
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Nona Mia. Hanya ini tawaran terbaik yang bisa ku berikan padamu." Nyonya Brondlin menghela nafas singkat. "Mengingat latar belakang pendidikan dan juga," Mia mengerjap.
Kata-kata itu tak dilanjutkan lagi. "Aku hanya bisa membantu mu sampai di sini saja." Nyonya Brondlin melanjutkan.
Secarik kertas yang berada di depan Mia adalah salah satu pekerjaan yang di sediakan oleh perusahaan jasa milik keluarga Brondlin. Pekerjaan yang sudah banyak di tolak oleh para gadis pencari kerja seperti dirinya. Tidak heran.
Semua orang akan cenderung mencari pekerjaan yang mudah dilakukan dan juga tidak menanggung banyak resiko. Sisanya, akan terabaikan seperti secarik kertas yang terlihat cukup usang yang saat ini ada di depan Mia.
"Apakah tidak ada yang lain lagi nyonya?" Mia memelas. "Kau sudah tahu bagaimana caraku bekerja bukan? Aku juga tidak pernah mengecewakan para klien anda. Ku mohon untuk kali ini saja. Aku sangat membutuhkan pekerjaan untuk membayar biaya sekolahku semester ini." Dan biaya hidup, tentu saja. batin Mia meringis.
Mia tidak tahu lagi harus mencari pekerjaan kemana. Selama ini hanya penyedia jasa milik keluarga Brondlin lah yang selalu membantu dirinya dan juga orang-orang seperti Mia diluar sana.
Setiap kali ada pekerjaan yang menjanjikan tentu saja yang juga disesuaikan dengan potensi dan kinerja dari si pekerja, maka Mia lah orang pertama yang akan mendapatkan tawaran tersebut.
Selain karena wajahnya yang rupawan, Mia juga sangat cakap dalam bekerja. Gadis itu juga pandai bersosialisasi, dan hampir tidak pernah mengeluh dalam melakukan pekerjaannya. Karena itulah, semua klien sangat puas dengan kinerja yang Mia berikan.
Tapi kali ini, seperti nya bahkan Mia sendiri pun kesulitan untuk mendapatkan salah satu dari beberapa lembar tumpukan yang di letakan di sisi nyonya Brondlin.
Nyonya Brondlin menarik pelan kerah bajunya yang terlihat sedikit menjuntai, kemudian menyatukan kedua alisnya yang hitam tegas.
"Maafkan aku Mia. Hanya ini satu-satunya pekerjaan. Lagi pula aku yakin hanya kau yang bisa melakukannya. Pekerjaan ini terlihat tidak terlalu sulit untuk mu. Dan jika kau melihat bayarannya, aku rasa kau tidak akan kecewa." Keputusan ternyata sudah di tetapkan.
Mia menunduk pelan. Ia bingung harus menerima atau menolak pekerjaan tersebut. Jika ia tolak, maka ia harus siap dengan resiko putus sekolah. Tapi jika di terima,-
Tangan Mia terulur lemah saat meraih selembar kertas yang ada di depannya. "Baiklah Nyonya. Terimakasih untuk kebaikan anda." ucap Mia, mulai mengumpulkan semangat nya.
'Menjadi wanita pendamping' adalah pekerjaan yang tertulis di sana. Mia hanya bisa menghela nafas berat saat membacanya. Ia tidak tahu orang seperti apa yang akan dilayani nya kali ini.
Sudah cukup bagus jika orang yang akan menjadi tuan atau nyonya nya merupakan seseorang yang baik hati seperti keluarga Franklin, ataupun sir Thomas yang selalu memberinya tips lebih di akhir kontrak.
Tapi jika majikan pelit dan cerewet, maka Mia benar-benar harus mempersiapkan dirinya untuk bertarung. Ini sudah menjadi takdir hidupnya. Lagi-lagi ia harus bekerja lebih keras.
...❄️❄️❄️...
__ADS_1
...MENSION ELSTON...
...Tok..Tok.....
Suara pintu di ketuk dengan cukup lantang. Siapapun yang melakukan itu pastilah bukan orang asing. Melainkan seseorang yang cukup mengenal Elston, seseorang yang tahu jika dirinya benci keributan ,dan juga di ganggu. Tapi tetap saja dilakukan..
Dengan enggan Elston menjulurkan kakinya yang panjang untuk menekan tombol 'open'.
"Tuan muda. Apakah saya mengganggu?" suara yang tidak asing masuk memenuhi inderanya. Itu adalah Bones. Satu-satunya pelayanan yang Elston ijinkan untuk berada di dalam istana keagungan miliknya. Begitulah cara Elston menyebut Mension pribadinya.
"Ai..ai.. Kenapa kau harus bertanya jika kau sudah tahu jawabannya Bones. Kau sungguh tidak tahu diri." Elston menghalau dengan tangannya yang bergerak gemulai.
"Katakan, ada apa kau menemui ku di saat seperti ini? apa orang tua itu mengirimkan seseorang lagi?" Elston memicingkan mata curiga. Bones langsung menunduk. Senyum sinis tiba-tiba muncul diwajahnya.
"Ternyata benar." Kini Elston menutupi wajahnya dengan tangan. "Biarkan saja dia datang. Aku ingin tahu berapa lama yang kali ini akan bertahan." Ujar Elston tersenyum tipis.
