OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-40


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Mia tidak yakin dengan apa yang di rasakan nya saat ini. Kecewa? tentu saja. Mia sangat merasa kesal atas sikap Owen yang baru saja ditunjukannya.


Sebagai seorang kekasih; meskipun baru satu hari, tetap saja Mia merasa Owen memperlakukan dirinya dengan tidak adil.


Baru saja Owen bersikap manis. Menatap dirinya penuh puja dan mengatakan rayuan yang sanggup melelehkan seperti madu. Tapi kemudian pria itu bersikap seakan mereka tidak saling mengenal. Sialan.


Apakah semua pria seperti itu?


Tidak. Seharusnya Mia tidak boleh berasumsi terhadap Owen. Bisa saja ada hal yang tidak bisa Owen jelaskan saat ini. Lagi pula mereka sudah saling mengenal cukup lama. Mia tahu bahwa Owen adalah pria yang baik.


Owen tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti dirinya tanpa suatu alasan. Mia hanya perlu menunggu. Menunggu bagaimana Owen menjelaskan tentang itu pada dirinya.


Sebaiknya sekarang tidur. Tidur adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan pikiran. "Semuanya baik-baik saja Mia. Percayalah pada kekasihmu." Mia hanya ingin melakukan itu. Percaya pada Owen.

__ADS_1


...❄️❄️...


Baru saja Mia ingin terlelap, sebuah ketukan samar di pintu apartemen nya membuat rasa kantuk Mia sedikit memudar.


Jika ada orang yang mendatangi nya pada jam seperti ini, tidak ada orang lain selain Owen. Pria yang tinggal di depan apartemennya.


Mia bangun dari tempat tidur dan mengambil sweater untuk melapisi piyamanya yang sedikit tipis. Juga untuk menghangatkan tubuh Mia yang dingin saat keluar dari dalam balutan selimut tebal miliknya.


Saat membuka pintu; Mia benar-benar melihat Owen berdiri dihadapannya. Lorong apartemen sudah sepi, yang artinya Vivian sudah kembali ataupun sudah tertidur di dalam apartemen kekasihnya. Yang kedua pasti bukan.


"Ada apa?" Mia sedikit terkejut saat tiba-tiba saja Owen merengkuh nya dan memeluk tubuh Mia dengan erat. Mendorong Mia masuk dan menutup pintu di belakang mereka.


"Maafkan aku Mia." kata pertama yang Owen ucapkan. Dan itu sudah cukup bagi Mia karena Owen sudah menyadari bahwa apa yang di lakukan nya salah.


"Vivian tadi datang dan kami bicara. Tidak ada apapun yang terjadi di antara kami. Seperti yang kau tahu, dia hanya.." Mia tahu jika Owen takut bahwa dirinya akan salah paham dan berpikir yang tidak-tidak.


"Aku tahu. Aku percaya padamu." Mia bisa merasakan Owen menghembuskan nafasnya lega. Mia tidak ingin hal kecil merusak sesuatu yang baru saja mereka jalin. Yang mereka butuhkan hanya bicara dan juga saling memahami. Itu saja.


Mia ingin menjadi wanita dewasa yang bisa Owen andalkan. Bukan hanya wanita yang selalu mengeluh dan selalu merajuk saat menjalin suatu hubungan. Mia ingin melakukan yang terbaik untuk hubungan pertamanya.

__ADS_1


"Aku tahu kau gadis yang pintar. Tapi aku tidak tahu bahwa kau bisa setenang ini sugar palm." Mia tersenyum. Tentu saja itu sebuah pujian yang manis. Dan membuat wajah Mia menghangat.


"Aku hanya ingin percaya padamu. Dan aku merasa lega karena kau berusaha menjelaskan nya padaku."


Dengan tatapan yang Mia kenali, Mia merasa perutnya mual dan jantung nya berdetak lebih cepat. Owen sedang terpana, dan mata pria itu tidak bisa berbohong. Owen sedang menginginkan dirinya.


Saat Owen mendekat dan bibirnya menyentuh bibir Mia, semua perasaan kesal itu hilang. Mia terbujuk. Ciuman Owen membujuk dirinya. Begitu dekat dan hangat.


Tangan Owen memegang pinggang nya dan melingkar dengan posesif di sana. Owen menuntun dan mengisyaratkan tentang apa yang harus Mia lakukan.


"Aku sungguh menginginkan mu Mia." Owen menggigit bibir Mia gemas. "Tapi aku harus menahannya. Kau seperti buah terlarang bagiku."


Mia tersenyum simpul; "Akan ku tunjukan arti dari terlarang yang sebenarnya."


...Cih. Dasar gadis licik. Kau benar-benar licik Mia....


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2