OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-56


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Di parkiran apartemen. Elston sudah menunggu Mia. Gadis itu menghubungi dirinya pagi-pagi sekali, karena itulah Elston berada di sana.


Saat melihat Mia di ujung tangga, Elston segera keluar dari dalam mobil. Melihat wajah gadis itu, Elston tahu jika sesuatu sudah terjadi. Mata Mia memancarkan kesedihan yang begitu nyata. Bahkan ada bekas-bekas air mata yang membasahi bulu mata lentik miliknya.


"Aku sudah melakukannya Els. Aku sudah melakukannya." lirih Mia. Hatinya terasa begitu sesak. "Aku sudah mengakhirinya. Ku rasa aku juga sudah melukai hatinya." Mia menangis sesenggukan.


Elston meraih Mia dan menenangkan gadis itu dalam pelukannya. "Sssttt. Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang terbaik Mia. Kau sudah melakukan nya. Kau gadis yang sungguh berani."


Dalam pelukan Elston Mia membenamkan wajahnya. Meskipun ia sudah mengakhiri hubungannya bersama Owen, hati Mia tetap saja merasakan sakit. Entah kenapa, ia merasa jika bukan hal seperti ini yang seharusnya terjadi.


Seharusnya ia merasa lega dan bahagia. Tapi kenapa justru sebaliknya. Mia merasa semakin terluka. Hatinya benar-benar terasa perih. Lukanya kembali tersirami dengan kenyataan berakhir nya hubungan mereka berdua.


"Kita pergi sekarang. Ayo." Mia mengikuti Elston untuk masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan apartment nya.


...❄️❄️...


...SEAM GROUP...

__ADS_1


"Tuan." sekertaris pribadi Owen menunggu di depan ruang kerjanya. Untuk saat ini sesungguhnya Owen tidak ingin mendengar apapun dari siapa saja. Ia juga sedang tidak ingin melakukan apapun. Selain datang dan diam.


Tapi ia tidak bisa melakukan itu. Owen harus bekerja, dan membereskan semua masalah yang telah terjadi sebelumnya. Ia hanya akan menyimpan kesedihan di hatinya untuk ia ratapi nanti.


Meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja. Owen tetaplah seorang pemimpin. Ia harus menjalankan perusahaan seperti semua baik-baik saja. Karena itulah; mulai hari ini ia tidak bisa menunjukkan sisi lemahnya pada siapapun.


"Aku akan menemui Direktur utama." kata Owen. Ada hal yang harus segera ia lakukan. Jika kali ini ia kembali menunda, ia tidak tahu apa lagi yang akan ia hadapi di kemudian hari.


"Baiklah tuan."


Di ruangan papanya, sekali lagi Owen harus bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ingin ia temui. "Papa." Hilbert berwajah kaku, namun dalam hitungan detik, ekspresi wajah itu berubah hangat. Owen tidak peduli dengan orang lain yang ada di sana.


"Kemari lah son. Kebetulan sekali kau datang. Aku sedang membicarakan proyek baru yang akan kita kerjakan. Tapi aku tidak tahu, harus meminta siapa yang akan pergi untuk melakukannya." Hilbert melirik sesaat pada Vivian.


"Bagaimana jika kau saja yang pergi untuk melakukan pekerjaan itu." Owen tahu tentang rencana baru SEAM GROUP. Mereka sudah membicarakan nya minggu lalu.


"Tapi uncle," sela Vivian. "Owen adalah seorang direktur, bagaimana bisa dia sendiri yang pergi. Sedangkan uncle juga tahu, jika projek itu akan,-


"Tenang saja Vivian. Bukankah aku ada di sini. Aku masih bisa menggantikan posisi putra ku sama seperti sebelumnya." sela Hilbert. Meskipun menyukai Vivian, tapi Hilbert tetap akan memilih putranya.


"Aku akan pergi papa. Aku akan minta sekertaris ku mengurus semuanya. Lebih cepat lebih baik." setelah mengatakan itu, Owen langsung pergi meninggalkan ruangan Hilbert.


Sebelumnya Owen ingin mengusulkan tentang mutasi untuk Vivian. Tapi mengingat posisi wanita itu serta kontribusi nya selama ini, seperti nya Owen tidak bisa menyingkirkan Vivian begitu saja.

__ADS_1


Karena itulah, seperti nya harus dirinya yang pergi dan menjauh dari sumbernya kekacauan dalam hidupnya. Dan juga untuk ketenangan hatinya.


"Aku juga permisi uncle."


Setelah keluar dari ruangan, Vivian langsung mengejar Owen. Pria itu tidak bisa menerima tanggung jawab tentang projek itu dan pergi begitu saja meninggalkan dirinya, lagi.


Jika Owen pergi, maka semua rencana yang telah dibuatnya akan berkahir begitu saja. Vivian tidak akan membiarkan semua itu.


"Owen." panggil Vivian di koridor lantai teratas gedung SEAM GROUP. "Owen tunggu aku." Vivian menahan tangan Owen, namun dengan cepat Owen menepis tangan yang menyentuh dirinya.


Tatapan tajam dari Owen langsung menusuk tepat kepada Vivian. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu. Kembalilah bekerja. Dan satu lagi, disini atau dimana pun aku adalah atasanmu."


Peringatan Owen sama saja artinya dengan menyuruh agar Vivian tidak mendekati dirinya dan bersikap seperti orang asing.


"Sial. Brengsek! Owen Brengsek!" Vivian merasa kesal setengah mati. Rencananya akan kacau jika ia tidak bisa menghentikan Owen.


Tapi apa yang harus ia lakukan?


"Nona." Drigo menghampiri Vivian. "Kau sudah mendapatkan apa yang nona minta. Aku sudah menyerahkan laporannya di atas meja anda."


Vivian tersenyum samar. "Kau benar Drigo. Aku belum kalah. Aku masih memiliki kartu lain. Aku lupa jika aku memiliki orang seperti dirimu. Terimakasih."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2