
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Ciuman yang masih bertahan hingga beberapa menit yang lalu benar-benar membuat Mia mabuk kepayang.
Sentuhan bibir Owen begitu lembut dan mendebarkan. Membuat Mia tak bisa menolak. Mia bersumpah jika bibir itu akan membuat dirinya candu. Benar-benar candu dalam artian yang sebenarnya.
Sementara Mia masih larut dalam sensasi yang membuat dirinya mabuk kepayang, Owen justru terus memeluk Mia dan membuat gadis itu bersembunyi dengan nyaman dalam pelukannya.
"Aku tidak pernah membayangkan jika hari ini akan datang dengan cara seperti ini Mia." Ucap Owen dengan suara berat. "Kau tahu, aku selalu membayangkan bagaimana nantinya saat aku menyatakan perasaanku padamu." Owen merasa gemas.
"Diam-diam memperhatikan gadis yang ku sukai. Dan selalu berusaha untuk bersikap seadanya meskipun jantung ku berdebar cepat sungguh bukanlah sesuatu yang mudah untuk di atasi."
Mia pun merasakan hal yang sama seperti yang Owen rasakan. Hanya saja, Mia tidak akan pernah berani menyatakan perasaannya meskipun ia ingin. Dua orang yang benar-benar berbeda.
"Aku benar-benar bahagia Mia. Karena aku benar-benar menyukai mu. Sugar palm." Owen memeluk Mia semakin erat. "Bagaimana dengan mu?" tanya Owen.
Pertanyaan yang membuat degup jantung Mia semakin cepat..
Kenapa Owen harus bertanya. Padahal sangat jelas bahwa Mia telah menerima ciuman serta membalas ciuman lembut dari bibir Owen. Kenapa pria itu tidak bisa menyadarinya dari hal besar seperti itu. Pikir Mia, malu.
"Mia?" panggil Owen menyentak kesadaran Mia hingga kembali pada tempatnya. Punggung Mia kembali kaku. Ada perasaan aneh yang menjalar di sana.
Dengan mata yang berbinar Mia menatap Owen yang begitu dekat dengan dirinya. Mata indah yang selama ini Mia kagumi. Dan mata yang akan menghanyutkan dirinya hingga lautan terdalam.
Mia Bergerak gelisah; "Apa tadi aku menolak ciuman mu?" ujar Mia dengan pipi bersemu. Melihat sikap malu-malu Mia membuat Owen merasa gemas.
Dengan kesadaran penuh Owen membalas tatapan Mia seraya menggeleng ragu. Karena ciuman bukanlah patokan dari sebuah perasaan. Menurut Owen.
"Seharusnya kau tahu apa jawabannya. Kenapa kau harus bertanya lagi." ucap Mia yang langsung tertunduk untuk menghindari tatapan Owen. Mia benar-benar harus menetralkan laju jantung nya.
__ADS_1
Jantung sialan yang berdegup seenaknya. Sedangkan di sisi lain Owen justru tengah memamerkan senyum simpul yang begitu menawan. Pikiran nya kini di penuhi oleh berbagai kemungkinan, tapi sepertinya lebih mengarah kepada hal yang baik.
"Apa itu artinya kau juga menyukaiku Mia? kau sungguh-sungguh? Kau juga merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padamu?" Owen memastikan sekali lagi. Mia pun menjawab dengan anggukkan malu-malu.
Dan anggukan Mia yang samar membuat dunia Owen terasa berbeda. Seperti seluruh hidupnya telah di banjiri oleh sesuatu yang begitu membahagiakan.
"Aku mencintaimu." kata Owen yang langsung memeluk Mia karena perasaan bahagia yang meluap-luap.
Ini sungguh hal yang sangat luar biasa bagi Owen. Cinta nya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
"Sekarang kau sudah menjadi kekasihku. Aku akan memberimu banyak cinta. Hidup ku hanya akan ku persembahkan kepadamu setiap harinya sugar palm."
"Aku menantikan hal itu Owen."
...❄️...
...Keesokan harinya......
Mia yang baru saja tiba di Mension diantarkan oleh Owen yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya, terlihat lebih ceria.
Mungkin inilah yang disebut dengan aura seseorang yang sedang kasmaran. Rasanya baru kemarin ia meratapi diri dengan begitu sedih, tapi hari ini keadaan sudah berbalik sepenuhnya.
"Selamat pagi Bones." Mia memberikan senyuman terbaiknya. "Selamat pagi nona Mia." Bones memperhatikan Mia dengan seksama.
"Apa ada hal baik yang terjadi nona? anda terlihat berbeda." kata Bones yang turut senang dengan perubahan sikap Mia.
"Tentu saja Bones. Ada hal baik yang tiba-tiba saja terjadi padaku. Dan aku benar-benar sedang bahagia." Mia berseri-seri.
"Mau ku buatkan sarapan? bagaimana dengan tuan muda? apakah tuan muda sudah bangun?" Oh Mia. Mia. Tolong kendalikan dirimu.
Bones tersenyum ramah. "Terimakasih nona. Saya sudah sarapan, dan tuan muda,-
"Iiisss... Iiisss... gadis kecil.." sela Elston yang berhenti di pertengahan tangga. "Suaramu sampai memenuhi seluruh bangunan ini." Sejak mendengar keributan yang di timbulkan oleh Mia Elston pun diam-diam mengamati keduanya.
__ADS_1
"Selamat pagi yang Mulia Elston." Sapa Mia yang juga langsung menghampiri tuan mudanya itu. Elston memicingkan matanya pada Mia.
"Apa kau sangat senang?" sindir Elston kemudian turut tersenyum. Bagaimana Mia tidak bahagia jika gadis itu baru saja kejatuhan uang runtuh dari dalam rekeningnya. Elston tidak menyangka jika memberikan uang jajan untuk Mia membuat gadis itu sebahagia ini. Pikir Elston.
"Ayo naik ke kamar ku. Aku harus bersiap-siap." perintah Elston.
"Kau akan pergi?"
"Bukan hanya aku. Tapi kita. Kau akan ikut dengan ku."
"Kemana?"
"Menghabiskan 30.000 dollar mu?" sahut Elston asal.
Mia berhenti di tengah-tengah tangga dengan wajah yang menunjukkan ketidaksetujuan.
"Els... ayolah." rengek Mia. "Kenapa harus uang ku? meskipun itu uang terbanyak yang ku miliki, dan uang itu berasal darimu, tapi aku tidak akan menggunakan nya untuk berfoya-foya." ucap Mia dengan wajah masam.
Elston berbalik dan membulatkan matanya, "Naik sekarang atau ku pecat? dasar gadis jahat!"
"Yang jahat itu kau. Dasar penyihir!" balas Mia.
"Kau yang penyihir."
"Kau ibunya penyihir!"
"Kalau begitu kita berdua keluarga penyihir terkaya di dunia."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1