OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-07


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...SEAM GROUP...


Ruang rapat tengah diramaikan dengan perbincangan siapa yang nantinya akan menggantikan posisi Hilbert Reaghal sebagai pimpinan di SEAM GROUP.


Semua orang mengetahui bahwa pria itu tidak menikah lagi sejak istri pertamanya meninggal dunia puluhan tahun silam. Sedangkan putra Hilbert satu-satunya pun kini tidak diketahui keberadaannya.


Putranya langsung menghilang sejak skandal terakhir yang menghebohkan perusahaan saat berusia dua puluh. Sejak saat itu bahkan nama putra Hilbert selalu menjadi incaran awak media.


Karena ketidakberadaan putra Hilbert itulah semua orang kini mulai berspekulasi dengan pemikirannya masing-masing.


Namun Hilbert tidak pernah menghiraukan masalah tersebut. Baginya, dimana pun putranya saat ini, ia akan langsung kembali begitu Hilbert memintanya.


Tapi Hilbert tidak akan melakukan hal itu sekarang. Putranya terlalu berharga jika hanya untuk memenuhi keingintahuan publik semata.


"Jika tidak ada lagi yang perlu di bahas. Saya rasa rapat cukup sampai disini." Hilbert bersuara untuk menutup rapat yang masih berlangsung.


Vivian dan beberapa kepala bagian lainnya pun langsung bergegas keluar dan berjalan mengikuti di belakang Hilbert.


"Nona." Drigo memberi isyarat saat wanita itu memasuki lorong bersama para petinggi perusahaan lainnya.

__ADS_1


Sesaat setelah Hilbert memasuki lift Vivian hanya berdiri di tempatnya seraya memberi hormat. Setelah pintu tertutup, Vivian langsung berpaling kepada Drigo.


"Saya sudah mengerjakan apa yang anda minta nona." Drigo memberikan sebuah amplop kepada Vivian. Amplop tersebut adalah laporan terperinci mengenai putra tunggal pemilik SEAM GROUP. Owen Reaghal.


Vivian membaca dengan seksama. "Kerja bagus Drigo. Aku akan segera menemui tunangan ku tersayang." Vivian tersenyum sinis, kemudian berbalik dengan arogan.


Bagi Vivian, sudah cukup waktu yang dihabiskan Owen untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya. Sejak berita tentang dirinya dan Owen hari itu, Vivian sudah cukup bersabar untuk menghadapi Owen.


Pria itu melarikan diri begitu saja setelah mengakhiri semuanya. Tapi Vivian bukanlah gadis lemah yang akan menerima semua keputusan begitu saja.


Ia percaya diri jika dirinya akan mampu mewujudkan semua mimpinya selama ini.


...❄️❄️❄️...


Mia menggosokkan tangannya dengan perlahan di atas pundak Elston yang telanjang. Berbeda dengan pembawaan pria itu yang begitu gemulai, tubuh pria itu justru menunjukkan hal sebaliknya


Jika ingin mengatakan yang sebenarnya, pijatan Mia hanya seperti sebuah belaian di bahu Elston. Tapi Elston justru menyukainya. Tangan gadis itu membantu nya untuk bisa tidur lebih lama lagi.


Dan...


Tidak. Sadarlah Elston. Jangan berpikiran seperti itu!


"Pertahankan saja ritme mu. Kau bisa melakukannya sampai aku tertidur." sahut Elston dengan suara yang terdengar keenakan.


Mia pun merasa cukup puas dengan caranya bekerja. Selama hampir dua minggu bekerja bersama Elston, bisa dikatakan bahwa pria itu belum pernah menyulitkan dirinya. Kecuali beberapa tingkah aneh yang kadang tidak sengaja Mia jumpai dari sosok itu.

__ADS_1


Tuan mudanya itu adalah sosok yang benar-benar tidak bisa di bayangkan.


"Baiklah. Tidurlah dengan nyaman. Setelah ini aku akan menyiapkan makan siang mu." Tangan Mia menerapkan sentuhan nya dengan konsisten.


Jika Elston mudah ditangani seperti ini, maka Mia akan memiliki cukup waktu untuk membagi kegiatan nya dengan tugas-tugas yang masih menumpuk.


"Seperti biasanya, aku akan pergi ke sekolah setelah jam makan siang, dan aku akan kembali pukul tiga. Aku akan pergi dengan tenang tanpa membangunkan mu." Mia bicara dengan memelankan suaranya.


"Biarkan supir mengantar mu gadis kecil." sahut Elston terdengar serak.


Mia sedikit tersentak mendengar suara pria itu. Mia kira Elston sudah tertidur, tapi nyatanya pria itu masih saja terjaga "Tidak usah. Aku bisa sendiri. Jangan membuat Bones lelah dengan urusan ku Els. Itu tidak baik bagi pria seusianya." tolak Mia merasa sungkan.


"Aku tidak suka kau datang terlambat. Aku membutuhkan mu nanti. Kau akan menemani untuk pergi ke pesta." sahut Elston terdengar seperti perintah. Tapi Mia masih berusaha untuk menolak,


"Tapi aku bisa.."


Elston berbalik hingga wajahnya bisa melihat binar ketidaknyamanan di mata Mia. "Jangan membantah ku gadis kecil. Ini perintah dari tuan mu." kata Elston tegas sambil menyipitkan matanya. Jika sudah begini Mia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Selain menuruti perintah mutlak dari pria di depannya.


"Aih. Baiklah." sahut Mia tidak berdaya. "Terserah kau saja."


"His! kata-kata itu milikku. Kau sungguh tak kreatif."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2