OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-10


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...GREEN ATHENA...


Beberapa deret Limousine sedang mengantri untuk menurunkan penumpang nya. Sama juga dengan Elston dan Mia. Mereka pun sedang menunggu giliran seperti yang lain.


"Sebenarnya pesta macam apa ini? bukankah ini seperti ajang pertunjukan status sosial. Lihat apa yang ku kenakan. Ini berharga jutaan dolar. Apakah acara ini memang bertujuan seperti itu?" Mia menatap Elston antusias. Ia tidak bisa menutupi rasa keingintahuan nya tentang fakta yang tiba-tiba merasuki dirinya.


Mia bahkan selalu mengarahkan pandangannya keluar jendela untuk memperhatikan seperti apa penampilan spektakuler para tamu undangan yang sudah lebih dulu melangkah di atas red karpet untuk memamerkan apa yang sedang mereka kenakan.


Tidak heran jika sebelumnya Elston juga mencurahkan perhatian penuh pada apa yang harus ia kenakan untuk menghadiri pesta tersebut.


Elston menaikkan satu alisnya kemudian melipat tangan di dada, "Ada yang salah dengan pesta ini Mia? Kau tahu, hampir semua pesta yang ku datangi memang bertujuan demikian."


"Semua yang berstatus sosial tinggi tidak akan keberatan untuk menunjukkan kepada yang lain seberapa berkelasnya diri mereka." Elston tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepada Mia lalu tersenyum sinis..


"Dengan begitu, kami tidak hanya mendapatkan nama, tapi juga akan disegani dan juga di hormati. Karena itulah orang-orang seperti kami tidak pernah puas hanya dengan memiliki satu pilihan busana saat ada pesta sebesar ini sedang menanti." jelas Elston menjawab rasa ingin tahu Mia.


Mia menatap Elston tanpa berkedip, "Apa kau membutuhkan semua itu? Maksud ku yang kau katakan tadi." Mia tidak mengerti mengapa seseorang harus membuang banyak uang hanya untuk mendapatkan perhatian dan kekaguman dari orang lain.


Membangun relasi memang penting, tapi untuk apa jika relasi tersebut hanya demi menunjukkan siapa yang terkaya di antara orang-orang kaya. Masa bodoh dengan pemikiran kuno seperti itu.


"Tentu. Aku adalah Elston Stuard. Semua orang tahu siapa aku dan apa yang membuat mereka mengenalku." Satu fakta yang tidak bisa Mia pungkiri dari tuannya,


"Dan aku selalu memandang tinggi sebuah popularitas, dan Yes. Aku menyukai setiap kali orang menyebutkan siapa diriku sambil berdecak kagum." Elston menyanjung tinggi dirinya.


Pemikiran orang-orang seperti Elston memang diluar akal pikiran Mia. Meskipun Elston menjelaskan beberapa kali pun Mia tetap tidak menemukan dimana letak manfaat dari semua yang mereka lakukan sebagai orang-orang kaya.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya lagi. Sekarang sudah saat nya kita turun. Dan ingat, jangan membuat ku malu. Kau adalah Dewi kecilku saat ini. Berjalan lah tepat di belakang ku Mia. Ingat itu." peringat Elston cukup tegas. Dan Mia cukup tahu diri sebagai seorang wanita pendamping dari tuannya.


"Baiklah Elston yang agung."


...❄️❄️❄️...

__ADS_1


...Satu jam setelah pesta berlangsung......


Mia yang tidak mengenal siapapun di pesta tersebut juga tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya berdiri sedikit jauh dari kerumunan. Minum segelas jus, dan memperhatikan kebisingan di sekitar.


Saat Elston sedang sibuk bercengkerama dengan tamu undangan lain, Mia hanya akan berdiri sedikit menjauh seperti yang Elston perintahkan pada dirinya. Menjaga jarak. Dan menjaga dirinya sendiri.


Begitu juga saat Elston memberikan sinyal pada dirinya, Mia akan mendekat seperti yang pria itu inginkan. Kemudian Ia akan menjauh lagi saat Elston sedang berbincang serius dengan salah satu orang yang di anggap nya penting.


"Kau lihat pria di sana?" Mia mendengar suara yang cukup jelas dari tempatnya berdiri. "Aku heran melihat pria pesolek itu. Yang di maksud oleh sekelompok wanita di dekatnya adalah Elston. "Entah sampai kapan ia akan mempermalukan nama keluarga nya. Kasihan sekali."


