OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-47


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Waktu berlalu dan terbuang begitu saja. Terkadang mereka larut dalam keheningan. Terkadang mereka hanya saling menatap seolah-olah saling menebak apa yang di pikirkan oleh mereka masing-masing.


"Bisakah kau jelaskan sedikit padaku tentang dirimu yang saat ini sudah berhenti mengajar?" Kali ini Mia yang memulainya. Mia diam dan menunggu. Mia ingin melihat bagaimana respon Owen. Maukah pria itu membuka dirinya kepada Mia.


Mia juga ingin tahu alasan yang sebenarnya di balik cuti mendadak yang Owen lakukan. Sudah sejak beberapa jam lalu mereka hanya berdiam diri.


Satu-satunya yang mereka lakukan hanyalah berpelukan. Padahal Mia mengharapkan hal yang lain dari Owen.


Tangan Owen yang tadinya konsisten mengelus sisi luar tangan Mia tiba-tiba terhenti; "Ah, aku lupa tentang itu sayang. Maafkan aku." kata Owen mendesah pelan. Lupa? apakah benar itu alasannya?


"Aku minta maaf. Seharusnya aku mengatakan padamu sejak awal." Owen meletakan dagunya di pucuk kepala Mia.


Mia berbalik untuk memperhatikan wajah Owen, memastikan bahwa pria itu tidak sedang membuat kebohongan kecil.


Dan yang Mia dapati hanyalah kesungguhan. Owen memang melupakan tentang cutinya karena sibuk dengan pengalihan kepemimpinan di SEAM GROUP. Perhatiannya teralihkan untuk sesaat.


"Kau pasti terkejut saat mengetahuinya. Aku minta maaf sugar palm." tangan Owen membelai lembut pipi Mia dan memberikan kecupan kecil di sana. Owen berharap Mia memaafkan kelalaian kecilnya.


Mendengar pengakuan Owen Mia hanya bisa mengangguk samar. Mia tidak bisa membantah atau mengatakan hal lain dari pada kebenaran yang pria itu katakan. Tapi anehnya hati kecilnya merasakan ada sesuatu yang lain yang sedang Owen sembunyikan.


"Tidak masalah." Mia berbalik dan kembali bersender di dada owen. Lagi pula apa yang ia harapkan? kejujuran? jangan bercanda. "Tapi jujur saja aku sedikit kecewa." Mia ingin menjadi kekasih yang pengertian. Tapi ia juga ingin Owen tahu tentang perasaannya.


"Karena ku pikir kita sudah cukup dekat. Tapi ternyata aku masih tidak tahu apapun tentang dirimu." ujar Mia yang dirundung sedikit perasaan kecewa.


Sebagai seorang kekasih Mia tidak akan menuntut banyak hal dari Owen, tapi ia juga tidak akan menutupi perasaannya pada pria itu. Termasuk tentang apa yang sudah dilakukan Owen. Mia kecewa dan itu adalah kebenarannya.

__ADS_1


"Berapa lama kau akan cuti?" Mia ingin tahu lebih banyak. Terlepas dari apapun itu. Sebisa mungkin Mia akan mencoba memahami Owen.


Mungkin saja hal yang belum bisa Owen ceritakan pada dirinya adalah sesuatu yang juga belum bisa ia pahami. Karena itu Mia memilih untuk menahan dirinya.


Mia masih bisa menunggu. Menunggu Owen percaya padanya, bahwa ia juga bisa menjadi tempat bersandar bagi pria itu.


"Aku tidak tahu sayang. Tapi sepertinya akan memakan waktu yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan." Maafkan aku Mia! Ini bukan saatnya.


"Aku akan mengatakannya nanti." Tambah Owen lagi. Sepertinya Mia harus puas hanya sampai di sini. Ia masih belum mendapatkan kepercayaan itu.


Mia terdiam sesaat. Tangan Owen membelai rambutnya dengan lembut, dan sering kali membubuhkan ciuman di sana.


"Lalu apa bisa kau ceritakan padaku tentang pekerjaan barumu? karena jujur saja perkataan sir Wishley sedikit membuatku bingung."


Owen mengernyit, "Wishley?"


