
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Saat tengah menunggu taksi di persimpangan yang tidak jauh dari kantornya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan Mia.
Tin.. suara Klakson dibunyikan. Mia sedikit menunduk untuk melihat siapa orang yang berada di balik kemudi.
"Hai.." sapa Mia saat melihat Frans tersenyum padanya. "Mia, ayo. Aku akan mengantarmu pulang." tawar pria itu, seakan-akan keduanya sudah saling mengenal cukup lama.
Ini bukan ajakan formal dari seorang pria yang sedang menargetkan seorang wanita, hanya tawaran karena keduanya saling mengenal. Lebih tepatnya, baru saling mengenal.
Mia tidak tahu jika pria itu sangat bersikap terbuka seperti ini.
"Tidak usah. Aku sudah memanggil taksi." ujar Mia menolak tawaran Frans. Selain tidak ingin merepotkan pria yang baru dikenal nya itu, Mia takut jika dirinya akan dibicarakan pada keesokan harinya.
Sebagai karyawan baru, bukankah sudah seharusnya ia berhati-hati? Meskipun seperti nya hal seperti itu mustahil terjadi. Andai saja tawaran itu berasal dari rekan wanita, mungkin Mia akan langsung mengatakan Ya.
Tapi untuk sekarang, Mia tetap ingin menjaga jarak, terlebih lagi dengan pria, siapapun orangnya. "Tidak apa-apa. Masuk saja." ujar Frans masih tetap dengan tawarannya. "Atau kau sedang menunggu kekasihmu?" kekasihku? Mia mengernyit bingung.
Di dalam sana, Frans justru sedang tersenyum, seolah-olah tebakan pria itu benar. Ah.. apa mungkin karena kiriman bunga ini? Mia memandang pada buket yang ada dalam pelukannya.
Karena pria itu sudah berpikir demikian, maka tidak ada salahnya, Mia memberikan alasan yang sama. "Bisa dibilang begitu. Maaf." ujar nya tersenyum canggung.
Gadis itu sedikit kikuk karena telah berbohong. Karena sejujurnya Mia tidak sedang menunggu siapapun. Ia hanya ingin pulang dengan aman dan seperti biasa, sendiri.
"Tuan? anda yakin tidak ingin menghampiri nona Mia?" tanya Bones pada Elston. Keduanya sedang memperhatikan Mia dari kejauhan. Mobil mereka bahkan sudah terparkir di sana sejak satu jam lalu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bones. Kita di sini saja. Aku sudah berjanji untuk memberi Mia waktu. Aku tidak ingin melanggar janjiku." ujar Elston yang memperhatikan Mia dengan tatapan tajam.
Meskipun sebenarnya hati kecilnya berteriak memerintahkan Elston untuk berlari Sekarang juga pada Mia. Tapi Elston tetap menahan diri.
Mendengar jawaban tuan mudanya Bones pun tidak bersuara lagi. Ia pun hanya turut memperhatikan dalam diam.
Selama satu minggu terakhir, kegiatan yang mereka lakukan selalu sama, yaitu mengamati Mia layaknya seorang detektif dan memastikan bahwa Mia pulang dengan selamat.
Untuk urusan lainnya, Elston akan membereskan semuanya dengan caranya sendiri.
"Kau yakin mau menunggu di sini?" tanya Frans sekali lagi, memastikan jawaban Mia. "Hem. Aku yakin. Terimakasih atas tawaran mu Frans." jawab Mia yakin.
"Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu besok, Mia." kata Frans lagi. Tidak ada yang bisa ia lakukan jika gadis itu memang sedang menunggu orang lain.
"Ya. Sampai besok."
Dari seberang sana, Elston yang masih memperhatikan Mia kini tengah mengulum senyum senang. Ia tahu bahwa Mia tidak akan bersikap sembrono terutama pada seseorang yang baru dikenal.
Elston sudah tahu akan hal itu, karena itulah Elston sangat percaya pada Mia, itu jugalah alasan mengapa Elston jatuh hati padanya. Gadis itu berbeda. Sangat sederhana dan juga memiliki hati yang baik, dan jujur.
"Kau benar-benar gadis kecil ku." gumam Elston masih mempertahankan senyum bahagia diwajahnya. "Kita jalan sekarang tuan?"
"Hem. Ikuti saja taksi itu."
...❄️❄️...
...Ting......
...From : Owen...
__ADS_1
..."Bagaimana harimu Mia? apakah menyenangkan? aku harap kau selalu menjaga kesehatan mu. Yang selalu merindukan mu....
...Ps. Tolong balas pesan ku jika kau sempat. Owen."...
Mia hanya membaca pesan yang sudah seperti spam dalam ponselnya. Sebab pesan dari Owen selalu datang setiap hari sama seperti hadiah-hadiah kecil yang selalu diterimanya.
Owen sangat berbanding terbalik dengan Elston. Jika Owen selalu melakukan hal-hal seperti ini, maka Elston sebaliknya. Pria itu bahkan tidak mengirimkan satu pesan pun selain pesan hari itu.
"Pak, tolong berhenti di supermarket terdekat." kata Mia mengubah arah pulang nya. Hampir saja ia lupa untuk berbelanja kebutuhannya untuk minggu ini.
"Baik nona."
Sepuluh menit kemudian, taksi yang Mia tumpangi sudah berhenti di supermarket yang tidak jauh dari apartemen tempat tinggalnya.
Setelah membayar uang taksi, Mia pun langsung turun dan masuk kedalam supermarket.
Tanpa gadis itu ketahui, Elston diam-diam selalu mengikuti dirinya dan memperhatikan Mia dari kejauhan.
Meskipun begitu merindukan Mia, Elston tetap berpegang teguh pada janjinya.
Ia akan menepati perkataan nya yang akan memberikan waktu sebanyak apapun yang Mia mau. Ia akan mencintai gadis itu dengan caranya, termasuk mencintai dalam bayangan.
Karena hal terpenting bagi Elston saat ini hanyalah kebahagiaan Mia.. bukan yang lain.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1