OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-82


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Tepat pukul tiga dini hari, Mia mulai terjaga dari tidurnya. Kepala nya terasa sedikit pening, namun ia tetap memaksakan diri untuk bangun.


Mia mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan ia tahu bahwa tempat itu bukanlah apartemen miliknya, melainkan kamar Elston. Mungkin karena sebelumnya ia tertidur, jadi Elston enggan untuk mengantarnya pulang.


Saat Mia berbalik, didapatinya Elston yang juga sedang tertidur tepat di sisi lain ranjang. Pria itu tertidur dengan pulas seraya menggenggam erat tangannya.


Ditatapnya Elston cukup lama. Tapi entah kenapa, hatinya terasa hampa. Pikirannya bahkan terasa kosong. Ia merasa sendiri, dan sepi. Mia tidak bisa memikirkan apapun. Yang ia tahu, ia hanya ingin pergi saat itu juga.


Sepertinya ia baru saja terkena badai angin yang kencang. Karena itulah dadanya terasa sesak, dan ia butuh udara baru untuk menenangkan perasaannya.


Mia seperti baru saja kehilangan sesuatu, hingga membuat dirinya mengeram frustasi. Bagaimana ia harus menjelaskan semua perasaan ini? seperti kehilangan sesuatu yang penting dari dirinya. Apakah itu hatinya?


"Bagaimana caranya untuk mengembalikan semua perasaan ini?"


Mia menghela nafas berat sambil memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak. Dilihatnya lagi Elston, matahari nya. Pelangi yang selalu mewarnai hidupnya, tapi ia juga tidak menemukan hal itu. Hatinya benar-benar terasa hampa. Bahkan dengan kehadiran Elston.


Ia kehilangan sesuatu yang membuat hatinya berdebar meskipun mereka sedang bersama. "Aku harus melakukan apa? kenapa hatiku harus merasa seperti ini." Mia mengusap wajahnya yang terasa tebal.


Keberadaan Elston yang tepat di sebelahnya bahkan tidak memberikan efek seperti dulu, bahkan kemarin. Mungkinkah karena ia banyak menangis tadi?


Atau mungkin saja, karena ia sudah terbiasa bersama Elston, karena itulah ia justru merasakan kekosongan yang begitu nyata alih-alih berdebar dan bahagia.


Entahlah. Mungkin ia harus menemukan rasa itu lagi. Mungkin semuanya akan kembali seperti sebelumnya. Ia akan menunggu. Menunggu hatinya benar-benar sembuh.


"Lagi-lagi aku harus mengecewakan mu Els. Aku begitu jahat. Maafkan aku."


Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, Mia menggeser tubuhnya karena enggan untuk membangunkan Elston.


Ia turun dari ranjang dan mengambil mantel serta tas miliknya, kemudian pergi. Mia hanya meninggalkan catatan kecil yang ia selipkan di atas nakas.


Ia harus menenangkan dirinya. Ia butuh sendiri untuk menemukan apa yang benar-benar ia inginkan. Mia juga tidak bisa menjawab perasaan Elston jika pria itu bangun nanti.


Tidak dalam keadaan seperti ini. Ternyata seperti ini saja semuanya. Hatinya ternyata belum siap untuk membuka lembaran baru.

__ADS_1


Untuk itulah Mia harus pergi, ia harus melakukan itu untuk dirinya sendiri. Untuk kebaikan mereka bersama. Untuk dirinya dan juga Elston.


...❄️❄️...


Pukul empat dini hari, taksi yang di tumpangi Mia sudah berhenti di depan apartemen miliknya. Dengan kesadaran penuh, ia memilih untuk pulang.


Mia tidak menemukan tempat lain yang bisa ia datangi selain tempat itu. Rumah nya. Satu-satunya tempat ia bisa melakukan apapun yang ia mau. Menangis, berteriak, atau apapun yang bisa membuat dirinya menjadi lebih baik.


Ia memang pengecut. Hatinya benar-benar lemah. Ia tidak bisa menentukan jalan mana yang harus ia pilih tanpa menyakiti siapapun. Seperti yang dilakukannya selama ini.


Seharusnya ia tidak perlu jatuh cinta. Karena cinta yang di milikinya adalah satu-satunya alasan yang membuat dirinya, Elston, bahkan Owen terluka.


Atau haruskah ia pergi lebih jauh lagi? Pergi dari semua yang mengikat nya selama ini? Pergi untuk mendapatkan apa yang di inginkan hatinya. Tapi kemana ia harus pergi?


