OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-77


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Tuan, bolehkah saya bicara?" ujar Bones menyela keheningan diantara keduanya.


"Bicaralah Bones. Ada apa?" sahut Elston tak berminat. Tidak biasanya satu-satunya pelayan di mension miliknya itu banyak bicara. Kecuali jika hal itu memang sangatlah mendesak.


"Apa anda memiliki hubungan khusus dengan nona Mia tuan?" kata Bones memulai pembicaraan nya dengan sebuah pertanyaan.


Sebenarnya ia tidak perlu tahu tentang hal-hal pribadi mengenai tuan mudanya itu, hanya saja, Bones terlalu peduli untuk tidak terlibat bahkan dalam urusan asmara Elston. Ia hanya khawatir.


"Kenapa kau bertanya begitu Bones? dan apa masalahnya jika kami memiliki hubungan khusus?" sahut Elston masih terdengar acuh.


"Maaf jika pertanyaan saya kurang berkenan bagi anda tuan. Saya hanya khawatir." ujar Bones menjelaskan dengan suara rendah. Sejak dulu Bones memang selalu peduli pada Elston. Karena itulah ia lebih memilih untuk melayani Elston muda di bandingkan tuannya di mension utama.


"Nona Mia adalah wanita yang baik. Dan jujur saja saya merasa senang melihat perubahan anda selama anda bersama nona Mia." ungkap Bones lagi. Mendengar hal itu, kini perhatian Elston mulai teralih sepenuhnya.


"Lalu, apa maksud dari pertanyaan mu sebelumnya, apa aku tidak pantas untuk menyukai Mia, karena dia seorang gadis yang baik?" Entah kenapa Elston merasa tidak senang mendengar kata-kata penuh keraguan yang keluar dari mulut Bones. Ah.. ataukah dirinya saja yang terlalu sensitif.


"Tidak. Bukan begitu tuan muda." ralat Bones cepat. "Anda juga seorang pemuda yang baik. Hanya saja, pria tua ini terlalu khawatir apakah anda sudah memikirkan bagaimana resiko yang akan di tanggung nona Mia jika seandainya hubungan kalian berlanjut?" Bones hanya khawatir dengan apa yang akan mereka berdua hadapi nanti. Terlebih jika sudah menyangkut keluarga besar Stuard.


Sekarang Elston benar-benar tidak menyukai pembicaraan ini. Ia tidak suka di dikte oleh siapapun, meskipun ia tahu tujuan Bones baik.


"Apa kau pikir aku akan membiarkan orang yang ku sukai menderita karena sudah menjalin hubungan dengan ku?" kesal Elston karena merasa di ragukan. Kekhawatiran Bones telah melukai harga dirinya sebagai seorang pria.


...Ia bukanlah seorang pria lemah yang sampai tidak bisa melindungi satu orang wanita. Lantas kenapa muncul keraguan seperti ini?...


"Jadi anda benar menyukai nona Mia?" tanya Bones lagi beralih dari topik sebelumnya.


Elston tidak langsung menjawab. Ia menatap Bones dari kaca, sambil menyipitkan kedua matanya menyelidik. "Sebenarnya apa yang ingin kau ketahui Bones, pertanyaan mu terlalu berbelit-belit." Elston bersuara dingin. Ini kedua kalinya di waktu yang sama ia merasa kesal pada pria yang selama ini sudah mengurus dirinya itu.


"Hanya ingin memastikan saja tuan. Jika anda tahu apa yang sedang anda jalani." peringat Bones dengan sebenarnya. Dan Elston tahu apa artinya itu. Hanya saja, ia tidak ingin diragukan. Ia hanya ingin orang percaya pada dirinya, terlebih jika hal itu berhubungan dengan Mia.


"Aku benar-benar tersinggung Bones. Bukankah seharusnya kau yang lebih mengenal bagaimana aku? bagaimana bisa kau meragukan aku seperti ini?"


"Kau tenang saja. Aku akan menjaga Mia dengan baik. Apakah selama ini aku terlihat main-main bagi mu?" ujar Elston bersuara dingin.


"Tidak tuan."


