OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-51


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Kali ini semua media tengah dihebohkan dengan skandal baru antara Owen Reaghal dengan kekasihnya Vivian Chalondra. Begitulah judul artikel yang di tuliskan hampir di semua laman berita.


Usaha terbaik sudah Owen lakukan sebisanya. Bahkan kali ini ia sampai menghabiskan begitu banyak uang untuk menutup semua berita yang beredar.


Namun ternyata semua itu tidaklah cukup; masih ada sebagian dari awak media yang tidak ingin bekerjasama; alasannya tentu saja karena mereka adalah orang-orang yang juga telah di bayar mahal oleh Vivian.


Sampai saat ini Owen hanya bisa menunggu. Sementara itu ia juga berharap jika skandal kali ini tidak akan mempengaruhi perusahaan seperti skandal sebelumnya.


"Bagaimana perkembangan nya?" Owen masih berada diruang kerjanya memantau semua berita yang keluar dari media elektronik. Meskipun sudah berusaha; tetap saja nama Owen telah menjadi trending nomor satu dalam jejak pencarian.


"Tim sudah mendatangi perusahaan media yang bersangkutan tuan, dan beritanya akan di hapus hari ini juga. Begitulah laporan terakhir yang disampaikan." kata pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan owen saat ini.


Itu adalah kabar yang melegakan bagi Owen. Ia sangat berharap agar semua berita tentang dirinya bisa segera berakhir.


"Kau sudah bekerja keras. Terimakasih." kata Owen tulus. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Kau juga kembalilah."


"Baik tuan." Owen mengenakan kembali jasnya. Ia sudah bisa bernafas lega. Owen mengambil kunci mobil, dan langsung pergi meninggalkan kantor.


"Batalkan semua pertemuan hari ini. Dan atur kembali jadwal ku untuk besok dan lusa. Ada urusan penting yang harus segera ku selesaikan."


Tujuan Owen kali ini adalah Mia. Owen harus segera menjelaskan semuanya kepada Mia. Ia tidak ingin kesalahpahaman sebelumnya terulang kembali.


Namun jauh dari pada itu, Owen sangat berharap semoga saja Mia belum melihat berita apapun tentang dirinya dan Vivian. Semoga saja.


Padahal baru saja mereka menjalani hubungan yang hangat dan juga manis. Owen juga baru saja mengembalikan kepercayaan Mia pada dirinya. Tapi lihat yang terjadi?

__ADS_1


Benar-benar diluar perkiraan. Owen benar-benar tak tahu harus berkata apa dengan situasi saat ini. Ia benar-benar takut jika Mia akan menatap dirinya dengan wajah penuh kekecewaan.


...Tuhan. Ku mohon.. berikan aku kesempatan....


...❄️❄️...


Mia tidak tahu apa yang dirasakan nya. Hatinya terasa sakit. Apakah menjalin sebuah hubungan adalah hal yang tepat atau justru sebaliknya.


Jujur saja Mia sangat membenci situasi dimana dirinya harus dibuat tidak berdaya seperti sekarang. Andai saja ia tidak tahu apapun. Mungkin semuanya akan terasa lebih baik.


Perasaan yang seharusnya tidak ia rasakan justru bertubi-tubi datang begitu saja. Ia benci saat dimana dirinya dikuasai oleh perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan.


Ini adalah kali pertama bagi Mia memiliki semua perasaan seperti ini. Ini seperti bukan dirinya. Mia yang rasional, Mia yang bisa mengatur apa yang ada di dalam hati dan juga isi kepalanya.


Tapi sekarang, ia seperti tidak mengenal siapa dirinya lagi. Semua terjadi begitu saja. Bahkan tanpa bisa ia cegah.


Berita tentang siapa sebenarnya Owen Reaghal, telah membuat kepala Mia serasa di hantam begitu keras oleh Kenyataan.


Terlebih lagi tentang rencana pernikahan, bahkan tentang skandal yang baru saja terjadi dan bahkan sudah terlanjur mengguncang dirinya. Tidak hanya itu, bahkan sudah membuat heboh seluruh kampusnya.


