OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-71


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...MILAN...


Sejak kepergian nya satu tahun lalu, Mia tak menyangka jika kembali ke tempat ini lagi adalah salah satu hal yang membahagiakan dan juga cukup mendebarkan.


Ia ingin tahu apa saja yang sudah dilewatkannya sejak satu tahun terakhir. Dan saat kembali, Mia bisa merasakan, jika selama ini ia merindukan banyak hal. Merindukan hari-hari yang dulu tenang dan juga damai miliknya.


Merindukan beberapa teman serta orang-orang yang telah mengisi peran penting dalam hidupnya. Karena itulah, Mia sengaja merahasiakan kepulangannya ke London.


Mia ingin memberikan kejutan rahasia untuk satu-satunya orang yang menjadi penyemangat hidupnya, Elston. Pria yang selama beberapa minggu terakhir selalu mengusik pikiran nya siang dan malam.


...Apa Elston juga merindukan ku? bagaimana reaksinya saat tahu aku ada di sini? terkejut? bahagia? Ah.. aku tidak sabar ingin melihatnya....


Tapi satu hal lagi yang Mia lupakan. Di saat jantung nya berdebar-debar karena menantikan pertemuan dengan Elston, Mia sampai tak memikirkan jika ada orang lain yang mungkin juga akan ia temui..


Dan pria yang terlupakan itu kini tengah berada di sini. Berdiri di depannya dengan tatapan yang entah apa artinya bagi pria itu..


Owen. Ya... mantan kekasih Mia.


Bagaimana bisa Mia lupa jika Owen adalah pria yang selama ini tinggal di depan apartemen nya.


...Ini benar-benar kacau....


...Apa aku harus menyapanya? tersenyum? atau aku abaikan saja? tapi jika aku menghindar, bukankah itu sesuatu yang aneh? lalu apa yang harus aku lakukan?...


..."Mia..." suara pria itu seperti tercekat. Owen bahkan tidak bergerak sedikit pun saat mata keduanya terpaut. Owen benar-benar terpaku, begitu pun Mia. Mereka benar-benar tak sengaja bertemu....


Keheningan yang tiba-tiba saja menyelimuti mereka Terasa sedikit menggelitik. Terasa canggung, dan juga membuat hati nyaman. Tapi mereka tidak bisa terus seperti ini bukan?


Mia tersenyum simpul, dengan langkah ragu menghampiri Owen. "Sudah lama ya." tidak ada alasan bagi Mia untuk menghindar bukan? "Senang bertemu dengan mu lagi, Owen."


...Lagi? wah kau benar-benar gila Mia. Apa kau senang bertemu dengan nya? dengan pria ini? pria yang sudah membuat mu kacau selama berbulan-bulan?...


...Cih. Itu adalah kenyataan yang tak bisa Mia abaikan....


Dengan tatapan yang sama, Owen terlihat ingin mengatakan sesuatu pada dirinya, tapi tak lama raut wajah pria itu berubah.


...Apakah ada yang salah?...


...Kenapa juga aku harus memikirkan hal seperti itu?...

__ADS_1


"Kau kembali." Ada kelegaan dan juga sesuatu yang terdengar asing dalam suara itu, seperti mendamba. "Aku kira,-"


Mia menunggu. Entah kenapa ia juga tak pergi saja dari tempat itu. Tapi dengan bodohnya ia masih berdiri dan menunggu Owen untuk menyelesaikan kalimatnya.


Sorot mata yang hangat dan juga senyum simpul di wajah Owen sekali lagi membuat Mia bertanya-tanya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Bukan. Bukan. Bukan hanya dirinya, tapi mereka.


Karena jujur saja ini bukan rencana Mia. Ia bahkan tak pernah membayangkan akan bertemu Owen di hari pertamanya menginjakkan kaki di London.


"Mau ku bantu? bawaan mu terlihat berat." Owen menawarkan bantuan. Tapi kenapa? apakah karena mereka sudah saling kenal? dan sekarang mereka harus kembali menjadi tetangga yang rukun? tetangga yang tak pernah menjalin hubungan asmara sebelumnya? kenapa tidak abaikan saja? kenapa harus seperti ini?


"Tidak usah, ini tidak banyak. Sepertinya kau juga mau pergi. Lanjutkan saja." Tolak Mia. Ia benar-benar tidak merasa harus mendapat bantuan. Bawaannya tidak banyak. Hanya satu koper dan beberapa tas barang berukuran sedang.