Mia mengangguk kecil, "Dosen pengganti yang baru. Dan juga dosen yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian banyak gadis." jelas Mia menambahkan fakta lain.


Mia mengangguk sekali lagi untuk membenarkan pertanyaan Owen secara gamblang. "Ku rasa begitu." Mia hanya bicara tentang fakta. Lucas Wishley memang seorang pria yang tampan dan juga cukup populer. Mia tidak melebih-lebihkan hal tersebut.


Mendengar jawaban lugas Mia, wajah Owen semakin di tekuk, pandang Owen juga terlihat berbeda, "Apa kau juga tertarik padanya?" Oh God. Apa sekarang ia sedang di curigai?


Dan Mia tahu alasannya, kekasihnya itu sedang cemburu. "Sir Wishley memang tampan. Tapi dia bukan seleraku." Mia tersenyum geli saat melihat rona wajah Owen berubah dalam hitungan detik.


"Lalu, apa aku selera mu?" Owen meraih tangan Mia dan menciumnya, serta senyuman kecil terukir di wajah Owen. "Karena saat ini kau yang menjadi kekasihku, well, bisa di bilang begitu."


Owen kembali memeluk Mia dan mengeratkan tangannya. "Lalu apa kau juga mencintai ku?" pertanyaan lain yang membuat Mia langsung terdiam. Kembali lagi pada prinsipnya, Mia tidak akan berbohong tentang apa yang dirasakan nya untuk pria itu.


Owen adalah kekasih pertama Mia. Mia tidak yakin bagaimana definisi cinta yang dimaksudkan oleh Owen. Perasaan seperti itu, Mia tidak yakin apakah ia sudah merasakannya atau justru sebaliknya.


"Hem. Sejujurnya aku tidak tahu. Tapi aku yakin bahwa aku cukup menyukai mu."

__ADS_1


Fakta lain yang tidak akan pernah Mia sembunyikan. Karena ia memang menyukai Owen, dan sepertinya rasa suka Mia semakin hari semakin bertambah.


"Aku juga sangat menyukai mu sugar palm."


...❄️❄️...


Sepanjang hari Mia hanya berada di apartment bersama Owen. Bisa di bilang mereka menghabiskan waktu bersama-sama untuk saling mengenal satu sama lain.


Owen juga terlihat enggan untuk kembali ke apartemen miliknya dan terus memaksa untuk berada di sekitar Mia. Dan jujur saja, Mia tidak merasa keberatan menghabiskan akhir pekannya bersama dengan Owen.


Pukul delapan lewat lima belas menit. Mia sedang menyiapkan makan malam. Dan Owen membantunya untuk membersihkan meja.


"Apa ada hal lain lagi yang tidak aku ketahui tentang dirimu? aku tidak ingin selalu di buat terkejut dengan hal-hal baru yang nantinya akan ku ketahui dari orang lain." seperti sebelumnya.


Bukan berarti Mia mau mengungkit-ungkit kesalahan yang pria itu lakukan. Hanya saja Mia ingin hubungan mereka menjadi hubungan yang sehat dan saling terbuka.


"Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu sayang. Tapi aku tidak tahu harus dari mana memulai nya." bukan hanya tentang siapa dirinya. Owen juga ingin mengakui kesalahannya pada Mia.


Tapi di sisi lain, Owen takut jika Mia akan membencinya karena kesalahan yang sudah ia lakukan.


"Kenapa? apakah begitu rumit? apa kau ternyata seorang penjahat? atau seorang yang seharusnya aku hindari?"


Owen tertawa kecil. "Aku yakin bukan kedua-duanya sayang. Dan sebuah catatan, aku tidak ingin kau menjauhiku." peringat owen. Kemudian meraih tangan Mia. "Hanya saja seperti katamu, ini sedikit rumit."


Mia mengangguk perlahan, "Kalau begitu aku akan coba memahami nya perlahan-lahan. Ceritakan saja jika kau sudah siap. Aku menunggu."


"Terimakasih sayang. Aku tahu bahwa kau sungguh bisa memahami ku. Aku janji akan mengatakannya dalam waktu dekat."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2