Dan sekali lagi; Mia harus merasa kecewa sekaligus terluka. Ketidaktahuan nya akan hal tersebut telah memporak-porandakan kewarasan terakhir yang dimilikinya. Hal yang seharusnya dikatakan langsung dari mulut Owen justru harus kembali ia ketahui dari orang lain.


Ketakutan yang sama yang Mia rasakan saat ia memutuskan untuk memberikan hatinya pada seorang Owen Reaghal. Dan bodohnya ia pikir semuanya akan baik-baik saja. Tapi lihat, saat ia berpikir demikian; maka hal sebaliknya yang terjadi.


"Apa kau benar-benar tidak menganggap ku hal penting bagimu?" Mia menatap layar ponselnya yang masih menyala memperlihatkan photo Owen bersama Vivian. Photo dimana keduanya baru saja meninggalkan salah satu hotel bintang lima di kota itu.


Rasa sesak telah membuat langkah kaki Mia menjadi gontai. Ia hampir tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan apa yang sudah dimulainya, bahkan nyali untuk menanyakan kebenaran yang ingin ia ketahui pun kini perlahan telah sirna.


Mia mulai takut pada dirinya sendiri, dan juga pada hatinya yang telah meragu;


Mengetahui bagaimana Owen menyembunyikan kebenaran tentang dirinya. Bagaimana pria itu bisa bersikap biasa saja padahal dunia mereka sangatlah jauh berbeda sudah membuat mata Mia terbuka.

__ADS_1


Di tambah lagi dengan pemikiran apakah Owen benar-benar menghabiskan malam bersama dengan mantan tunangannya seperti yang tertulis di sana, membuat hati serta perasaan Mia semakin berkecamuk.


Perlahan-lahan kini ia mulai Meragukan hubungan diantara mereka. Meragukan semua kata-kata cinta yang Owen ucapkan pada dirinya. Meragukan bagaimana cara pria itu menatap dan memikirkan tentang dirinya. Bahkan Mia mulai meragukan perasaan pria itu untuk nya.


Apakah semua yang mereka lewati selama ini nyata? jika kebenaran tentang dirinya saja adalah sebuah kebohongan. Bagaimana Mia ingin percaya jika yang seharusnya ia percayai adalah sebuah kepalsuan.


Saat Mia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, terlebih lagi saat sebuah suara memanggil namanya dengan cara yang tidak ia inginkan. Saat itu Mia tersadar jika Owen berdiri di depannya dengan raut wajah yang tidak terbaca.


Mia hampir mengenali sorot mata itu, tapi kesadaran nya mengingatkan bahwa segala sesuatu tentang Owen yang pernah ia ketahui adalah bohong. Semuanya palsu.


Dan Mia mulai tersadar; jika sebenarnya ia tidak mengenal siapa sosok yang saat ini tengah menunggu dirinya dengan penuh harap.


"Mia, kita harus bicara."


Sebuah permintaan kah? atau sebuah perintah. Mia tidak ingin tahu yang mana dari keduanya; karena saat ini Mia tidak ingin mendengarkan apapun dari Owen. Tidak, sampai hatinya benar-benar siap.


"Kenapa kau harus menatap ku seperti itu Owen?" hati Mia meringis. Bahkan gigitan di bibirnya tidak bisa membuat pikirannya kembali waras. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini adalah menghindar.


"Aku harus bekerja. Tuan Bones sudah menunggu ku." Saat ini yang bisa Mia lakukan hanyalah bersikap dingin. Ya. Bukankah ia bisa melakukan hal yang sama?


"Tapi Mia,-


"Aku sudah melihat semuanya." kata Mia menyela. Sementara orang-orang diantara mereka terus saja berbisik. Dengan wajah dan sikap yang profesional Mia ingin menunjukkan pada Owen, bahwa ia bukanlah sosok yang mudah untuk ditindas dan tidak mudah di permainkan. Tidak oleh siapapun, termasuk Owen.


"Aku akan mendengar penjelasan mu nanti, jika saatnya tepat." Mia tidak ingin hatinya goyah hanya karena tatapan yang Mia yakini adalah kepedulian palsu. Tatapan yang akan membuat dirinya terus menyalahkan diri sendiri.


Tanpa bicara apapun lagi, Mia pergi begitu saja. "Kita pergi nona?"


"Ya. Kita pergi sekarang Bones."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2