
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Pagi hari yang sibuk seperti biasa. Saat Mia tengah menyiapkan perlengkapan kerja Elston, Mia mendapati kertas yang jatuh berceceran di dekat kaki meja.
Mia mengambil satu per satu untuk merapikannya, tapi tiba-tiba saja ia terpaku saat membaca isinya. "Apa semua ini?"
Tulisan-tulisan di kertas itu berisikan tentang pengalihan ahli waris. Kepemilikan penthouse yang saat ini mereka tempati, Saham sebanyak 55% dan juga kepemilikan Mension yang ada di London.
"Kenapa ada namaku di semua kertas ini?" Mia bingung sekaligus bertanya-tanya. Kenapa Elston membuat semua itu atas nama dirinya. Dan apa maksud dari semua pengalihan ini.
Kenapa Elston tidak membicarakan semua ini sebelumnya? atas dasar apa ia harus menerima semua yang pria itu miliki. Kekayaan yang bahkan tidak pernah Mia bayangkan.
Lalu kenapa sekarang ia melihat namanya.. Mia Allura. Tertulis dengan cetak hitam tebal. Yang artinya, bahwa surat tersebut benar adanya.
"Mia, apa yang kau lakukan?"
Tatapan heran sekaligus bertanya-tanya membuat Elston tersadar apa yang saat ini telah menyita perhatian Mia.
"Apa kau melihat itu, isinya. Kau membacanya?"
"Tidak. Maksud ku, ini terjatuh. Aku hanya berniat merapikan nya. Dan aku tanpa sengaja membaca isinya sesaat, karena melihat namaku." Mia bingung bagaimana harus mengatakan isi kepalanya.
"Tunggu. Tidak. Bukan seperti ini."
Mia melihat kertas di tangannya sekali lagi untuk memastikan apa yang ia baca sebelumnya.
"Els, untuk apa semua ini? dan apa maksud dari..-" Mia tidak ingin menyebut jika semua yang tertulis di sana adalah benar adanya, hanya saja, jika memang pria itu melakukan hal konyol lagi, bukankah sebaiknya Mia menghentikan semuanya sebelum terjadi. Dan ia perlu tahu kenapa Elston ingin melakukan semua itu.
"Kau melakukan ini? nama ku ada di sini."
Elston mendekat untuk menghampiri Mia. Bodohnya, semalam ia tidak menyimpan semua berkas itu dengan baik. Jika saja ia tidak terburu-buru, mungkin ia bisa menyimpan dan menjelaskan semuanya nanti, di saat yang tepat.
__ADS_1
"Maaf jika membuat mu bingung Mia. Aku tahu kau pasti akan bertanya-tanya tentang apa yang aku lakukan. Dan aku juga melakukan semua ini tanpa meminta persetujuan dari mu dulu. Jangan marah padaku. Hem? aku bisa menjelaskan semuanya." Elston menatap Mia membujuk.
Ia juga menghela nafas kemudian diam sesaat. Sementara Mia masih menunggu. Setelahnya, Elston kembali menatap matanya. Dan kali ini tatapan itu berubah dari tatapan yang sebelumnya. Membuat hati Mia berubah gusar.
"Aku harus kembali ke Milan beberapa hari lagi. Ada hal penting yang harus ku selesaikan di sana."
"Kalau begitu aku akan ikut dengan mu."
"Tidak Mia. Kau disini saja. Bagaimana dengan kuliah mu, bukankah minggu depan adalah sidang terakhir mu? jika kau pulang bersama ku, kau tidak bisa menyelesaikan kuliah mu tepat waktu." Elston tidak ingin Mia pulang bersamanya. Tidak untuk waktu dekat. Karena Elston harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.
"Itu benar. Tapi..-
"Aku akan menunggu mu di sana. Setelah kau menyelesaikan semua urusan mu disini, Kau bisa kembali. Aku akan menunggu mu di sana. Karena itu, seperti nya aku akan merindukan mu. Kita juga tidak bisa bertemu untuk sesaat. Semua ini sulit untuk ku Mia."
Mia masih tidak mengerti. Ia masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Dan jawaban Elston tidak ada hubungannya dengan surat pengalihan tersebut.
"Tunggu Els, jika kau memang tidak ingin aku pulang bersama mu tidak masalah. Lagi pula kau benar aku memang harus menyelesaikan kuliah ku." Mungkin ini yang ingin Elston dengarkan.
