maurin dan lainnya.
...❄️❄️...
Setelah makan siang berakhir, dan mereka ingin kembali ke kantor, tiba-tiba saja seorang kurir menghampiri Mia di depan restoran.
"Nona. Kiriman bunga untuk anda." katanya menyerahkan sebuket mawar dengan ukuran yang cukup besar.
"Bunga? untuk ku?" ujar Mia yang sedikit keheranan. Bagaimana bisa seorang kurir menemukan dirinya ditempat itu.
"Benar nona. Disini jelas tertulis nama anda, Mia Allura." kata si kurir meyakinkan.
"Wah... dari siapa. Kekasih mu? kau sudah punya kekasih?" tanya Maurin terlihat lebih antusias dari pada Mia yang mendapatkan kiriman bunga tersebut.
"Silahkan tanda tangan di sini nona." kata kurir itu lagi. Setelah Mia membubuhkan tanda tangannya, bunga pun diserahkan padanya tidak lupa juga dengan kartu ucapan yang di tulis langsung oleh si pengirim.
...To: My sugar palm...
..."Semoga harimu selalu menyenangkan, dan kau bisa terus tersenyum seperti saat ini. Yang selalu mencintai mu. Owen."...
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1