
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Melihat Owen adalah suatu tantangan bagi Mia. Hatinya selalu saja merasakan sesuatu yang aneh ketika berada di dekat pria itu.
Owen selalu saja menimbulkan debaran yang asing di dadanya.
Dan Mia tidak suka mengakui hal tersebut. Merasakan debaran untuk seorang pria yang sudah memiliki tunangan adalah suatu kesalahan. Dan Mia pun sadar akan hal itu.
Owen adalah dosen sekaligus tetangga nya yang sangat berharga. Pria tampan itu sudah lama menjadi penyemangat bagi Mia. Dan Mia tidak ingin merusak hubungan pertemanan yang sudah terjalin cukup lama diantara
Saat di rumah, Owen bisa menjadi seorang saudara laki-laki yang baik bagi Mia. Pria itu sangat sabar dan sering memberikan nasihat serta melakukan hal-hal yang hangat kepadanya. Dan saat mereka berada di kampus, Owen bisa menjadi sosok yang pantas untuk di hormati.
Oleh karena itulah, sebelum kesalahan semakin bertambah, sebaiknya Mia sudah membereskan perasaan asing yang semakin sering menguasai dirinya, tentu saja sebelum kesalahan lainnya terjadi.
Mia mematut dirinya di depan cermin. Tatapan mata nya cukup tegas untuk menyiratkan sebuah peringatan..
"Kau tidak merasakan apa-apa Mia. Kau tidak menyukainya. Kau hanya bodoh tentang ini. Jangan salah faham. Owen bersikap baik kepada mu hanya karena kau adalah tetangga nya. Kau juga mahasiswi di tempat nya mengajar. Jadi sadarlah. Kau itu bukan siapa-siapa."
Tekad Mia mulai terkumpul. Bahkan ia menunjuk tegas pada gadis yang ada di dalam cermin..
"Apapun yang sempat terlintas di kepala mu itu semuanya tidak akan mungkin terjadi. Tidak akan pernah. Ingat itu!"
Begitulah kenyataan yang harus Mia percaya.
Owen sudah bertunangan. Ah, kenapa nasibku harus sial seperti ini. Bagaimana aku bisa memiliki perasaan terhadap pria yang sudah bertunangan?
...❄️❄️...
Saat keluar dari dalam apartemen, Mia sempat ragu sesaat. Benarkah mereka harus bicara sekarang? Tapi jika Mia menunda lagi, ia yakin hubungan mereka yang saat ini akan mulai terasa asing lagi.
__ADS_1
Seharusnya itu terdengar baik bagi seseorang yang harus melepaskan perasaannya. Tapi bagi Mia Owen lebih dari sekedar teman. Owen terlalu berharga baginya untuk menjadi orang asing.
Karena yah, terlepas dari rasa sukanya, Owen adalah tetangga favoritnya. Tidak hanya tampan, tapi Owen juga selalu bersikap hangat. Setidaknya Mia masih bisa bertemu dan bersikap ramah satu sama lain bukan?
Setelah selesai membulatkan tekadnya, Mia pun memberanikan diri. "Owen?" panggil Mia seraha mengetuk pintu. Saat ketukan kedua ingin dilakukan, pintu di depan Mia sudah terbuka.
Owen menyambutnya dengan senyuman hangat dan juga tatapan yang sangat mudah untuk di salah artikan.
...Ah.. perasaan itu lagi....
Owen terlihat sangat lembut saat menatap Mia seperti ini. Tidak. Tahan Mia. Jangan berpikir. "Masuklah." bahkan suaranya terdengar begitu merdu..
Kau gila? bukan kah kau sudah bertekad sebelum ini?
Mia berjalan mengikuti Owen, sedikit canggung. Tapi mulai terlihat biasa. "Terimakasih."
Bentuk apartemen miliknya dan milik Owen tidak jauh berbeda. Hanya saja, isi di dalamnya lah yang membedakan semuanya.
Tentu saja. Owen berpenghasilan lebih besar dari pada dirinya yang hanyalah seorang pekerja kontrak di bawah umur.
"Mau minum teh?" tawar Owen yang sudah berada di pantry, sedang Mia masih berdiri di sekitar ruang tamu. "Apapun boleh." lagi-lagi Mia tidak bisa menolak kebaikan kecil yang Owen berikan.
Dua cangkir teh dengan uap mengepul di atasnya sudah tersedia di atas meja. Owen duduk sedikit lebih jauh dari Mia.
Owen tidak ingin membuat Mia merasa tidak di hargai jika dirinya tiba-tiba mendekat.
Sedangkan Mia memberanikan diri untuk memulai percakapan. Ia tidak bisa berada lebih lama di sekitar Owen. Bagaimana jika tunangan pria itu tiba-tiba saja datang dan Mia kembali melakukan kesalahan..
"Owen.."
"Mia..."
...Keduanya sama-sama ingin memulai. Ahh.. rasa canggung sialan!...
__ADS_1
"Kau saja duluan." kali ini Owen lebih dulu memberikan kesempatan pada Mia. Ia ingin mendengar lebih dulu apa yang ingin gadis itu sampaikan.
Meskipun akan memakan waktu lama, Owen akan dengan senang hati mendengarnya, justru ia akan senang jika mereka menghabiskan begitu banyak waktu bersama.
Mia terdiam sesaat, entah kenapa keberaniannya mulai menciut saat bertatapan dengan Owen. Mia merasa sedikit malu untuk apa yang ingin dikatakannya..
"Aku ingin minta maaf." ucap Mia terdengar gugup. Owen terlihat mengernyit seraya menatap Mia. Ku mohon jangan menatap ku seperti itu.
"Tentang hari itu. Aku tidak.." Dan Owen langsung mengerti,..
"Kau salah faham Mia." Sela Owen. Kali ini Mia lah yang terlihat bingung. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun." ujar Owen meralat kata-katanya. "Aku yang melakukan kesalahan. Seharusnya hari itu aku tidak bersikap begitu padamu. Aku tahu kau hanya ingin memberitahu ku tentang kunjungan itu." aku Owen terlihat tulus.
Ia harus menyelesaikan ketidaknyamanan yang terus-menerus mengikuti dirinya, "Maafkan aku. Aku membuat mu merasa tidak nyaman."
"Tidak Owen, aku.."
"Dia bukan tunangan ku Mia." sela Owen menjelaskan hubungan antara dirinya dan Vivian. Meskipun tidak tahu kenapa ia harus melakukan hal itu, tapi owen tetap ingin mengatakan nya. Ia ingin segera menyelesaikan semua kesalahpahaman jika memang itu yang terjadi saat ini.
"Vivian bukan tunangan ku. Hubungan kami sudah cukup lama berakhir. Karena itulah aku bereaksi terlalu berlebihan hari itu. Maafkan aku." tambah Owen lagi.
Mia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Haruskah ia merasa senang? Tapi jujur saja ia tidak berani membiarkan perasaan itu bersarang di hatinya. Ia tak ingin berharap apapun. Terutama dari seseorang yang tak akan mungkin bisa ia miliki.
"Aku turut prihatin. Kau pasti sangat mencintainya dulu.." Ah, bodohnya mulut ini. "Maksudku.."
Owen tersenyum lebar "Perasaan ku tidak sedalam itu padanya. Tidak seperti saat ini." sela Owen, dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu.
...Ah.. kenapa dengan jantung ku? ku mohon tenanglah. Ini bukan dirimu!...
"Ah.. begitu rupanya."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...