"Kalau begitu jangan banyak bertanya. Urusan tentang aku dan Mia, biar aku saja yang mengurus nya." tutup Elston tidak ingin di bantah. Sebab ia tahu apa yang menurut nya benar. Baik bagi dirinya dan juga Mia.

__ADS_1


...❄️❄️...


...E-X-S GROUP...


"Selamat siang tuan. Mr.Reaghal sudah menunggu anda." Sekertaris Elston menyambutnya di depan pintu. Elston tidak menjawab ia hanya terus melangkah hingga tiba di ruangannya.


...1...


...2...


...3...


...Tersenyum lah.!...


"Wow.. maaf membuat anda lama menunggu. Saya terlambat karena ada urusan mendesak yang harusnya saya selesaikan terlebih dahulu." Elston bertingkah seperti sebelumnya. Seperti wajah yang di kenali banyak orang. Wajah si pria pesolek.


"Tidak masalah. Saya yang datang tanpa pemberitahuan di luar janji temu yang sudah di tetapkan. Maaf sudah membuat anda terburu-buru." balas Owen sama ramahnya.


Elston melepaskan jas nya, lalu duduk dengan kaki menyilang. "Tidak perlu dikatakan. Saya sangat mengerti bagaimana orang-orang seperti anda. Seorang pebisnis yang gigih." ujar Elston dengan sedikit berbisik.


Owen hanya membalas dengan senyum sumringah miliknya. Sial. Pria ini ternyata tampan. "Senang mendengar pujian dari anda." tambah Owen di ujung senyuman nya.


Dengan gerakan yang luwes, Elston melambai dengan gerakan seringan bulu pada Owen, "Ah, itu bukan masalah besar. Aku bisa memberikan pujian sebanyak yang orang mau, tidak ada ruginya. Benar bukan?" Ah ayolah. katakan apa tujuan mu. Wajah ku sudah mulai kaku karena tersenyum. Gerutu Elston dalam hati.


"Jadi, ada apa kau mengajakku bertemu? apa ada pembahasan lain tentang kerja sama sebelumnya, Mr.Reaghal?" Elston melipat kedua tangannya, mulai bersikap serius.


"Sebenarnya, ada hal lain yang ingin ku tanyakan pada mu Mr. Stuard. Hal yang ingin ku tanyakan diluar pekerjaan."


Diluar pekerjaan? Elston tersenyum misterius sambil mendekatkan dirinya pada Owen. Berpura-pura tertarik.


"Benarkah? apa itu? apa yang bisa ku lakukan untuk mu Mr. Reaghal?" Ayolah, katakan saja.


"Panggil Owen saja. Rasanya agak terlalu canggung, karena ini bukan tentang pekerjaan." balas Owen terlihat sedikit ragu.


Ah... lihat wajah itu. Kau ingin pamer jika senyummu sangat memikat? Cih. "Well, baiklah. Kalau begitu, kau bisa memanggilku dengan cara yang sama. Jadi.."


"Aku hanya ingin memastikan seseorang pada mu. Maaf jika ini terdengar aneh karena aku bertanya secara langsung. Ini mungkin terdengar konyol." ucap Owen dengan wajah sedikit malu. Apa ini? kami bukan sahabat ataupun teman bertukar pikiran, apa yang sedang pria ini lakukan? Elston sedikit resah.


"Ah, tidak masalah. Katakan saja. Kau ingin memastikan apa?" Elston membujuk. Pembicaraan di antara pria ini benar-benar membuat dirinya tidak nyaman.


"Mia."


Deg..

__ADS_1


"Namanya Mia Allura." ulang Owen dengan jelas. Dan tentu saja hal itu membuat tubuh Elston menegang. "Apa gadis ini benar bekerja pada mu? maksud ku, aku tahu karena Mia mengatakannya padaku begitu."


"Siapa gadis ini bagi anda Mr. Reaghal?" Wajah Elston kaku dengan tatapan datar. Apa urusan mu dengan wanita ku? "Bukankah.."


"Kekasih ku. Mungkin terdengar konyol. Tapi Mia adalah kekasih ku." sela Owen cepat. "Dia memang gadis yang mandiri. Karena itu aku tidak membatasinya dalam hal apapun, termasuk bekerja dimana pun dia mau. Karena itu..."


