
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...Disaat seperti ini, sekelebat bayangan yang dibentuk dari masa lalu pun menjadi tidak berarti......
Setelah mempertimbangkan semua nya masak-masak, Owen pun akhirnya memberi sebuah keputusan.
"Keluar lah Vi." Owen berdiri di depan pintu kamarnya seraya melihat kepada Vivian yang duduk di atas ranjang miliknya sambil membaca salah satu majalah yang tergeletak di atas nakas.
Jika dulu, mungkin saat ini mereka berdua sudah bersenang-senang di atas ranjang nya. Tapi sekarang, Owen bahwa tidak memikirkan hal seperti itu terhadap Vivian.
"Kau sudah membuat keputusan mu?" sahut Vivian masih berfokus pada majalah di tangan nya. Seakan-akan pembicaraan dengan Owen bukanlah sesuatu yang penting. Owen masih bersabar. Kali ini pembicaraan mereka harus berakhir baik-baik.
Owen tidak menjawab. Ia menunggu Vivian untuk memberikan respon yang seharusnya. Vivian yang menyadari tidak ada pergerakan dari Owen pun akhirnya memberikan perhatian seperti yang owen inginkan.
Vivian menutup majalah, "Jadi bagaimana?" katanya, kemudian bergeser dari atas ranjang dan berjalan kepada Owen. "Apa keputusan mu? kau akan kembali?" hanya jawaban 'ya' sajalah yang Vivian inginkan dari owen.
"Aku akan kembali. Hanya saja aku perlu waktu untuk mengurus segalanya disini." balas Owen. Sedikit senyuman terbit di wajah Vivian.
Ah, atau mungkin itu sebuah perasaan lega. Begitulah yang bisa Owen tangkap dari ekspresi wajah wanita yang dulu pernah dicintainya itu.
"Baiklah. Aku sudah mendapatkan jawaban yang sangat ku inginkan." sahut Vivian senang. "Kau bisa gunakan waktu mu semaksimal mungkin. Hanya saja waktu kita sudah tidak banyak. Kau mengerti maksud ku bukan?"
"Aku tahu. Aku akan menemui papa dalam waktu dekat."
...❄️❄️❄️...
Setelah mengantarkan Vivian sampai di parkiran basemen, Owen kembali lagi ke lantai atas.
Owen berdiam diri sesaat ketika memandangi pintu apartemen Mia. Gadis itu pasti sudah pulangkan? pikir Owen yang saat ini sangat ingin bertemu dengan Mia.
Tanpa di sadari nya, langkah kaki Owen sudah membawanya berada tepat di depan pintu apartemen gadis itu.
__ADS_1
Owen mengetuk pintu dengan perlahan. Sejujurnya ia hanya ingin memastikan jika Mia memang berada di sana. Bukan bersama pria lain.
"Oh.. Hi.." wajah Mia nampak terkejut saat mendapati Owen berada di depan apartemen nya. Tentu saja. Owen terdiam sesaat saat melihat wajah Mia. Ia bersyukur karena gadis itu memang berada di tempat yang seharusnya.
Kening Mia mengernyit, bingung saat Owen hanya terdiam, "Ada apa?" tanya Mia lagi. Apa wanita itu sudah pulang? karena itukah kau disini? Ah, hati Mia kembali terasa aneh.
Owen masih bisu seperti sebelumnya. "Kau ingin masuk?" ujar Mia mempersilahkan Owen, pria itu pun kini berada di dalam apartemen nya.
Sesuatu yang seharusnya tidak Mia lakukan. Mempersilahkan tunangan wanita lain berada di rumah nya pada jam seperti ini. Oh ayolah Mia apa yang kau pikirkan. Terlebih pria itu adalah Owen. Damn!
"Ingin minum sesuatu?" ujar Mia lagi. Tapi kini Owen sudah tidak diam seperti sebelumnya.
"Mia.." Owen menangkap pergelangan tangan Mia untuk menahannya sesaat sebelum gadis itu beranjak. Jantung Mia kembali berdegup. Ah sial. Bisa-bisa nya...
"Apa kau punya kekasih?" mata Owen terlihat sendu saat bicara pada Mia.
Deg...
"Ke-kekasih? Apa..?"
"Kenapa kau bertanya..?" balas Mia yang berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. Meskipun terasa sangat mustahil.
"Aku.." Owen tidak tahu bagaimana ia harus mengatakan apa pada gadis yang selama beberapa hari ini telah menghabiskan cukup banyak waktu Owen untuk memikirkan dirinya saja.
Mia menarik lepas tangannya karena merasa canggung jika tangan nya berada lebih lama dalam genggaman hangat tangan pria yang tidak seharusnya.
"Aku tidak punya kekasih. Jika yang kau maksud adalah sebuah hubungan resmi bersama seorang pria." sahut Mia bersikap biasa.
Owen mengernyit. Jawaban Mia seharusnya cukup. Karena sangat tidak mungkin jika gadis itu berhubungan secara random dengan pria lain.
Setahu Owen Mia bukanlah gadis liar seperti itu. Yah meskipun di usianya yang sekarang Mia bebas melakukan apa saja yang diinginkannya. Termasuk berhubungan dengan seorang pria. Sial. Owen benci mengakui kenyataan tersebut.
Mia yang melihat respon aneh dari Owen pun ikut kebingungan. Ia tidak mengerti kearah mana pembicaraan yang Owen ajukan.
Apa pria itu ingin berdiskusi tentang seorang kekasih dengan dirinya? karena jika Ya, maka maaf saja. Mia tidak akan mau.
__ADS_1
"Owen.."
"Mia.."
Keduanya tercekat..
Tiba-tiba suasana canggung kembali menyelimuti keduanya.
"Kau saja duluan. Ada apa?" sela Mia cepat. Sejujurnya Mia ingin tahu apa yang membuat pria di depannya ini terlihat aneh sejak tadi.
Owen menatap Mia intens. Seakan keduanya berada di tempat yang berbeda. Dengan nuansa dan perasaan yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku..." Suara Owen sedikit tercekat. Dia memang bukan bocah, tapi sebuah pengakuan tetap saja membutuhkan sebuah keberanian.
Owen mendekat lebih cepat kepada Mia. "Bisakah aku memeluk mu saja? karena ini cukup sulit untuk ku." suara Owen bergetar.
Mia yang tidak tahu harus berbuat apa, pun hanya bisa merasakan hangat di sekujur tubuhnya saat tubuh mereka terkunci satu sama lain. Pelukan Owen memang sehangat yang Mia bayangkan.
...Owen mengeratkan pelukannya lebih dalam......
"Mia, aku menyukai mu." kata Owen memulai pengakuannya, "Aku jatuh cinta padamu. Aku ingin mengatakan semua itu sejak lama. Hanya saja semua ini benar-benar membuat ku gila. Perasaan ku padamu, dan juga hubungan kita selama ini. Aku menyukai mu Mia. Aku sangat menyukai mu."
"Apa? Kau...?"
"Aku jatuh cinta padamu Mia. Aku sangat menyukai mu."
...Deg.....
...Deg.....
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1