OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-55


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Owen tahu jika ini akan sulit baginya. Dari sikap yang ditunjukkan Mia, gadis itu pastilah akan membenci dirinya.


Betapa bodohnya ia. Seharusnya ia mengatakan semuanya lebih cepat. Ia pikir dengan menunda sebentar saja tidak akan membuat masalah semakin runyam. Tapi ternyata ia salah.


Apa yang dilakukan Vivian pada dirinya menimbulkan masalah baru. Tidak hanya bagi pandangan sosial pada diri serta perusahaan nya. Tapi juga pada hubungan yang saat ini sedang ia jalani bersama Mia.


Inilah kesalahan yang terlambat untuk Owen cegah. Ia pikir ia bisa memperbaiki semuanya. Tapi tidak begitu dengan hubungannya saat ini.


Mia menjauhi dirinya. Bahkan kekasihnya itu tidak ingin menatap matanya. Owen tidak tahu jika semuanya akan menjadi seperti ini. Jika saja ia bisa berpikir lebih cepat. Mia pasti akan memaafkan dirinya. Mungkin saja.


...❄️❄️...


Keesokan paginya, Owen sudah menunggu didepan apartemen Mia. Ia tahu tidak seharusnya ia merusak pagi yang indah bagi kekasihnya. Tapi ia tidak bisa tenang selama mereka masih belum bicara.


Entah itu sebuah insting, ataukah Mia memang tahu jika Owen sedang berdiri di sana. Pintu di depan Owen terbuka begitu saja. Mia berdiri sesaat sebelum kembali berbalik.


Gadis itu cantik dan segar seperti biasanya. Tapi di balik itu Owen bisa melihat wajah tanpa ekspresi yang sedang Mia tunjukan.


"Masuklah. Udara di luar dingin." Mia bersikap seperti biasa. Tapi gadis itu masih terus menghindari tatapan Owen.


"Sugar palm,-


"Duduklah Owen. Bukankah kau ingin kita bicara? aku sudah siap." Mia duduk di sofa dengan tenang. Sementara Owen meragu untuk sesaat. Namun pada akhirnya ia pun duduk di sana.


Ini adalah saatnya untuk mengakui semua kesalahan yang telah Owen lakukan.


"Aku minta maaf Mia. Aku sangat tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan yang mungkin tidak bisa kau maafkan." kata Owen sungguh-sungguh.


"Aku juga telah berbohong padamu." Mia masih diam. "Aku ingin mengatakan siapa aku sebenarnya, sungguh. Hanya saja kebodohan ku adalah menunda melakukan semua itu."

__ADS_1


"Dan tentang Vivian." Owen diam sesaat untuk melihat reaksi Mia. Tapi gadis itu masih begitu tenang. Bahkan ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun. Seperti ia sudah mengetahui semuanya lebih dulu. Meskipun tanpa pengakuan konyol yang jelas-jelas sudah terbukti. Ini semakin membuat owen Frustasi.


"Aku sungguh minta maaf. Semua itu terjadi begitu saja." Owen mendekat kepada Mia dan meraih tangannya. Tangan yang saat ini terasa dingin. Semoga saja hanya tangan. Bukan hati kekasihnya yang berubah dingin.


"Kau tahu bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Vivian hanya mantan tunangan ku sayang."


...Mantan tunangan, tapi kalian menghabiskan malam yang panas bersama? begitu kah?...


Mia masih tidak menjawab atau berkomentar apapun. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Owen. Ia memang marah dan merasa di sakiti. Tapi lebih dari pada itu, Mia hanya menyayangkan mengapa ia begitu mudahnya larut dalam perasaan yang belum siap untuk mereka mulai.


Ketulusan dan juga loyalitas yang Mia miliki masih belum bisa membuat hatinya bisa menerima begitu saja kenyataan bahwa menghabiskan malam yang panas bersama seorang mantan tunangan adalah hal yang tidak perlu di anggap serius. Mia belum bisa menerima hal seperti itu. Kekasih nya berselingkuh dengan wanita lain.


Mungkin selingkuh bukanlah kata yang tepat, tapi tetap saja, menghabiskan malam bersama adalah bukti yang tidak bisa Mia pungkiri telah meluluh lantakkan hatinya.


Melihat Mia yang tidak merespon apapun tentang pengakuan yang baru saja ia katakan, membuat Owen menggerakkan bibirnya frustasi.


"Marah saja padaku Mia. Ku mohon marah saja. Katakan sesuatu. Setidaknya kau bisa memaki atau mengatakan semua hal buruk padaku. Karena aku pantas menerimanya." Tatapan Mia berubah. Mata itu kini menunjukkan ketidaksetujuan dan juga kemarahan.


"Tapi jangan diamkan aku seperti ini. Aku merasa seperti kau tidak lagi peduli padaku. Maafkan aku." Owen mencium tangan Mia. Ia benar-benar tulus meminta maaf saat mengakui semua perbuatannya. Ia salah. Dan ia telah merusak kepercayaan gadis itu.