"Berapa lama hubungan anda berlangsung?" sela Elston lagi. "Apakah.."


"Hubungan kami baik-baik saja. Dan tadi pagi kami masih seperti biasa." Owen kembali menyela. Seperti biasa katamu? "Ah maaf jika pembicaraan ini agak.."


"Tidak masalah Mr.Reaghal. Jadi apa yang ingin anda tanyakan?" ujar Elston benar-benar tidak senang. Ia tidak bisa terus berpura-pura seperti ini. Sialan.


"Aku hanya ingin memastikan apakah kekasih ku benar bekerja dengan anda. Hanya agar kekhawatiran ku berkurang saja. Jika benar, maka aku tidak perlu terlalu cemas. Karena saya tahu anda tidak akan mengincar sesuatu yang bukan milik anda, bukan?" Cih. Benar-benar memuakkan. Wanita mana yang kau sebut dengan kekasihmu? kesal Elston dalam hati.


"Dan kenapa anda baru cemas sekarang? bukankah seharusnya anda cemas sejak dulu?" Elston berusaha menahan agar ekspresi wajah nya tidak berubah. 'Jika benar yang anda katakan itu.''


"Mia sudah lebih dulu bekerja sebelum kami resmi menjalin hubungan. Gadis itu terlalu luar biasa, dan aku tidak ingin membuat nya menjadi seperti orang lain hanya karena menjalin hubungan ku, meskipun gadis diluar sana akan melakukan hal yang sebaliknya. Tapi Mia tidaklah demikian." aku Owen dengan raut wajah seorang pria yang penuh perhatian.


"Ah, jadi anda sedang bertindak sebagai kekasih yang baik." sahut Elston, membuat sindiran kecil. Dalam hati ia benar-benar ingin menyudahi pembicaraan tersebut.


"Ah, senang rasanya jika anda mengerti maksud hati saya." What? mengerti? Gila.


Elston tertawa kecil. "Tapi sepertinya anda keliru satu hal, O-wen." kata Elston menyebutkan nama pria itu dengan sedikit penekanan. "Tidak ada orang bernama seperti itu yang bekerja dengan ku. Karena kau tahu sendiri, aku tidak akan menempatkan sembarang orang di sisiku. Terlebih jika aku tahu gadis itu terlibat hubungan asmara yang akan merepotkan."


"Ah.. benarkah? sepertinya saya salah menduga. Mungkin yang di maksud oleh Mia adalah orang lain. Maaf jika anda harus mendengar hal seperti ini dari saya. Bahkan sepertinya saya sudah membuang waktu anda. Tapi setidaknya saya merasa lega." timpal Owen dengan senyuman hangat.


"Lega...?"


"Ya. Setidaknya, kekasih saya tidak berbohong tentang pekerjaan nya." sekali lagi Owen tersenyum lega. Entah apa maksud pria ini datang pada dirinya dengan cara seperti ini.


"Ah.. jadi selama ini anda meragukan perkataan kekasih anda." lanjut Elston dengan sengaja. Tatapan mengejek itu sangat jelas di tunjukkan pada Owen.


"Aku tidak pernah meragukan kekasih ku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk nya, karena cinta."


"Cinta?" alis Elston terangkat dengan cara yang tidak biasa. Cinta katanya? Cih. Yang benar saja. Jika kau mencintainya kau tidak akan menyakitinya seperti dulu. Tapi biarlah. Toh semua itu sudah berlalu. Sekarang Mia milik ku.


"Mungkin anda akan mengerti jika anda juga jatuh cinta pada seorang wanita. Kalau begitu saya permisi. Terimakasih sudah meluangkan waktu berharga anda Mr. Stuard." ujar Owen dengan senyum ramah. Ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berbalik menatap Elston sekali lagi.


"Senang bekerja sama dengan mu Els..." tutup Owen seraya menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya. Setelahnya, pria itu benar-benar menghilang di balik pintu.


..."Els...? kau pikir dirimu siapa? Siapa yang mengijinkan dirimu memanggil ku begitu? Sialan!" ...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2