
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Kenapa kau harus peduli padaku? seharusnya kau memalingkan wajahmu dengan tegas agar aku tidak berharap lagi padamu Mia." suara Owen bergetar.
Wajahnya masih ia sembunyikan diantara kedua tangannya yang mengepal. Setidaknya dengan cara ini, ia bisa menyembunyikan rasa sakit yang terus menusuk dalam dadanya. "Kau tahu betapa aku mencintaimu bukan? Aku sungguh mencintaimu." kata Owen lagi.
"Tapi lihatlah, sepertinya aku sudah kehilangan semua kesempatan ku." tawa hambar itu terdengar samar.
"Apa kau benar-benar bahagia bersamanya? Kau mencintai nya, Mia?" tanya Owen masih tidak ingin menatap Mia.
Sebagai seorang pria yang selalu mencintai wanita ini, setidaknya Owen hanya ingin memastikan hal itu. Jika Mia benar-benar bahagia, mungkin saja ia bisa merelakannya.
Tapi untuk semua itu, tentu saja ia butuh waktu. Ia tidak akan bisa melupakan semua perasaannya begitu saja. Bagaimanapun, selama ini cinta nya benar-benar hanya tertuju pada Mia saja.
"Apa kau bisa bahagia jika aku bahagia?" sahut Mia dengan cara yang sama. Saat ini Mia tengah duduk diujung tangga yang sama dengan Owen.
Entah apa yang mereka lakukan. Meskipun mereka bukan anak kemarin sore, tapi rasanya cara ini jauh lebih benar. Sudah seharusnya mereka duduk bersama dan bicara dari hati ke hati dengan jujur..
Dengan begitu, mungkin saja akan ada hasil lain yang bisa mereka dapatkan, dari pada harus saling melukai seperti sebelumnya.
"Aku hanya perlu berusaha untuk bahagia, bukan? mungkin, ya." jawab Owen berusaha tersenyum. Tapi senyum itu terasa menyakitkan bagi Mia.
Dan jawaban yang seperti dipaksa kan itu membuat nafas Mia berubah sesak.
Matanya terasa panas, sedang darahnya berdesir dengan cepat. "Hem." sahutnya. Meskipun terdengar menyakitkan, Mia tidak ingin melukai siapapun lagi. Berharap setelah ini, mereka dapat saling merelakan satu sama lain.
__ADS_1
Karena itulah, keputusan harus dibuat dengan benar..
"Aku mencintai Elston. Dan aku rasa aku akan bahagia bersamanya, Owen." air mata Mia mulai menetes. Buru-buru Mia mengusapnya, dan sekuat tenaga ia berusaha menahan perasaannya.
"Ini mungkin terdengar lucu bagimu." Owen mendengarkan. Saat ini wajahnya mulai dipalingkan pada Mia.
''Dulu aku sangat mencintaimu. Dan aku juga sangat terluka karena mu." ucap Mia lagi. Owen tahu benar akan hal itu.
"Dan disaat terburuk dalam hidupku, di sanalah Elston ada untuk ku. Aku pikir aku tidak akan memiliki perasaan itu lagi, perasaan yang pernah ku miliki untuk mu." Mia tersenyum.
"Tapi anehnya, semakin lama aku bersama Elston, aku mulai berubah. Aku mulai memikirkan bagaimana kebahagiaan ku. Aku mulai memikirkan bagaimana masa depan yang akan kami jalani nanti, dan untuk pertama kalinya juga aku merasa bahwa aku telah menemukan rumah yang tepat untuk ku tinggali."
"Tempat yang hangat dan nyaman. Tempat yang selalu menerima keberadaan ku apapun itu, dan bersamanya membuat aku selalu merasa terisi penuh. Karena itulah... aku bahagia. Aku benar-benar bahagia Owen." kata Mia.
Kali ini senyum di wajah itu benar-benar berbinar. Senyum yang selalu Owen lihat dulu. Senyum yang juga pernah menjadi miliknya.
Gadis yang dicintainya benar-benar bahagia rupanya..
Tapi bukan berarti, ia tidak tahu apa artinya. Ia tahu dengan jelas. Hanya saja, orang yang tidak akan tahu apa yang ia rasakan.
Meskipun Owen telah kehilangan cintanya untuk keduakalinya, tapi ia masih memiliki detak jantung itu, dan debaran itu masih sama. Tidak akan pernah terhapus meskipun gadis itu bukan miliknya lagi.
Ahh... seperti nya debaran ini akan terus bertahan untuk waktu yang entah kapan...
...Sekarang, apakah sudah saatnya untuk merelakan Mia?...
Melepaskan seseorang yang dicintai untuk bahagia, memang berat. Tapi ia akan melakukan semua itu. Owen akan melakukannya demi kebahagiaan Mia.
Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Rasa yang penuh dan sesak namun harus dibuang begitu saja hanya demi masa depan yang lebih bahagia.
__ADS_1
"Sekarang, apa kau benar-benar bisa melepaskan aku, Hem?" mata yang selalu bersinar setiap kali mereka bertemu kini tengah menuntut kepastian pada dirinya. Mata itu kini tengah menatapnya dengan segenap perasaan yang mulai tak menentu.
Mata yang selalu membuat jantung nya berpacu lebih cepat, mata yang membuat nya jatuh cinta, dan juga terluka di saat yang sama.
"Hem. Aku akan melepaskan mu saat ini juga." kata Owen dengan mata yang mulai memerah. "Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu Mia, dimana pun kau berada, kau akan selalu di cintai. Meskipun hal ini benar-benar sulit untuk ku, tapi aku akan mencoba nya."
Untuk terakhir kalinya, Owen ingin melepaskan Mia dengan senyuman. Tapi ternyata, hal ini benar-benar sulit untuk dilakukan.
"Aku,-" Owen menghela nafas berat.
"Aku akan selalu mencintai mu seperti ini. Dan juga akan bahagia untuk mu, Mia. Aku benar-benar akan berusaha bahagia untuk mu." tambah Owen. Sungguh kata-kata yang sulit untuk ia ucapkan.
"Hem. Aku akan menanti kan saat itu Owen. Kau harus bahagia." Mia tersenyum, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. "Terimakasih karena telah mencintai ku. Terimakasih untuk semuanya." Mia memeluk Owen. Kali ini benar-benar untuk yang terakhir kalinya.
Mia tidak akan pernah menyesali semua yang pernah terjadi diantara mereka. Semua perasaan yang ia rasakan sungguh sangat berarti.
Cinta pertama dalam hidupnya. Kebahagiaan pertama, dan juga perasaan tersakiti yang pertama kali ia rasakan, semua itu sungguh berharga.
Perasaan yang muncul dan memenuhi hatinya, perlahan-lahan terus bertumbuh dan berkembang, hingga akhirnya rasa itu juga mati, dan berganti dengan yang baru. Semua itu akan selalu ia ingat sampai kapanpun.
Meskipun tidak bisa terus memiliki nya, setidaknya semua rasa itu akan tetap terpelihara dan akan ia simpan rapat-rapat dalam sana.
Salah satu tempat istimewa yang sejak lama telah tercipta dalam dirinya.
"Sampai kapanpun, aku akan selalu mengingat bagaimana jantung ini pernah berdetak untuk mu, Mia. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Tidak akan pernah."
...THE END'...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...