"Tapi kau belum mengatakan kenapa kau melakukan semua ini padaku." Mia beralih pada kertas yang masih ada di tangannya. "Kau harus menjelaskan semua ini dulu agar aku mengerti." ujar Mia. "Aku tidak mau semua ini Els. Aku tidak mau uang mu."
"Aku tau tidak ada yang di berikan secara cuma-cuma di dunia ini Els, seperti yang kau lakukan sekarang. Jadi tolong katakan padaku ada apa dengan semua ini?"
Mia tidak menginginkan semua harta kekayaan jika itu yang Elston pikirkan untuk membujuk dirinya. Mia juga tidak akan mengatakan cinta hanya untuk membalas apa yang akan ia terima. Karena bukan itu yang ia inginkan.
"Tapi aku melakukannya Mia." Kali ini Mia benar-benar tidak bisa menerimanya. Semua yang Elston lakukan untuk dirinya semakin hari membuat Mia semakin takut. Ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi di masa depan jika keputusannya salah.
"Aku ingin memberikan semua ini padamu. Kau tahu bukan, kalau aku tidak memiliki siapapun di dunia ini selain kau. Karena itu, aku ingin agar kau memiliki apa yang aku miliki. Hanya itu. Aku tidak punya alasan lain."
Apakah yang dilakukan nya salah? Padahal Elston hanya ingin membuat Mia merasa berharga untuk di miliki. Elston hanya ingin menunjukkan bahwa wanita yang dicintainya bahkan tidak sebanding dengan semua yang ia miliki di dunia ini.
"Aku tidak butuh semua ini Els. Semua ini hanya akan membebani ku. Aku hanya ingin jadi wanita biasa. Aku tidak ingin hidup di dunia yang bukan untuk ku." Mia sungguh-sungguh dengan apa yang ia inginkan.
"Ini, sebaiknya kau batalkan saja semua ini. Karena aku tidak akan menerima kebaikan lebih selain apa yang sudah ku dapatkan saat ini. Itu saja."
Sulit sekali untuk membuat Mia menerima ketulusan hatinya. Tapi Elston tidak akan mengubah apapun. Karena apa yang dilakukannya adalah untuk Mia. Demi dunia yang ingin ia berikan pada gadis itu.
__ADS_1
"Mia, hei.. tunggu aku. Apa kau marah?"
"Aku tidak marah Els. Aku hanya tidak suka kau melakukan hal seperti itu untuk ku."
"Baiklah. Aku minta maaf."
...❄️❄️...
"Hallo son, bagaimana kabarmu? apa pekerjaan mu di sana baik-baik saja?" Hilbert menghubungi Owen menggunakan panggilan video dari komputer yang ada di depannya.
Meskipun mereka terpisah jarak, namun hubungan mereka saat ini lebih dekat dari sebelumnya. Hilbert merasa senang karena putranya sudah tidak menutup diri seperti dulu.
"Hai pa. Ya, kabar ku baik. Seperti yang kau lihat. Dan bagaimana dengan mu? apa papa sudah minum obat papa? apa hasil pemeriksaan sebelumnya?" Owen menjadi lebih cerewet jika menyangkut kesehatan sang ayah. Karena papanya adalah satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Meskipun begitu, Owen masih terfokus pada pekerjaannya untuk memeriksa laporan yang di kirimkan oleh sekertaris nya yang berada di Milan. "Pekerjaan ku juga baik-baik saja."
"Baguslah kalau semuanya berjalan lancar son. Aku sudah minum obat ku. Jangan khawatir. Ini hanya karena papa yang sudah tua. Kau tidak akan menunda kepulangan mu bukan?"
Seperti yang direncanakan, Minggu depan Owen akan kembali ke Milan. Pekerjaannya sudah hampir rampung, dan sudah saatnya ia kembali.
"Hem, aku akan pulang sesuai rencana."
"Itu bagus. Akhirnya ada yang akan menemani papa makan siang."
Owen tersenyum. Papanya memang selalu seperti ini. Sosok yang hangat dan juga menyenangkan. "Aku juga berpikiran seperti itu. Sampai nanti pa. Aku harus kembali bekerja. Semua ini sedang menunggu untuk ku selesaikan."
"Baiklah Son. Sampai bertemu dalam waktu dekat."
...❄️...
...❄️...
...OWEN REAGHAL...
__ADS_1