OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-69


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Sekembalinya ke SEAM GROUP, Owen langsung menemui ayahnya Hilbert Reaghal. Sepanjang jalan Owen sudah memikirkan tawaran yang Elston berikan, tapi tetap saja ia tidak merasa tepat jika harus memutuskan sendiri tentang investasi tersebut.


Terlebih lagi karena syarat yang Elston berikan terkait dengan kepemilikan saham yang nilainya cukup besar.


Insting Owen mengatakan jika ada sesuatu yang mengganjal tentang tawaran tersebut. Terlebih lagi karena Elston adalah seorang pebisnis di bidang tekstil dan Mode. Dan bukan seorang pebisnis di bidang yang sama dengan perusahaan yang dimilikinya.


Tapi anehnya, Elston seperti seorang yang terobsesi untuk memiliki saham yang di perusahaannya. Hal itulah yang membuat Owen meragu.


Sebagai seorang pebisnis besar, sungguh tidak mungkin rasanya jika pria itu hanya ingin menghambur-hamburkan uang yang dimilikinya dengan percuma.


"Presdir ada di ruangannya?" Tanya Owen, menunggu.


"Ada tuan. Presdir sudah menunggu kedatangan anda."


Owen pun langsung menuju keruang kerja milik ayahnya seraya membawa kontrak kerjasama yang Elston tawarkan.

__ADS_1


"Papa." Hilbert Reaghal duduk di meja kerjanya sambil memeriksa beberapa pekerjaan. "Son, masuklah." Hilbert tersenyum, kemudian menghentikan pekerjaannya sejenak. "Bagaimana pertemuan mu dengan Mr. Stuard, apakah semuanya berjalan lancar..?"


Owen menyerahkan map kontrak di tangannya. Duduk di depan Hilbert. Dari wajah putranya, Hilbert yakin ada sesuatu yang menganggu Owen. "Apa kita memerlukan investasi ini papa? rasanya seperti seseorang ingin mencuri perusahaan dari kita." ujar Owen mengutarakan pendapatnya secara gamblang.


Hilbert Reaghal tertawa saat mendengar pendapat singkat putranya. "Apa menurutmu begitu Son? Jadi apa pendapatmu tentang kontrak ini?" Hilbert ingin melihat bagaimana putranya memberi keputusan pada masalah tersebut.


"Jika melihat dari situasi perusahaan kita saat ini, aku rasa semuanya cukup stabil. Lagi pula Mr. Stuard sudah memiliki saham yang cukup besar disini. Jika seandainya pun pria itu ingin menambah investasi, meskipun tanpa tambahan nilai saham ku rasa semuanya akan baik-baik saja. Lagipula saham yang di milikinya sudah cukup besar."


"Apa menurutmu pria itu memiliki niat lain dengan perusahaan kita?" Itu adalah hal yang sempat Owen curigai. Tapi ia tidak menemukan alasan untuk mendukung kecurigaan tersebut.


"Entahlah Papa. Aku kurang begitu mengenal pria ini. Karena pria itu terlihat berbeda dari apa yang di beritakan. Maksud ku, dia memang terlihat berbeda dalam segala hal."


Owen murni mengatakan pendapat nya secara objektif. Baik sebagai seorang pengusaha maupun sebagai seorang pria. Dan seperti biasa, insting Owen jarang sekali meleset.


"Dan papa rasa. Tidak salah jika kau meragukan segala sesuatu seperti saat ini. Itu karena kita adalah seorang pebisnis." dukung Hilbert.


"Dan ingatlah Son, dalam setiap keputusan yang dibuat, akan ada konsekuensi yang mengikuti di belakangnya. Jadi, menurut papa saat ini kau sudah melakukan yang terbaik."


"Sisanya, papa yakin kau bisa memberikan keputusan yang akan menguntungkan perusahaan kita."


"Terimakasih sudah mempercayai ku pa. Sepertinya aku tahu apa yang harus ku lakukan pada tawaran ini." Owen tersenyum samar.

__ADS_1


Setelah bicara pada papanya, sedikit banyak ia sudah mendapatkan sedikit pencerahan. Owen hanya tidak ingin salah langkah. Terlebih, karena ia adalah orang baru di bidang ini. Ia bukanlah ahlinya.


...❄️❄️...


Saat kembali ke ruangannya, Owen langsung menuliskan sebuah email balasan atas tawaran yang Elston ajukan.


Dan Owen yakin, keputusan nya untuk menolak tawaran tersebut adalah tawaran yang tepat. Bukan karena SEAM GROUP tidak membutuhkan uang yang Elston tawarkan, hanya saja, untuk saat ini, perusahaan mereka terbilang masih baik-baik saja.


Bahkan jauh lebih stabil dari sebelumnya. Karena itulah, ia akan menggunakan kesempatan itu lain kali saja. Jika perusahaan benar-benar membutuhkannya.


Saat ini SEAM GROUP masih berada di atas angin, dan tanpa kehilangan sahamnya pun, Owen masih bisa mengembangkan perusahaan seperti yang ia rencanakan. Semoga saja, kali ini instingnya tidak salah.


"Baiklah Owen. Kau sudah melakukan yang terbaik." Owen memberikan kata-kata penyemangat bagi diri sendiri.


Owen memejamkan mata sejenak. Menghirup udara yang cukup lembab di ruangannya. Dengan perasaan yang tenang, Owen kembali menguatkan diri sendiri.


"Terimakasih telah bersama ku hari ini sugar palm. Semoga kau selalu baik-baik saja di manapun kau berada." Pikiran Owen kembali di penuhi oleh bayangan kekasih hatinya. Wanita yang selama ini masih menempati ruang istimewa di dalam sana.


"Aku akan menunggu hari itu tiba seperti janji kita."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2