
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Sepanjang perjalanannya Mia hanya bisa terdiam. Ia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di hadapan semua orang.
Saat ini ia harus bekerja. Dan sebagai seorang yang profesional, Mia harus bisa mengendalikan diri serta perasaannya.
"Anda baik-baik saja nona?" Bones bertanya karena Mia tidak terlihat seperti biasanya. Mia yang biasanya ceria dan memiliki banyak topik untuk dikatakan saat ini telah menjelma menjadi sosok yang begitu dingin dan diam.
Seperti gadis itu meninggalkan jiwanya di tempat lain. "Aku baik-baik saja Bones. Hanya sedang memikirkan tugas kampusku." elak Mia tidak ingin diketahui.
Mia akan menyimpan rapat-rapat apa yang dirasakan nya saat ini. Ia tidak ingin sisinya yang seperti ini diketahui orang lain, bahkan orang terdekatnya. Tidak akan. Mia bisa menyimpan semuanya sendiri. Bukankah ia sudah terbiasa bersikap dingin pada dirinya sendiri? Hal seperti ini tidak akan mempengaruhi dirinya.
"Nona, sepertinya mobil di belakang mengikuti kita. Apa ini ada hubungannya dengan anda..?"
Mia berbalik dan mendapati seperti yang bones katakan. Itu mobil Owen. Owen sedang mengikuti dirinya. Padahal jelas jika Mia mengatakan mereka akan bicara nanti. Bukan sekarang.
"Biarkan saja. Aku sedang tidak ingin menemui nya Bones. Maafkan aku harus membuat ketidaknyamanan seperti ini terjadi."
Menuruti permintaan Mia, hanya dalam waktu singkat Owen telah kehilangan jejak keduanya. Bones berhasil membuat mereka menghindar dan tiba tanpa masalah sedikitpun.
"Kita sudah sampai nona." Bones membukakan pintu. Dan dalam hitungan detik, Mia yang baru saja dilihatnya telah berubah menjadi Mia yang ia kenal selama ini.
__ADS_1
"Terimakasih tuan Bones. Maaf merepotkan mu. Aku akan naik sekarang." Mia tersenyum dengan raut wajah yang terlihat ganjil bagi Bones. Entah gadis itu menyadari nya atau tidak. Tapi senyum itu terasa begitu dingin dan menyedihkan.
...❄️❄️...
"Els.. Kau didalam?" Mia mengetuk pintu, dan menunggu. Mia telah kembali menjadi dirinya yang profesional. Bukan lagi Mia yang sedang menyimpan sebuah kehancuran. Hanya untuk sementara. Ia berharap bisa bertahan sebentar lagi. Hanya sampai pekerjaannya selesai.
Pintu didepan Mia terbuka. Senyum simpul juga telah terpasang diwajahnya. "Kau datang? masuklah. Aku sudah menunggu mu." suara Elston membuat perasaan Mia sedikit lebih baik.
"Ada pekerjaan lain hari ini? kau terlihat sibuk." Mia menghampiri Elston yang saat ini telah duduk di sofa kebesarannya. Sofa yang biasa pria itu gunakan untuk bekerja.
"Hanya memeriksa beberapa laporan. Kemari lah. Ada pekerjaan untuk mu." Elston mengarahkan telunjuk lentik nya pada Mia.
"Apa itu? kau yakin aku bisa melakukannya?" Mia berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Elston. Mata keduanya bertemu; Mia terdiam sesaat untuk melihat senyum simpul yang Elston suguhkan padanya.
Tapi ia tidak tahu tepatnya pekerjaan mana yang dimaksudkan Elston padanya. "Apa?"
Elston mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya hampir saja bersentuhan; "Bisa tolong pijat bahu ku. Rasanya tubuhku hampir remuk." kata Elston dengan suara manja ciri khas dirinya.
Mia mendesis sesaat seraya mengulum senyum. "Kau ini. Aku kira pekerjaan apa." Mia pun segera berpindah kemudian berdiri tepat di belakang Elston. Tangannya mulai memijat bahu Elston yang terasa kaku.
Sementara pria itu masih melihat pada tablet yang Mia yakini berisi laporan tentang hasil penjualan di perusahaan milik Elston.
"Terimakasih gadis kecil. Kau benar-benar telah membuat hariku menjadi lebih baik. Rasanya aku bisa menyelesaikan semua ini saat ini juga."
Ingin rasanya Mia juga tersenyum lega seperti yang Elston lakukan, tapi entah kenapa, ia seperti kehilangan dirinya. Owen mempengaruhi hati dan inderanya dengan begitu kuat.
__ADS_1
Ah.. andai saja aku tahu jika jatuh cinta juga akan memberikan perasaan seperti ini, mungkin aku akan berpikir ulang untuk memberikan hatiku pada pria seperti Owen. Lirih Mia.
Ia tidak pernah menyangka; Jika Owen akan menyakiti dirinya secara berulang.
Elston merasakan tangan Mia yang mulai kehilangan eksistensinya. Karena itulah ia mendongakkan wajahnya dan menatap tepat kepada sosok yang berdiri di belakangnya saat ini. "Kau baik-baik saja?"
Sosok yang sedang menahan tangis dalam diam. Mata yang biasanya berbinar kini mulai berkaca-kaca.
Elston berbalik dengan cepat sambil memegang erat tangan Mia. Hati Elston merasakan ketidaknyamanan yang sama. "Ada apa?" wajah Elston menunjukkan kepanikan. "Apa aku telah melakukan kesalahan? atau aku telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ku katakan?"
Tidak menjawab pertanyaan Elston, Mia justru mulai terisak. Ini bukan keinginannya. Mia sungguh-sungguh ingin menahannya sendiri. Tapi saat ini ia tidak bisa melakukannya lagi. Hati yang tadinya kokoh seperti batu karang justru remuk redam begitu saja.
Gelombang yang menerpa dirinya jauh lebih kuat dari yang sempat ia pikirkan. Ia kalah. Hatinya terlalu lemah. Ini bukan jalan yang ingin Mia lalui. Tapi apa boleh buat, kakinya sudah terlanjur menginjak duri yang terhampar tepat di depannya..
"Aku tidak bisa menahannya Els. Rasanya aku akan gila jika aku tidak menangis. Maafkan aku. Maafkan aku."
Wajah itu. Suara itu. Bahkan tangisan itu. Semuanya secara konstan membuat jantung Elston berdetak lebih cepat. Ia pernah melaluinya satu kali. Dulu ia pernah merasakan hal yang sama. Dimana kenyataan membuat dirinya menjadi sosok yang gila hingga tak berdaya.
"Kau tidak sendirian Mia. Aku di sini bersama mu." Elston memeluk Mia dan menyalurkan kewarasan terakhir yang dimilikinya. "Menangis lah. Menangis lah sepuas mu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku disini bersama mu."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1