OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-31


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...KAMAR ELSTON...


"Kau ingin aku melakukan apa untuk mu?" Mia berdiri di depan cermin menunggu perintah selanjutnya dari Elston.


Mia sudah memilihkan semua yang Elston inginkan. Pakaian, perhiasan, sepatu, tas bahkan Mia juga sudah mendandani wajah Elston dengan bertemakan summer glow seperti yang pria itu mau.


"Apa aku terlihat cantik?" Elston memamerkan wajah yang sudah dipoles makeup dan juga bibir yang sudah berubah menjadi pink mengkilap.


Mendengar pertanyaan Elston Mia tersenyum seadanya, karya tangan Mia memang selalu luar biasa; "Haruskah kau jadi cantik? bukankah lebih normal jika kau bertanya apakah kau terlihat tampan?" sela Mia, seraya melipat kedua tangannya. Bangga.


Tak bisa di pungkiri. Mia memang mengakui betapa cantik nya wajah Elston jika di dandani layaknya seorang wanita.


Meskipun begitu, Mia lebih suka melihat Elston dengan wajah maskulin dan juga misterius. Karena bagi Mia, Elston sangat tampan sebagai seorang pria. Bahkan ketampanan nya bisa mengalahkan wajah seorang model kelas dunia.


Mendengar pernyataan Mia membuat Elston menekuk wajahnya dengan mata yang memicing, "Lihat gadis jahat ini. Apa kau tuan ku? kau hanya perlu menjawab ya atau tidak." Cibir Elston.


"Dan kalau ku katakan tidak kau akan menyuruhku menghapus makeup mu dan mengulang semuanya dari awal lagi, benar? kalau begitu jawabannya ya. Kau cantik." sela Mia tersenyum meringis. Ia tak ingin berdebat dengan Elston. Karena ia tahu bagaimana hasil dari perdebatan mereka nanti.


"Apa kau sedang mempermainkan aku? kau memberi ku jawaban sesuka hatimu, hah? kau ini!" Lagi. Lagi. Elston memang tidak akan pernah puas dengan jawaban darinya.

__ADS_1


Mia berlalu begitu saja seraya merapikan meja rias di depannya, "Padahal aku lebih suka jika kau jadi tampan." gumam Mia asal, tapi tetap bisa di dengar oleh Elston.


Dengan gerakan gemulai, Elston berbalik menghadap Mia dengan kedua tangan lentik yang terlipat layaknya seorang bos.


"Kemari lah." perintah Elston menunjuk dengan jari lentiknya. Mia pun berjalan mendekat dan berdiri menjulang di depan Elston.


"Jawab aku. Apa kau suka melihat wajah ku sebagai seorang pria?" entah apa maksud pertanyaan Elston kepada Mia. Apa kau mendengar ocehan ku tadi, dan sekarang kau tidak terima? Mia mengerutkan kedua alisnya lalu menjawab; "Kau kan memang pria."


"Tapi kau tidak suka melihat ku menjadi cantik." sejak kapan Elston peduli dengan pendapat pribadinya? bukan kah selama ini pria cantik ini selalu bersikap sesuka hati. Sadarlah Mia.


"Aku tidak mengatakan hal seperti itu." Tangan Mia memunguti perhiasan Elston dan mengembalikannya ke dalam kotak.


"Apa kau menyukai ku?" Elston hanya ingin tahu. Karena Mia selalu bersikeras ingin menjadikan dirinya seperti pria normal setiap saat.


Pertanyaan suka yang Elston lontarkan tentu saja Mia tau apa artinya. Dan Mia sungguh tak ingin di salah pahami seperti itu hanya karena keinginan pribadinya. Alhasil Mia memutar bola matanya, malas. "Jika tidak menyukai mu aku tidak akan bekerja padamu." balas Mia yang masih berdiri di depan Elston seraya mengabaikan semua rasa penasaran Elston.


Elston seperti seorang kakak baginya. Meskipun Mia sangat sadar bahkan kapan saja Elston bisa memecat dirinya. Tapi Mia tetap akan mengabaikan hal tersebut.


"Itu hanya alasan klasik. Kau kan suka uang." sahut Elston dengan wajah mencibir. Mia pun membalas dengan cara yang sama.


"Adakah di dunia ini manusia yang tidak suka uang? padahal kau sendiri menghasilkan banyak uang karena kau menyukai nya kan?" Mia berdecak, dan Elston justru tertawa melihat jawaban berani dari gadis itu.


Elston lah yang salah. Sejak awal Mia memang tidak pernah segan pada dirinya. Bahkan Elston sempat menduga dirinya lah yang seharusnya melayani Mia sebagai seorang nona.


Cih. Gadis ini. "Terserah kau saja. Berdebat dengan mu memang tidak ada habisnya." Elston berdiri dan dengan sengaja menabrakkan dada bidang nya ke wajah Mia.

__ADS_1


Dasar kekanak-kanakan. Apa kau ingin mengajakku berkelahi? Mia mengusap wajahnya dengan kesal.


"Kau tidak ingin pergi?" panggil Elston yang sudah menenteng tas mahal karya salah satu desainer dunia.


"Ya.. Ya .. terserah kau saja yang Mulia."


"Cih. Ada-ada saja." Elston tersenyum lebar. "Pada akhirnya kau hanya akan menuruti semua perkataan ku, gadis penyihir."


...❄️❄️...


Kali ini Mia harus menemani Elston untuk bertemu dengan seorang klien dari perusahaannya. Mia pikir Elston benar-benar akan mengajaknya pergi untuk menghabiskan uang miliknya. Tapi ternyata pria itu ingin bekerja.


"Apa aku perlu pergi? sepertinya klien mu bukan orang sembarangan." Bisik Mia yang duduk di sebelah Elston.


"Tidak usah. Kau di sini saja bersama ku. Kau dengarkan saja apa yang akan kami bicarakan. Setidaknya kau bisa belajar dari ini bukan?"


"Kau yakin, aku hanya tidak ingin mengganggu. Kau kan punya sekertaris pribadi."


"Bukan kah kau juga bisa menjadi sekertaris pribadi ku?"


"Kau benar-benar menyebalkan."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2