OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-15


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Bertemu Mia adalah hal yang sangat Owen nantikan. Sejak pertemuan terakhir mereka tentang tugas dan juga.. Ah lupakan. Owen tidak ingin mengingat bagaimana terakhir kali ia bersikap pada pertemuan mereka siang itu.


Meskipun Owen sudah berusaha keras, tetap saja hatinya merasa tidak tenang. Ia merasa, seperti telah melakukan kesalahan terhadap Mia. Sejujurnya Owen memang melakukannya.


Apakah karena tatapan Mia hari itu?


Ataukah karena...


Tidak. Aku tidak bisa terus membuat alasan. Aku salah karena telah mencampur aduk antara masalah pribadiku dengan Vivian terhadap respon yang ku berikan untuk Mia.


Padahal gadis itu tidak salah. Mia pastilah sangat terkejut. Dasar bodoh. Owen kau memang bodoh! rasa bersalah itulah yang terus mengikuti Owen dan membuat nya tidak bisa berkonsentrasi akhir-akhir ini.


Sejak beberapa hari yang lalu, Owen sudah berencana untuk bicara dengan Mia. Owen ingin minta maaf dan meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Hanya saja ia tidak tahu alasan tepat apa yang harus ia gunakan agar gadis itu mau meluangkan waktu nya walau hanya sebentar.


Dan sekarang, ketika Owen memikirkan Mia, gadis itu mengirimkan pesan.


...Benar-benar sebuah keberuntungan....

__ADS_1


...❄️❄️...


...Apartemen...


Owen mondar-mandir tidak sabaran di depan pintu apartemen. Ia juga sering melirik ke arah tangga hanya untuk melihat kapan Mia akan datang.


Gadis itu mengatakan akan kembali pukul 7 malam. Dan jam saat ini sudah menunjukkan pukul 6 lewat 45 menit. Yang artinya sebentar lagi Mia akan terlihat dari sana.


Tapi kenapa aku harus merasa seperti ini? apa aku terlalu berlebihan? Ah.. hatiku.


Sejak kapan hatiku begitu lemah terhadap gadis kecil itu? gadis itu terlalu menarik perhatian. Dasar penyihir kecil.


"Astaga!"


"Apa aku mengagetkan mu?" Ah, wajah polos itu. Kenapa manis sekali..? Owen terpaku pada tatapan yang Mia berikan. Padahal Mia hanya memberikan reaksi alaminya. Tapi hati Owen mengatakan bahwa gadis itu sengaja memberikan pesona yang memikat.


Ayolah Owen. Kenapa kau selemah ini. Itu hanya warna merah jambu.


Merah jambu?


What? apa yang ku pikirkan! Sadarlah!


"Ya. Tidak. Maksud ku tidak." Owen merasakan wajahnya menghangat. "Tadi aku hanya... sedang memikirkan sesuatu."

__ADS_1


...Memikirkan sesuatu? apa tentang tunangannya? apa aku salah mengajaknya bertemu sekarang?...


Mia mengangguk samar, "Baiklah. Aku kira kau sedang dalam masalah. Kau terlihat begitu kalut." Begitu Mia menyebut nya. Ia tak ingin menyinggung hal lain. Bisa-bisa ia kembali mendapatkan tatapan dingin dari pria di depannya.


"Karena itu aku tidak memanggil mu." tambah Mia. Itu karena dirimu gadis kecil. Kau yang mengacaukan hatiku. Ah, seharusnya Owen mengatakan isi kepalanya secara terang-terangan.


Tapi ia tidak bisa berlaku ceroboh seperti itu. Bagaimana pun Mia masih mahasiswinya. Dan Owen tidak ingin membuat Mia takut atas alasan apapun. Terutama jika alasan itu adalah dirinya.


"Kalau tidak keberatan aku ingin membersihkan diri sebentar sebelum kita bicara." Mia tersenyum lembut, dan Owen kembali merasakan bahwa jantungnya mulai beraksi berlebihan terhadap senyuman itu.


"Ya. Tentu. Aku juga akan membersihkan diri." sahut Owen berdebar. Meskipun sebelumnya Owen sudah mandi, tapi sepertinya ia perlu membasuh wajah untuk menghilangkan pikiran konyol yang baru saja memporak porandakan akal sehatnya sebagai seorang pria dewasa.


Sekali lagi Mia tersenyum, "Kalau begitu sampai nanti." dan kali ini Owen harus menjawabnya tanpa terdengar canggung, "Sampai nanti Mia." Yes. Berhasil. Ah, mulut sialan.


Kenapa susah sekali bersikap biasa saat ia bersama Mia? dan sejak kapan hatinya berubah seperti ini?


Owen berubah gusar karena tak mengerti dengan dirinya sendiri. Sepertinya ia memang telah jatuh hati. Dan kali ini, ia tak bisa mengendalikan perasaannya lebih lama saat berhadapan dengan Mia.


"Apa aku harus menyatakan cinta? Tapi bagaimana jika Mia menolak ku?"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2