
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...ARTEMIS CLUB...
Elston menunggu di private room seorang diri. Di hadapannya sudah tersedia beberapa botol minuman yang juga ada dalam lemari penyimpanan miliknya. Lebih tepatnya, semua minuman itu adalah sesuatu yang biasa ia minum. Dan orang yang memesan nya adalah orang yang cukup mengenal selera seorang Elston Stuard.
Elston berada di ruangan itu bukan karena ia ingin bersenang-senang untuk menghibur diri. Atau juga karena ia ingin membuat skandal yang akan diberitakan pada keesokan harinya. Ia sudah bosan melakukan itu. Tapi kali ini ia datang karena sebuah janji yang sudah ia buat dengan Vivian.
Beberapa jam sebelumnya, wanita itu menghubungi Elston. Vivian mengatakan jika ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Awalnya Elston ragu. Karena Elston tidak terlalu dekat dengan Vivian. Selain itu ia juga tidak yakin dengan apa yang ingin Vivian sampaikan pada dirinya.
Sejujurnya Elston bisa saja menolak. Tapi sebelum Elston mengakhiri pembicaraan, Vivian sempat menyebutkan tentang gadis Afrodite miliknya. Dan itu artinya; pembicaraan itu berhubungan dengan Mia. Si gadis Afrodite milik Elston.
...❄️❄️...
Sudah satu jam lamanya Elston menunggu di Club seorang diri. Vivian juga belum memberikan kabar apapun pada dirinya. Wanita itu hanya meminta bertemu di sana pukul 8 malam.
Tapi hingga pukul 9 malam, Vivian belum juga datang. Ini adalah kali pertama seorang wanita rendahan membuat seorang Elston Stuard harus membuang waktu dengan percuma.
Jika saja hal ini tidak ada hubungannya dengan Mia, Elston juga tidak akan mau menemui Vivian diluar pertemuan para elite seperti biasanya. Ini sebuah pengecualian tersendiri. Karena Mia.
"Benar-benar menyebalkan!" Elston masih memainkan ponselnya seraya menunggu. Jika dalam lima menit lagi pintu di depannya tidak terbuka, Elston sudah berniat ingin meninggalkan ruangan itu. Tapi sepertinya kali ini mereka memang harus bertemu.
"Hai Georges." sapa Vivian saat memasuki private room pilihan nya. Sedangkan seorang pria menunggu diluar pintu.
__ADS_1
Cih. Goerges. Panggilan yang sungguh memuakkan bagi Elston.
"Hai juga Goerges." balas Elston menyembunyikan kekesalan. Ia harus melakukan itu, Karena ada hal yang ingin ia ketahui; Elston harus bersabar sedikit lagi.
"Maaf karena telah membuat mu menunggu." wajah pura-pura menyesal yang Elston kenali. "Tidak apa-apa. Aku justru bersyukur karena kau memberi ku waktu untuk menikmati semua ini." Elston masih menunjukkan kesenangan palsu.
"Ah, baiklah." Vivian mengambil tempat di samping Elston, dan mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. "Aku punya sesuatu untuk mu."
Mata Elston memicing dalam keremangan ruangan yang temaram. Tapi ia masih bisa melihat warna map yang di berikan Vivian dengan jelas. Berwarna coklat gelap.
"Apa ini?" senyum meragu Elston suguhkan sebagai bukti ketertarikan nya pada sesuatu yang Vivian berikan. Elston curiga.
Vivian menuangkan minuman ke dalam gelasnya sendiri. Menyilangkan kaki, dan bersender dengan nyaman pada sandaran sofa. "Seberapa kenal kau dengan gadis muda itu? maksud ku asisten mu." Vivian menegaskan bahwa yang ia maksud adalah asisten pribadi Elston.
Ternyata benar tentang Mia. Elston mendekat dengan cara yang paling feminim. "Ada apa dengan nya?" Elston juga melakukan hal yang sama seperti yang Vivian lakukan. "Gadis itu belum lama bekerja dengan ku. Memang nya ada apa?"