Mia bisa melakukannya sendiri. Buktinya ia tiba di sini tanpa kurang satu apapun. Jadi kenapa ia harus di bantu? Ayolah. Ku mohon, Jika bisa, tolong pergi saja. Mia ingin mengatakan itu. Tapi ia juga tidak ingin bersikap tak sopan pada seseorang yang sudah lama tidak ia temui.


"Aku hanya ingin membeli bir di market lantai dasar. Jadi tidak apa-apa jika membantu mu sebentar." Owen memaksa. Bukan kah seharusnya Mia tahu jika Owen memang orang seperti ini? terlalu baik, dan suka ikut campur.


Tanpa persetujuan Mia, Owen sudah membawakan barang-barang miliknya. Dan mau tak mau, Mia harus membiarkan Owen melakukan itu.


"Baiklah."


Bukankah kami sudah tak memiliki hubungan lagi? lalu kenapa aku harus merasa canggung seperti ini? pikir Mia, masih berdiri di tempatnya.


"Mia..?"


"Ya..?"


"Pintu?" Oh astaga. Apa yang kau lakukan Mia! gadis itu kembali mengumpat. "Ya. Benar. Tunggu sebentar."


Dengan segera Mia merogoh kantong tas nya, ia mencari kunci apartemen yang selama ini sudah ia tinggalkan begitu saja.


Apakah apartemen ini masih bisa ditempati? tentu saja. Namun pastilah membutuhkan waktu untuk membersihkan isi di dalamnya. Ah, malunya.


...Kunci...Kunci.. dimana kau kunci......


"Argh...!" Sekali lagi Mia meringis.


...Kenapa dengan diriku? Sial! Bodohnya!...


Lagi-lagi Mia mengumpat dalam hati. Bagaimana ia bisa lupa jika kunci apartemen miliknya yang saat ini di pegang oleh Elston. Mungkin tepatnya oleh Bones. Karena pria itulah yang mengurus semuanya.


Lalu bagaimana Mia akan masuk ke dalam sana?


Ah... benar-benar sial.


Melihat wajah Mia yang kebingungan, Owen kembali bertanya;

__ADS_1


"Kenapa? apa kau kesulitan mencarinya?" ujar Owen masih sabar menunggu.


...Oh ayolah. Kenapa harus sekarang?...


"Bukan. Bukan begitu, hanya saja.."


"Hanya saja?" Owen mengulang.


"Aku lupa."


"Lupa apa?"


"Kunci apartemen ku."


"Kau lupa menaruh nya dimana? atau kau lupa,-


"Kuncinya ada. Hanya saja, bukan aku yang memegangnya." jelas Mia merasa malu. "Aku lupa mengambil nya."


Inilah akibat ia tidak memikirkan dengan baik apa yang sudah ia rencanakan. Bisa-bisa nya ingin memberi kejutan sedang diri sendiri tidak tahu akan tidur dimana. Dasar bodoh.


"Ah.. begitu."


Apalagi maksudnya dengan ah begitu? pikir Mia yang masih berdiri canggung di depan Owen. "Baiklah. Ayo."


"Ayo? ayo apa?" Mia mengikuti Owen yang sudah berbalik dan kembali menarik koper miliknya. "Sebaiknya malam ini kau menginap di tempat ku saja."


"Apa? menginap? ditempat mu?"


Tidak. Tidak. Mia tidak bisa melakukan hal ini. Bagaimana bisa di pertemuan pertamanya dengan Owen mereka langsung berada di dalam satu tempat yang sama. Sepanjang malam. Tidak. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi.


"Kenapa? kitakan sudah lama saling mengenal. Lagi pula aku masih punya satu kamar kosong. Kau bisa memakai nya malam ini.


...Kamar kosong?...


"Tapi,-


Owen berbalik, tersenyum hangat saat menatap Mia. Pria itu sepertinya sedang berusaha untuk membujuk dirinya. Tapi kenapa?


Bukankah sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan? Bukankah selama ini hubungan mereka berakhir dengan baik-baik saja? lalu kenapa?


"Lagi pula kita sudah lama tidak bertemu bukan? aku tidak bermaksud apa. Aku harap kau tidak keberatan Mia, dan aku sedikit memaksa."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2