
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Seorang pria mencintai wanita dari masa lalunya setelah sekian lama tidak bertemu adalah hal wajar terjadi.
Mia sudah sering melihat hal tersebut. Dimana tokoh pria kembali jatuh cinta setelah bertemu kembali dengan cinta lamanya.
lagipula wajar saja jika Owen kembali jatuh cinta pada Vivian. wanita itu memang luar biasa. Wajah cantik, putih, tinggi dan juga seorang wanita karir. pria mana yang tidak akan jatuh cinta padanya. Dan Mia juga mengerti jika saat ini perasaan Owen sudah lebih besar dari sebelumnya.
Keduanya bahkan terlihat cocok saat berdiri bersama, seperti pasangan yang tercipta dari langit. Meskipun begitu kenapa perasaan ini terasa aneh?
Bukankah seharusnya aku merasa senang, atau bahkan mengucapkan selamat untuk Owen tapi kenapa hatiku justru terasa sakit.
Apakah ini rasanya menjadi orang dewasa?
Mia menggeleng pelan mengusir segala kepenatan yang tiba-tiba saja memenuhi isi kepalanya.
"Selamat untukmu." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Mia. Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi kata-kata Owen barusan. Hatinya kembali sakit.
Mendengar ucapan selamat dari mulut Mia membuat Owen mengernyit bingung. "Selamat?" beo lelaki itu mengulang ucapan Mia.
Mia sendiri pun ikut bingung dengan apa yang baru saja dikatakannya. Dalam kepalanya Ia memang ingin mengucapkan selamat untuk Owen karena sudah menemukan cintanya kembali. Tapi di dalam hati Mia justru berharap sebaliknya. Bukankah ia harus berlapang dada.
"Iya. Selamat. Untuk hubungan mu, dan Ah... Apa aku salah?" Sekarang Mia lah yang dibuat bingung. Ada apa dengan tatapan Owen.
__ADS_1
Tidak ingin terlarut lebih jauh dengan hal bisa membuat nya semakin merasa tidak nyaman, Mia pun mengambil gelas yang ada di depannya dan menyeruput nya perlahan.
"Mia Ada yang ingin kukatakan padamu." Owen mengabaikan pembicaraan sebelumnya. Ia ingin kembali memulai pembicaraan baru. Mia pun kembali mengarahkan konsentrasi nya kepada Owen, meskipun jujur saja sebenarnya ia ingin segera pulang dan menutup wajah malunya.
"Katakan saja." Ujar Mia kembali berpura-pura bersikap biasa saja.
Saat ingin memusatkan perhatian penuh kepada Mia, lagi-lagi Owen kehilangan kontrolnya saat menatap wajah polos itu.
Sepertinya Owen memang selalu lemah setiap kali mata keduanya saling bertemu.
"Di mana tempat mu bekerja?" Pertanyaan menyimpang yang seharusnya tidak Owen tanyakan. Ia ingin mengutarakan perasaannya, tapi kenapa malah pertanyaan lain yang ia ucapkan.
Benar-benar bodoh.
"Tempat bekerja?" Mia bergerak gelisah. Mia tidak tahu apakah ia bisa mengatakan hal tersebut atau tidak. Dalam kontrak memang tidak tertera pernyataan yang mengatakan ia tidak bisa mengatakan pada keluarga mana ia bekerja.
"Aku bekerja di sebuah keluarga yang sedikit rahasia." Mia tersenyum canggung. Syukurlah mereka tak harus melanjutkan pembicaraan konyol sebelumnya.
Owen harus menghentikan ini. Ia tidak bisa menanyakan hal-hal pribadi pada saat seperti ini. Kenapa kau bodoh sekali Owen. Pria itu mengutuki dirinya.
Owen juga ikut tersenyum canggung, "Ku harap pekerjaan mu menyenangkan." Dan yah, Mia pun melakukan hal yang sama. "Tentu saja, terimakasih."
...❄️❄️...
...STUARD MENSION...
Avan Stuard kepala keluarga Stuard yang tidak lain adalah ayah dari Elston saat ini tengah meradang saat melihat penampakan putra keduanya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini Elston?" Bentaknya. "Apa yang kau lakukan pada dirimu?" ini bukan pertama kali Elston dimarahi seperti ini.
"Wajahmu. Dandanan mu. Apa-apaan semua ini? Kau ingin mempermalukan aku? apa ini lelucon bagimu? Bagaimana jika orang melihat mu seperti ini? Sampai kapan aku harus mentoleransi perbuatan mu ini. Hah?" Wajah Avan memerah. Bahkan suaranya terdengar bergetar. Pria itu benar-benar sudah meledak.
Sedangkan yang di marahi justru bersikap masa bodoh. "Ai.. ai.. papa. Lihat dirimu itu. Kau sudah tua. Jangan terlalu mudah marah. Aku tidak ingin kau mati di depanku. Orang lain akan mengira aku lah yang membunuhmu." Elston memainkan kuku tangannya yang baru saja di beri perawatan khusus.
"Papa sabarlah. Kakak tidak berniat begitu." Alex menyela untuk menenangkan Avan. Alex adalah saudara tiri Elston dari istri ketiga papanya.
Elston hanya memandang jenuh pada drama menjilat yang sudah sering di lihatnya itu. Keluarga ini memang tak pernah berubah. Cih. Dasar keluarga rubah!
"Lihat dirimu itu. Kau benar-benar memalukan. Kau telah mencoreng kehormatan keluarga ini!" marah Avan lagi, tapi Elston tetap tidak perduli. Bahkan ia menganggap makian yang diterimanya hanyalah angin lalu.
"Seperti nya aku lah yang harus bilang begitu?" Sahut Elston mengabaikan kemarahan Avan.
"Anak kurang ajar!" Kau pikir siapa dirimu? Kau benar-benar gila! Bawa dia keluar dari hadapan ku."
"Aih... tidak usah repot-repot tuan Avan yang terhormat. Aku akan pergi sendiri. Dan satu lagi.. Jangan selalu memanggil ku ke tempat ini. Ini benar-benar memuakkan!" ujar Elston bersikap masa bodoh.
Elston pun berlalu begitu saja meninggalkan rumah yang dulunya memberikan kenangan indah bagi Elston. Tapi sekarang tidak lagi. Ia juga tak perlu berlama-lama di tempat itu.
Elston membenci semua yang ada di rumah itu, termasuk ayahnya. Pria yang telah menghancurkan kebahagiaan miliknya.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1