Vivian memberikan sorotan menilai kepada Elston. "Aku tidak tahu apa aku boleh mengatakan ini padamu atau tidak. Tapi ku rasa gadis itu sungguh keterlaluan."
"Well.. maksud mu dengan keterlaluan Vi?"
Vivian menghela nafas, kemudian menggosokkan tangan di sisi lengannya yang terbuka. "Gadis itu tinggal di apartemen yang sama dengan tunangan Ku." Hal yang baru Elston ketahui.
"Dan kau tau apa?" Vivian terlihat kesal, "Entah bagaimana keduanya bisa saling mengenal. Dan yang baru saja aku ketahui, bahwa gadis itu menggoda tunangan ku. Bahkan mereka sempat berhubungan, sedang dia sendiri tahu bahwa kami sudah bertunangan."
Apakah pria itu adalah pria yang sama? yang telah membuat gadis kecilnya terluka? karena jika memang pria yang di maksud Mia adalah tunangan yang Vivian maksudkan, maka terjawab lah sudah siapa pangeran sialan yang Mia maksudkan sebelumnya.
Sekali lagi Elston menggelengkan kepalanya. Ia ingin tertawa. Tapi ia juga merasa marah. "Apa maksud mu dengan Mia dan tunangan mu Vi. Aku belum bisa memahami semuanya. Dan bagaimana kau bisa yakin?"
__ADS_1
"Hem. Kau mungkin masih meragukan aku. Tapi aku sungguh-sungguh. Yang ku maksudkan benar mereka. Siapa lagi." Elston mengepalkan tangannya. Ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak menampar mulut yang saat ini sedang menjelek-jelekkan gadis kecil miliknya.
"Kau bisa melihat nya sendiri. Aku punya bukti-buktinya. Dan Sekarang pertunangan ku hampir saja kacau karena gadis itu. Maafkan aku Els, tapi ku rasa gadis itu bukanlah wanita yang baik. Aku takut dia akan merusak reputasi mu."
Jika ada yang tidak baik, maka orang itu adalah tunangan mu yang brengsek itu. Ingin rasanya Elston meneriakkan kenyataan itu di hadapan Vivian. Tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang.
"Jadi apa mau mu?" suara Elston terdengar dingin.
"Aku ingin membuat gadis itu pergi dari tunangan ku untuk selamanya. Tapi aku akan tidak enak padamu. Karena sepertinya kau cukup dekat dengannya. Tapi aku yakin ini bukanlah masalah untuk mu. Karena pada dasarnya gadis itu memang bukanlah orang yang baik. Lagi pula dia tidak selevel dengan kita bukan?"
"Pergi selamanya?" Elston tersenyum sinis. "Kau tenang saja. Aku akan mengirimkan gadis yang lebih baik untuk mu. Aku janji. Karena kita adalah rekan, aku yakin kau pasti memahami maksud ku bukan? gadis seperti itu bukan apa-apa."
Wajah Elston kaku. Sedang tatapan nya kini memancarkan sebuah kengerian. Tapi Vivian tidak menyadari itu. Karena ia sedang terlena dalam rencana yang dibuatnya.
"Jadi apa yang sudah kau lakukan? maksud ku untuk membuat gadis itu menghilang untuk selamanya? ada yang belum kau katakan padaku?" Elston ingin mengetahui apa saja yang mungkin sudah Vivian rencanakan atau bahkan lakukan untuk menyakiti Mia. Karena jika ya, tentu saja Elston juga harus membuat rencana.
"Aku belum melakukannya. Tapi setelah ini akan segera ku lakukan." sahut Vivian yakin. Elston semakin menegang.
"Lakukan saja apa mau mu Vi. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus segera ku selesaikan." Elston membawa map di tangannya, kemudian pergi meninggalkan private room. Sementara Vivian mungkin masih akan tinggal sedikit lebih lama untuk menyusun semua rencana jahatnya.
Sialan.
Saat tiba di mobil, Elston segera mengambil ponsel dari sakunya, kemudian mencari nomor satu-satunya pelayan yang ia miliki.
"Bones. Dimana Mia? Aku ingin kau menjaganya tetap dirumah. Jangan biarkan di pergi kemanapun sampai aku kembali."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...