
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Menangis adalah satu-satunya cara yang bisa Mia lakukan. Cara untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Satu jam atau bahkan satu hari saja tidak akan cukup untuk membenahi hati dan juga pikirkan nya agar bisa kembali waras.
Jika itu orang lain, Mia mungkin akan bersikap biasa saja. Karena pada dasarnya ia memang tidak ingin ikut campur pada urusan orang lain. Tapi kali ini adalah kekasihnya.
Orang yang selalu mempermainkan debaran jantung nya. Orang yang selama ini membuat dirinya merasa aman dan nyaman. Dan orang yang sangat ingin Mia berikan kesempatan untuk menjaga hatinya.
Pria itu adalah Owen.
Owen adalah satu-satunya orang yang telah mengambil hati Mia kemudian menorehkan rasa sakit di sana. Owen lah pria yang membuat Mia harus melewati jalan yang bertabur kristal tajam. Jalan indah yang di hiasi mawar berduri. Sungguh menyedihkan.
Dan untuk semua yang diterima nya, Mia tidak ingin menyalahkan diri sendiri. Karena bukan dirinya lah yang memulai semua kekacauan yang telah terjadi.
Perasaan yang Mia miliki adalah nyata. Dan ada ketulusan yang ia berikan dengan sepenuh hati saat menjalani hubungan mereka.
Tapi ternyata Owen tidak menghormati setiap ketulusan dan kebenaran yang Mia coba tunjukkan dalam hubungan itu.
Owen lah satu-satunya orang yang tidak percaya pada hati Mia. Dan Owen jugalah yang sejak awal memulai semuanya dengan sebuah kebohongan.
Mia tidak akan membiarkan Owen begitu saja. Owen tidak bisa melakukan semua ini pada dirinya. Pria itu tidak berhak memperlakukan hati dan juga ketulusan yang diberikan nya seperti sampah.
__ADS_1
Terlepas berita itu benar atau tidak, Owen tetaplah pihak yang telah menyakiti dirinya dengan sebuah kebohongan. Dan owen harus bertanggung jawab untuk semua kekacauan yang terjadi.
Pria itu memilih diam dan tidak mengatakan apapun padahal mereka punya begitu banyak waktu untuk membicarakan semuanya.
Yang artinya, Owen memang belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk Mia. Dan Mia pikir Owen belum siap untuk hubungan yang mereka jalani saat ini. Karena itulah; Mia perlu waktu. Ia harus berpikir.
Mia harus mendinginkan kepalanya agar bisa menentukan keputusan apa yang akan ia buat nanti. Terlepas perasaan nya masih ingin bersama Owen ataukah sebaliknya.
...❄️❄️...
Sementara Mia masih menangis sesenggukan, tangan Elston masih terus memeluk Mia dengan kelembutan yang sama.
Keberadaan Elston membuat Mia merasa jauh lebih baik. "Kau masih ingin menangis?" kata Elston. Saat Mia sudah lebih tenang. "Karena jika ya, aku akan membatalkan semua kegiatan ku hari ini untuk menemani mu menangis."
Tangan Elston membelai lembut rambut Mia. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu gadis kecil. Tapi apapun itu, aku harap kau selalu menjadikan aku sebagai tempat bersandar, seperti ini." suara Elston yang jernih dan tenang membuat perasaan Mia merasakan hal yang sama.
"Sudah ku katakan jika kau bisa mengandalkan aku. Aku akan jadi orang yang selalu berdiri di belakang mu dan mendukung mu dengan kekuatan yang aku miliki. Karena itu, tetap lah berada di sisiku Mia. Seperti sebelumnya; aku masih memiliki tawaran yang sama untuk mu."
Mata yang biasa lembut, kini terarah dengan penuh tekad pada dirinya, "Aku bisa menjadikan mu apapun yang kau inginkan Mia. Kau tidak akan pernah menyesal jika memilih aku sebagai orang mu."
"Kau ingin aku bekerja selama nya untuk mu?"
"Tidak hanya sekedar- bekerja. Tapi benar-benar menjadi milikku. Dan sebagai milikku, kau akan selalu aman. Apapun yang kau inginkan akan selalu kau dapatkan. Bahkan seluruh hidupku dan juga dunia ini akan ku berikan padamu."
"Kau manis sekali Elston. Aku selalu tahu jika kau memiliki sisi yang seperti ini." Mia tersenyum dengan mata bergetar, hampir menangis- lagi. "Tapi kau salah mengatakan nya padaku."
__ADS_1
"Kenapa kau berpikir jika aku salah?"
Mia tersenyum samar, matanya yang hijau bertemu dengan mata biru safir milik Elston. "Seharusnya kau mengatakan hal seperti itu saat kau memberikan lamaran kepada seorang gadis."
"Aku memang sedang melamar mu. Kau pikir tidak?" Deg. Kali ini Mia benar-benar ingin tertawa. Elston selalu bisa membuat semuanya menjadi lebih baik.
Tapi Mia tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Terbuai hanya akan membuat luka di hatinya semakin menganga. "Kau pintar sekali menggoda."
Jelas sekali bahwa Elston berpikir untuk membuat suasana menjadi lebih baik, tapi baginya tidak hanya itu, "Kau pikir aku hanya pintar menggoda? aku bisa melakukan apa saja Mia. Tidak hanya bersikap romantis. Tapi juga bersikap realistis." itulah Elston.
Mia tidak bisa berkata-kata. Meskipun Mia yakin bahwa Elston berniat untuk menggoda dirinya, tapi ada kebenaran dalam setiap kesungguhan yang keluar dari bibir itu, "Kau bercanda."
"Tidak." jawab Elston yakin. Bukan sifatnya bercanda dengan hati seseorang. Terlebih jika orang itu adalah Mia.
Mia menghela nafasnya berat. "Kau ingin tahu alasan kenapa aku menangis Els?" Mia mengalihkan topik. Keduanya bertatapan. Elston tidak menjawab. Pria itu hanya menaikkan satu alisnya seraya menunggu kelanjutan dari kata-kata Mia.
"Karena aku tidak mendengar larangan mu." Mia tertawa miris. "Aku jatuh cinta pada seorang pangeran. Ah, mungkin seorang putra mahkota." ralat nya. "Karena itulah saat ini hatiku terluka. Karena aku tahu, bahwa kami memiliki dunia yang berbeda."
"Dan kau." Sekali lagi Mia tersenyum sambil mengusap pipinya yang basah. "Kau juga seorang pangeran Els. Entah kau menjadi dirimu yang tampan atau seorang Dewi. Kau juga tetaplah seorang yang memiliki dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang ku miliki."
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Karena ku rasa, hatiku belum siap untuk masuk ke dunia yang berbeda. Aku tidak bisa melakukan itu." itulah kejujuran yang Mia miliki saat ini. Ia masih sangat terluka. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dan sebuah hubungan baru hanya akan memperburuk keadaan.
"Aku akan membantu mu. Kau hanya perlu memegang tanganku Mia. Biarkan aku yang memandu mu. Cobalah percaya sekali saja padaku. Maka kau akan melihat nya. Bahwa dunia yang akan ku berikan padamu, adalah dunia yang pantas untuk kau tempati."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...