Tidak ada satu tempat pun yang tidak bisa di temukan oleh kedua pria itu. Meskipun ia bersembunyi dalam lubang semut sekali pun, salah satu dari mereka pasti akan menemukan dirinya.


Dan ketika ia ditemukan, akankah hatinya sudah menjadi lebih baik? Heh. Andai saja semuanya semudah itu.


...Benar-benar membuat frustasi....


Saat tiba di ujung tangga, Mia kembali terdiam. Untuk beberapa saat, ia dibuat mematung. Pasalnya Mia mengenali siapa yang saat ini duduk di depan pintu apartemennya.


Untuk kali ini saja. Mia tidak akan peduli pada orang lain. Hatinya terlalu lelah untuk terlibat dengan Owen. Ia hanya ingin menenangkan dirinya. Hanya ia sendiri.


Alih-alih melanjutkan langkahnya, Mia kembali turun kelantai dasar apartemen. Ia pergi keruang informasi dan tempat para security berjaga.


"Pak. Tolong naik ke lantai apartemen saya. Seperti nya Mr. Reaghal salah apartemen dan tertidur di depan apartemen saya." kata Mia pada security yang bertugas di malam itu. "Saya tidak nyaman untuk menangani nya sendiri." tambahnya lagi.


"Baik nona. Maafkan atas ketidaknyamanan anda. Saya akan menangani nya sekarang."


Saat petugas naik ke lantai atas, Mia tetap menunggu diruang jaga karena Ia tidak ingin bertemu dengan Owen.


Hanya dalam sepuluh menit, telepon diruangan itu berbunyi, "Hallo?" kata Mia menjawab.


"Nona, silahkan kembali ke apartemen anda, kami sudah mengatasinya." kata petugas yang masih berada di lantai atas. Akhirnya. Syukurlah. "Baik. Terimakasih untuk bantuan anda."


...Ting.....


...From: Owen...

__ADS_1


..."Aku tahu aku salah. Aku terlalu sering menyakiti mu Mia. Tapi meskipun begitu, aku akan tetap mencintai mu meskipun kau memilih untuk meninggalkan aku. Hatiku hanya untuk mu. Sekarang dan selamanya. Aku hanya ingin kau tahu itu....


...Yang mencintai mu. Owen."...


...❄️❄️...


...Keesokan harinya,...


Elston bergegas menuruni tangga karena tidak mendapati Mia di dalam kamar.


"Mia?" panggil Elston dengan langkah yang terburu-buru. Di ujung tangga, Elston justru disambut oleh Bones.


"Selamat pagi tuan." Sapa Bones. "Bones, apa kau melihat Mia? dia tidak ada dikamar. Apa dia berada di pantry?" tanya Owen dengan wajah cemas.


"Nona sudah pulang tuan. Katanya, dia meninggal catatan dikamar anda. Apa anda,-"


Belum lagi Bones menyelesaikan kalimatnya, Elston sudah berlari ke lantai atas. Dicarinya pesan yang Bones katakan, dan benar saja, sebuah kertas terlipat di atas nakas.


...Dear Elston...


..."Aku tahu kau akan mencari ku saat kau tahu aku tidak berada di sebelah mu jika kau bangun. Maafkan aku." emo tersenyum....


..."Aku harus pergi Els, dan maafkan atas kekacauan yang telah ku lakukan."...


..."Aku tahu mungkin aku terlalu egois. Aku telah melakukan hal yang jahat padamu. Tapi tolong beri aku waktu. Saat ini aku harus menenangkan perasaan ku."...


..."Dan mungkin akan lebih baik, jika kita tidak perlu bertemu untuk sementara waktu. Aku benar-benar minta maaf. Mia."...


Elston tidak menunjukkan ekspresi apapun saat membaca pesan yang Mia tinggalkan tersebut. Meskipun hatinya sedang dipenuhi oleh hal-hal yang ingin membuatnya berlari saat itu juga. Tapi Elston sudah siap. Ia tahu jika hal seperti ini mungkin saja terjadi.


Tapi sepertinya, Mia memerlukan lebih banyak waktu dari apa yang ia pikirkan. Ini bukan hal baru baginya. Ia bahkan bisa melakukan lebih dari apa yang gadis itu minta. Asalkan, Mia tidak terluka lebih dalam.


...To: My Afrodite...


..."Aku akan menunggu mu. Kembalilah jika hati mu sudah baik-baik saja. Yang akan selalu merindukan, Elston."...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2