Ibu tirinya sudah cukup sering melakukan hal seperti ini. Tujuannya tidak lain adalah untuk memata-matai apa saja yang Elston lakukan. Dan pada akhirnya, akan digunakan sebagai pisau untuk menusuk nya.
Tapi hal seperti itu tak akan mempan padanya. Elston terlalu pintar untuk di jatuhkan dengan cara murahan seperti itu.
Ia juga tidak perlu berusaha keras untuk menjauhkan orang-orang dari sisinya. Toh satu per satu semua orang akan pergi dengan sendirinya. Termasuk orang yang kali ini datang tanpa persetujuan darinya.
"Dia sudah ada di sini tuan. Nona Mia sudah menunggu anda di lantai utama." lapor Bones.
Dan sudah hampir sepuluh tahun lamanya Bones bekerja pada Elston. Dulu tuannya itu tidak seperti ini. Setelah pulang dari Francis, entah apa yang membuat tuan muda dari keluarga Stuard itu merubah dirinya secara total.
...❄️...
Elston bangun perlahan, namun masih duduk di atas ranjang. Sementara di tubuhnya ia masih mengenakan piyama yang panjangnya bisa di anggap terlalu berlebihan untuk ukuran yang dikenakan oleh seorang pria.
"Bagaimana tampangnya?" Bones mengernyit. "Wajah gadis itu!" lanjut Elston. "Apakah sama seperti yang biasanya? licik dan murahan?" senyum tipis penuh ejekan lagi-lagi begitu mudah Elston tunjukan.
"Nona Mia, terlihat berbeda tuan." lapor Bones. Sebab kali ini memang tidak seperti kebanyakan wanita yang di kirim sebelumnya. Elston mengerucutkan bibirnya yang berwarna kemerahan sisa riasan nya semalam.
"Ah, tipe yang baru rupanya. Bagaimana pun topengnya, isi mereka sama saja. Munafik dan tetaplah seorang parasit." sahut Elston bersikap acuh.
Elston melangkah ke arah lemari besar yang berisikan koleksi busana khas pria pesolek miliknya. Kali ini ia sudah sangat terbiasa dengan semua yang ia lihat. Warna-warna glamor dalam lemari bajunya. Perhiasan bernilai jutaan dolar. Koleksi sepatu, tas dan aksesoris lain yang tidak seharusnya berada di sana. Dikamar seorang pria..
"Ah,.. aku mulai bosan dengan permainan ini Bones." decak Elston. Rasanya Elston ingin sekali mencabik-cabik mereka semua orang yang memaksakan diri untuk terlibat dengan dirinya.
__ADS_1
...❄️❄️❄️...
...Sementara itu......
Raut wajah gadis itu jelas menunjukkan sedikit ketegangan. Namun dengan sikap yang profesional, ia terus mempertahankan posisi elegan yang sudah terlatih.
Meskipun Mia masih berusia muda, ia sudah terbilang cakap dalam berperilaku terpuji layaknya para wanita terhormat. Ia mempelajari hal itu untuk bertahan hidup di dunia yang tak dapat ia kendalikan ini.
Dalam keheningan yang cukup lama, tiba-tiba saja terdengar suara sepatu yang cukup keras menghentak membuat dada Mia ikut berdebar.
Dari langkahnya yang sedikit tidak sabaran dan sedikit sembrono, Mia sedikit bisa mendapat petunjuk, bahwa kali ini pastilah ia akan melayani seorang nona yang akan membuat nya cukup kesulitan. Manja dan arogan. Dua kata yang paling Mia benci.
Dengan senyum yang juga sudah terlatih, Mia bahkan sudah siap menunjukkan kesan pertamanya di awal pertemuan dengan majikan barunya.
...Jangan gugup Mia. Kau bisa melakukannya. Tersenyum lah seperti biasa....
"Inikah orang nya?"
Huh...? Orang ini? Mia kebingungan.
Elston yang kini tengah memperhatikan Mia memilih untuk bersender di ujung tangga dengan kaki menyilang.
Akibatnya piyama yang ia kenakan sedikit terjatuh dari bahunya, antara sengaja ataukan memang seperti itu, yang jelas adegan itu berhasil membuat bibir kecil berbentuk hati milik Mia menjadi sedikit terbuka.
"Ai.. ai...lihat bibir dan mata itu. Kau seperti ingin memakanku saja nona?" Elston tersenyum menggoda ketika menuruni tangga kemudian menghampiri Mia.
Ia mengelilingi gadis itu sekali untuk meneliti jenis yang seperti Mia. Memang berbeda. Ternyata Bones tidak salah saat menilainya.
Mia tidak tahu apa yang sedang ia lihat saat ini. Pria ataukah wanita? atau justru keduanya?
"Saya, tidak. Nona." Nona, benarkah caraku memanggilnya? Dahi Elston berkerut. Salahkah? "Maksud saya, tuan." Setelah itu Mia menutup rapat mulutnya.
Elston tersenyum samar, kemudian matanya terlihat seperti ingin menjauhkan Mia dalam sekejap.
...Ya Tuhan. Apa kali ini aku melakukan kesalahan..?...
"Elston." pria itu kembali bersuara. "Itu namaku. Dan kau bisa memanggilku begitu, atau mungkin kau punya panggilan yang sudah kau siapkan untuk ku, sayang."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...