OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-32


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...PPIV ROOM...


...ATHENA BOUTIQUE...


Sesuai dengan namanya, kini Elston dan Mia sedang berada di rumah mode salah satu desainer ternama yang juga adalah teman baik Elston. Elisabeth.


Setelah selesai dengan pertemuan sebelumnya, Elston ingin merubah suasana hatinya. Karena itulah ia ingin pergi menghabiskan sebagian uangnya untuk menyenangkan diri sendiri.


Dan baru beberapa waktu di sana, Elston sudah membeli beberapa pasang baju, sepatu dan juga tas yang baru saja di tampilkan di fashion show pekan ini untuk memberikan dukungan nyata pada sang desainer.


"Maaf karena telah membuat mu lama menunggu Els," wanita itu menunjukkan wajah menyesal saat menghampiri Elston dengan langkah yang terburu-buru.


"Kau tau sendiri betapa sibuknya tempat ini setelah pertunjukan." karena itulah Elston di sini. Karena ia tidak ingin orang lain mendapatkan barang bagus yang telah di incaran nya saat pertunjukan.


"Tidak masalah Sayangku. Kau lanjutkan saja. Aku bisa mengurus barang-barang ku. Staf mu juga sudah cukup membantu." Elston membalas dengan senyum maklum.


Baru saja Elisabeth ingin duduk di samping Elston, ponselnya sudah kembali bergetar.


Sekali lagi Elisabeth menunjukkan wajah menyesal karena harus kembali meninggalkan Elston sendiri. "Aku janji akan menemani mu di kunjungan berikutnya." Elisabeth menunjukkan ponselnya yang sedang mendapatkan panggilan.


Elston pun mengangguk samar kepada Elisabeth. Lagipula Elston memang tidak berniat di hebohkan oleh terlalu banyak orang, karena ia punya Mia yang akan membereskan semuanya.


...❄️❄️...


Mia yang memperhatikan barang-barang Elston hanya bisa menggeleng takjub. Mia menyayangkan semua barang itu jika nanti nya sudah tidak terpakai lagi.


Tidak masalah jika harganya tidak seberapa. Tapi barang-barang yang Elston beli justru bernilai jutaan dollar hanya untuk satu item.


"Kau yakin masih ingin memilih lagi? ini sudah terlalu banyak Els." protes Mia yang sudah selesai mengumpulkan tas belanjaan Elston di atas meja.

__ADS_1


Elston mengalihkan sebentar perhatian nya; "Aku belum melihat semua ini banyak. Ini masih sedikit Mia." ujar Elston acuh. "Akan ku pilih lagi beberapa." putus Elston.


"Terserah kau saja." lagi pula bukan uang ku yang di pakai untuk membayarnya.


Selagi Elston sibuk melihat majalah mode di tangannya, Mia memeriksa ponsel miliknya yang tadi sempat bergetar.


...From: Owen...


..."Aku ingin meresmikan hari jadi kita dengan makan siang bersama. Kau bisa? jika ya, sampai bertemu di kampus sugar palm ❤️"...


Mia tersenyum, lalu menuliskan balasannya..


...To: Owen...


..."Tentu. Sampai nanti."...


...❄️❄️...


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, yang artinya dalam 2 jam Mia harus sudah berada di kampus dan bertemu dengan kekasihnya. Owen menunggunya di sana.


Elston meringis, "Sepertinya aku akan menuruti mu. Aku selesai." Oh God. Akhirnya. Mia mendesah lega.


"Apa ada salah satu yang kau sukai lagi dari sana..? sepertinya kau sangat menikmati bacaan mu." Mia menyusun rapi barang-barang di samping nya seraya menunggu Elston menyelesaikan bacaannya.


"Tidak ada. Ini bukan tentang mahakarya. Hanya tentang seorang putra mahkota yang pada akhirnya kembali pada jalan yang benar." ujar Elston memberi komentar.


Mia membulatkan matanya dengan polos; "Maksud mu Putra Mahkota di negara kita? Dia tersesat? pangeran Char.."


"Ini putra mahkota yang lain Mia." sela Elston cepat dan alhasil Mia tertawa geli karena berhasil menggoda Elston.


"Memang nya apa yang putra mahkota itu lakukan?" tanya Mia yang juga jadi penasaran dengan isi tulisan yang Elston baca.


Alis Elston tertaut; "Ini rumit. Tapi tidak ada yang menarik. Hanya berita membosankan. Putra mahkota mendapatkan kekuasaan dan juga mendapatkan tunangan nya sekaligus. Sepertinya mereka akan menjalani pernikahan politik dalam waktu dekat. Itu saja." ringkas Elston kemudian menutup majalah tersebut dengan asal.


Mia tersenyum menanggapi Elston, "Kedengarannya tidak buruk. Mungkin memang begitulah takdirnya. Bukankah kau juga seorang putra mahkota?"

__ADS_1


"Aku bukan putra mahkota. Aku seorang kaisar." sahut Elston dengan dagu terangkat menunjukkan wajah arogan.


"Ya.. Ya.. senang bisa melayani anda kaisar." Keduanya mulai berjalan keluar. Tapi di tengah-tengah Elston berbalik tiba-tiba dan langsung memberikan tatapan tajam penuh peringatan pada Mia;


"Kau tidak boleh jatuh cinta pada seorang putra mahkota, atau pangeran atau sejenisnya Mia. Kau tidak akan cocok dengan mereka." kecam Elston.


Mia menggeleng cepat; "Tidak akan. Jangankan seorang pangeran, memimpikan jatuh cinta pada pengawal nya saja tidak." Mia sangat tahu diri; karena itulah ia merasa bersyukur karena jatuh cinta pada seorang pria yang biasa saja.


Karena Mia tahu, bahwa langit dan bumi tidak akan bisa menyatu. Mia pun enggan untuk mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


Elston terlihat ragu, "Kau mengerti yang ku katakan bukan? jangan berani-berani jatuh cinta pada kalangan seperti itu. Istana bukanlah tempat yang cocok untuk mu, kau tidak akan bisa bernafas di sana." Elston bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Karena sedikit banyak ia bisa memahami bagaimana karakter Mia.


"Tentu. Istana memang tidak akan pernah cocok untuk ku. Sebaliknya, aku akan pergi ke kuil persembahan para dewa dan mengikuti mu agar kecantikan mu abadi. Mungkin saja aku juga akan berubah menjadi cantik. Sepertinya itu jauh lebih baik." ujar Mia asal.


Tapi tidak bagi Elston; "Itu terdengar lebih bijak. Kau memang lebih cocok untuk mengikuti ku."


Mia tersenyum seraya mengerling sekali pada Elston. "Kau akan memberikan bonus lebih?"


"Ingin kau gunakan untuk apa uang mu? membeli sebuah planet? karena jika ya, aku akan membeli milik ku juga." Beginilah Elston akan menghadapi Mia.


Mia melipat kedua tangannya, "Planet ini sudah cukup. Akan ku gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat."


"Baiklah. Asal kau bekerja dengan baik."


"Siap yang Mulia kaisar. Mia Allura siap melayani anda kapan saja." dialog yang akan selalu keduanya mainkan.


"Bekerjalah dengan baik wahai gadis penyihir. Ini adalah titah dari raja mu."


"Dengan segenap hatiku yang Mulia."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2