OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-85


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Mia yang kelelahan menggotong semua tas belanjaannya, sedikit terseok saat menaiki tangga menuju ke lantai tiga apartemen miliknya.


Sebelumnya, Mia sedikit kurang fokus saat memilih barang-barang kebutuhannya. Karena itulah ia membeli lebih banyak dari yang seharusnya. Dan sekarang, dirinya lah yang harus kesusahan.


Bisa-bisa nya aku memilih untuk tinggal di apartemen yang tidak memiliki lift seperti ini. Semua ini karena dulu penghasilan ku sangat pas-pasan. Batin Mia.


Jika saja aku bekerja lebih giat, mungkin aku bisa tinggal di apartemen yang memiliki lift. Katanya masih bergumam seraya menaiki anak tangga satu persatu.


Lihatlah. Bahkan di cuaca dingin seperti ini saja, aku masih berkeringat. Sebenarnya, kapan anak-anak tangga ini habis..?


"Kemarikan. Biar aku saja yang bawa." Owen mengambil alih tas belanjaan dari tangan Mia. Saat ini mereka masih berada dipertengahan antara lantai dua dan tiga. Gadis itu sedikit terkejut karena tidak menyadari keberadaan Owen yang tadi ada dibelakangnya.


"Tidak apa-apa aku bisa,-


"Aku tahu kau bisa Mia." sela Owen masih mempertahankan barang-barang yang sempat ingin Mia raih kembali.


"Bahkan aku yakin kau akan baik-baik saja sampai kau tiba di apartemen mu." Owen menatap Mia gusar, sementara manik gadis itu terus berkedip-kedip. Mia masih sedikit terkejut.

__ADS_1


"Tapi biarkan aku membawa ini. Aku tidak akan menggangu mu. Hanya membawa tas-tas ini saja." kata Owen kekeh.


Setelah hampir satu minggu mereka tidak bertemu, Mia pikir Owen sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi. Tapi sepertinya ia salah. Syukurlah.


Tanpa menunggu persetujuan Mia lagi, Owen sendiripun langsung berjalan dan mendahului gadis itu sementara Mia mengikuti dibelakang Owen seraya menjaga jarak.


Benar saja, setelah membawa barang belanjaan Mia sampai di depan pintu, dan meletakkannya disana Owen pun langsung berbalik untuk kembali ke apartemen miliknya.


Bahkan pria itu tidak menunggu ucapan terimakasih meskipun hanya sekedar berbasa-basi seperti dulu. Ah, apa yang kau pikirkan Mia! Kenapa kau harus merasa kecewa seperti ini.


Tidak ingin terkecoh dengan pemikiran yang akan membingungkan hatinya, Mia pun membuka pintu dan membawa barang-barang nya masuk ke dalam.


...❄️❄️...


Jika tadi ia tidak segera berbalik dan pergi, bisa saja ia kelepasan dan tidak bisa menahan diri lagi. Maka ketidakmampuan nya untuk itu, akan merusak semua usaha kecil yang sudah ia lakukan selama ini.


Owen tidak ingin hal itu terjadi, meskipun ia begitu merindukan Mia, ia tetap akan bertahan dengan tekadnya.


Owen tidak ingin membuat Mia takut kemudian menghindar lagi, karena itulah selama ini ia sengaja tidak menunjukkan diri di depan gadis itu..


Tapi yang terjadi barusan seharusnya tidak masuk dalam hitungan. Owen tidak bisa diam saja saat melihat wanita yang dicintainya merasa kesusahan saat membawa semua barang-barang itu.


"Kau sudah melakukan yang terbaik. Bagus. Kali ini kau tidak boleh salah langkah lagi. Pertahanan mu sudah sangat baik." puji Owen pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Meskipun sebentar, tapi rasa rindunya bisa sedikit terobati. Ia bisa melihat wajah Mia dan bicara dengannya meskipun sebentar.


Itu pun sudah cukup dari pada Mia harus menjauhi dirinya seperti sebelumnya.


...❄️❄️...


...Keesokan harinya.....


Sebelum berangkat bekerja, pagi-pagi sekali Owen sudah membeli sepaket menu sarapan dan juga segelas kopi yang biasa Mia minum.


Dengan hati-hati Owen meletakkan semua itu di depan pintu apartemen gadis itu kemudian pergi. Sebelum benar-benar pergi, tidak lupa Owen juga mengirimkan sebuah pesan teks seperti biasa.


...To: My sugar Palm...


..."Selamat pagi Mia....


...Jangan lupa nikmati sarapan mu sebelum pergi bekerja. Yang selalu merindukan mu....


...Ps. Sarapan mu aku tinggalkan di depan pintu. Owen."...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2