"Ku mohon Mia."


...Beberapa saat setelah keheningan yang cukup menyiksa......


"Owen." Mia balas menggenggam tangan kekasihnya. Owen menengadah. Tatapan sendunya bertemu dengan tatapan asing dari mata Mia. "Mari kita rubah semuanya. Aku tahu semuanya sudah terjadi. Dan itu hanya sebuah kesalahan."


Mata Owen terlihat resah. Tapi pria itu tidak menyela. "Seharusnya kita memang tidak saling jatuh cinta." Deg. Mia melihat dahi Owen berkerut. "Karena kita tidak saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik."


"Mia aku sungguh minta maaf. Aku berjanji tidak akan,-


"Dan aku harap kita tidak saling membuat janji apapun. Karena kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi dihari esok." Kali ini Mia harus membuat keputusan yang benar bagi hubungan mereka. Mia akan mengembalikan semua pada tempatnya. Termasuk hatinya.


"Kau harus tahu Owen. Aku sungguh-sungguh saat aku mengatakan bahwa aku menyukai mu."


"Aku juga Mia. Aku juga sungguh-sungguh." Owen memeluk Mia dengan erat. Ia seakan tahu apa yang ingin gadis itu katakan. Tapi Owen bersumpah jika ia tidak ingin mendengar semuanya saat ini.

__ADS_1


"Ku rasa aku juga mencintaimu Owen." Aku juga sangat mencintai mu Mia. "Aku juga sama." Owen memeluk Mia semakin erat. "Karena itu mari kita sudahi saja hubungan ini."


Tubuh Owen membeku. Tidak hanya tubuhnya. Tapi juga hatinya. Rasanya semua yang kini ia lihat tidak berada di tempat yang seharusnya. Semua harapan yang tadi ada bersama nya seakan pergi menjauh saat itu juga. "Mia, kau.."


"Owen. Kita belum siap untuk hubungan ini." Mia menggenggam erat tangan Owen. "Aku tahu aku sangat kekanak-kanakan. Tapi sungguh, aku tidak percaya diri untuk menjadi kekasih mu. Jadi ku mohon. Biarkan aku tetap berada di dunia ku."


"Tidak bisakah kau memberi ku kesempatan Mia..?" mata sendu Owen menusuk hati Mia. Ia tahu jika semua ini akan terjadi. Tapi kali ini saja, Mia sungguh ingin menjaga hatinya.


"Cinta itu hanya ilusi Owen. Dan aku tidak ingin terbuai di dalamnya."


Mia melepaskan tangan Owen, dan menatap wajah itu untuk terakhir kalinya. "Aku harus pergi sekarang. Sudah waktunya aku bekerja." Mia harap Owen tidak terlalu terluka karena perkataannya. Seperti hatinya yang saat ini tengah merasakan kesakitan. Mia berharap pria itu akan berbahagia nantinya.


"Kau tidak mencintai ku Mia? kau tidak akan merindukan aku? apa kau tidak akan merasa kehilangan saat kita tidak bersama lagi? karena jika tidak. Maka hanya akulah satu-satunya orang yang akan merasakan semua itu."


Genggaman tangan Owen semakin terasa kuat. Mia tahu apa artinya itu. Ia pun merasa berat untuk melakukan ini. Tapi ia tidak ingin sekali lagi berada di atas tumpukan kristal tajam yang akan membuat dirinya semakin tersakiti.


Mia melepaskan tangan Owen dan menunduk agar ia bisa menatap mata Owen dengan jelas. "Aku sungguh beruntung karena telah jatuh cinta padamu, Owen. Kau adalah cinta pertama ku. Tapi kau tahu, orang-orang selalu mengatakan, jika cinta pertama selalu memiliki kutukan nya sendiri."


Owen menahan tangan Mia di wajahnya. Hatinya terasa begitu sakit. Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya lagi. "Mia aku,-


"Kita akan baik-baik saja Owen. Seiring dengan berjalannya waktu, kita akan saling melupakan. Dan semua ini hanya akan menjadi sebuah kenangan." Mia mencium lembut kening Owen. Dan air matanya mengalir begitu saja. Karena ia tulus dengan apa yang dirasakan nya bagi pria itu.


Hanya saja dunia yang mereka miliki adalah dunia yang sangat berbeda. Dan Mia tahu, jika bersama Owen adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia wujudkan.


"Mia, berjanjilah padaku." Mia mendengar dengan tangan yang masih bertaut dalam genggaman Owen. "Jika nanti kita bertemu lagi, dan kau masih memiliki perasaan yang sama, berjanjilah untuk mengakui perasaan mu. Karena aku akan melakukan itu Mia."


Untuk terakhir kalinya, untuk kali ini saja. Owen akan menggenggam Mia dan memeluk nya erat. Karena ia tahu, bahwa ia akan sangat merindukan gadis itu. Kekasih hatinya.


..."Aku sungguh-sungguh mencintai mu."...


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2