Seperti dugaan Mia. Semua pesta tidaklah jauh berbeda. Sedikit banyak adalah tempat orang-orang memulai gosip ataupun melanjutkan gosip.


Dan Mia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Dunia ini hanya berputar pada orang-orang yang di anggap layak menjadi pemeran utama.


...❄️❄️❄️...


Mia tersenyum saat Elston berjalan kearahnya, meskipun terlihat anggun, namun makeup tidak bisa menutupi ketampanan dari wajah Elston.


...Menyebalkan!...


Andai saja semua orang bisa mengenal sosok Elston seperti yang ia lihat selama ini. Pasti mereka akan merubah pendapat mereka tentang tuan mudanya itu.


Sekali lagi Elston melambaikan tangan pada Mia. Dan Mia membalasnya dengan sama ramahnya.


"Elston?" panggil seorang wanita tepat sebelum Elston menghampiri Mia. Mia hanya diam menyaksikan saat Elston berpaling dari dirinya. Wanita itu semakin mendekat kepada keduanya. Dari cara Elston menunggu, sepertinya mereka sudah saling mengenal.


"Hai Vi. Senang melihat mu disini." Sapa Elston berusaha bersikap ramah. Sementara Mia hanya memperhatikan dalam diam. Jarak mereka tidak jauh. Jadi Mia bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


"Dengan mu juga Elston. Bagaimana kabarmu? Kau datang sendiri?" Elston tersenyum sambil menoleh kepada Mia. Menyiratkan jika kali ini Elston sedang bersama seseorang. "Siapa dia?" Tanya Vivian penasaran. Mulut gadis itu sedikit terbuka dengan mimik terkejut. "Tidak mungkin kekasih mu bukan?" sambung Vivian.


"Kekasih siapa?" Alex turut bergabung dalam percakapan keduanya. Kali ini jenis yang sedikit berbeda lagi.


"Hai Alex. Kau masih terlihat tampan." puji Elston lalu berjalan mendekati Mia.


"Maksud mu gadis kecil ini Vivian?" Elston merangkul Mia untuk menunjukkan kedekatan keduanya. "Gadis ini boneka baruku. Manis bukan?" Elston melingkarkan tangan di bahu Mia seperti sedang memeluk gadis itu.


"Mia perkenalkan. Ini Alex, salah satu mantan kekasihku. Dan ini Vivian."

__ADS_1


Spontan Mia menengadahkan wajahnya menatap Elston mencari kebenaran. "Mantan kekasih?" bisik Mia.


Elston menunduk hingga wajah keduanya benar-benar dekat, "Aku tersinggung melihat raut wajahmu seperti itu gadis kecil." peringat Elston.


Mia menggerakkan badannya untuk melonggarkan tangan Elston dari bahunya. "Aku? ada apa dengan wajahku? aku baik-baik saja. Hanya sedang mengagumi ketampanan nya saja." balas Mia, tersenyum canggung pada Alex dan Vivian.


Elston mengernyit bingung, "Siapa yang kau bilang tampan? mantan kekasihku?"


"Apa aku salah lagi?"


"Sadarlah Mia. Aku lebih tampan darinya." balas Elston tidak terima dengan penilaian Mia.


Mia mendelik, "Bukan kah kau lebih cocok di sebut cantik alih-alih pria tampan? ada-ada saja."


"Hai. Aku Mia." Mia menyapa keduanya dengan ramah seperti yang Elston inginkan.


"Aku tidak tahu jika kau akan berubah secepat ini Els." Tatapan pria yang bernama Alex terlihat terluka.


...Apa kali ini ada salah paham lainnya?...


Cih. Elston tersenyum manja semakin mengeratkan pelukannya pada Mia. "Siapa suruh kau membosankan. Coba kau seperti gadis ini. Mungkin aku akan sedikit mempertahankan mu."


Sungguh pembicaraan yang tak Mia mengerti.. "Baiklah. Ku rasa aku dan gadis cantik ku harus pergi sekarang. Kami akan melanjutkan malam yang menyenangkan. Bye..." ujar Elston dengan gaya gemulai seraya menggandeng tangan Mia.


"Kita pulang?"


"Kau ingin lebih lama di sini?"


"Tidak. Pulang saja."


"Bagus."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2