OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-14


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...SEAM GROUP...


"Dimana aku bisa bertemu dengan Direktur Hilbert Reaghal?" Owen berdiri di depan meja resepsionis dengan perasaan yang bercampur aduk.


Owen bisa saja menelpon ayahnya dan mengajaknya untuk bertemu di luar kantor. Atau pilihan lain adalah pulang kerumah mereka, rumah ayahnya. Tapi Owen justru memilih sebaliknya.


Tujuan sebenarnya karena Owen ingin melihat secara langsung situasi seperti apa yang di maksudkan oleh Vivian beberapa hari sebelumnya.


"Tuan Hilbert sedang ada meeting penting tuan. Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" kata wanita resepsionis menjelaskan sekaligus kembali bertanya. Resepsionis itu adalah seorang pegawai baru, karena tidak satupun pegawai SEAM GROUP yang tidak mengenal siapa Owen.


"Katakan saja Owen mencarinya. Kalau begitu aku akan menunggu di ruangan ketua." Ujar Owen membuat keputusan.


"Tapi tuan," Owen menunjukan kartu VVIP miliknya, "Sampaikan saja seperti yang ku katakan." tambah Owen tegas.


"Baik tuan."


...❄️❄️❄️...


Meeting yang berlangsung ternyata lebih lama dari dugaan Owen. Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu di sana, tapi meeting itu belum juga selesai.


Saat ganggang pintu di putar, Owen sedikit merasa lega karena ternyata ia tidak harus menunggu lebih lama. Owen juga sudah bersiap untuk bertukar salam dengan papanya setelah sekian lama, tapi ternyata yang datang bukanlah orang yang Owen harapkan.

__ADS_1


"Kau?" Vivian berdiri di ambang pintu. Seakan-akan Owen datang untuk dirinya.


Vivian tersenyum, "Kau benar-benar datang rupanya. Aku kira itu hanya gosip saja." Vivian kembali menutup pintu, kemudian mengambil tempat tepat di depan Owen. Sedang Owen masih menatap Vivian dengan wajah kebingungan;


Mengerti akan ekspresi yang di tunjukan Owen, Vivian pun menjelaskan maksud nya kepada pria itu, "Kau sudah menjadi pembicaraan di seluruh kantor. Karena itulah aku buru-buru mencari mu kesini." kata Vivian dengan sebenarnya.


Kenyataan yang selalu Owen hindari. Bahwa ia selalu saja menjadi perbincangan setiap kali ia menunjukkan dirinya. Tidak hanya di SEAM GROUP, tapi tempat lainnya juga yang berhubungan dengan papa nya dan juga, Vivian.


"Aku baru tahu jika para staf memiliki banyak waktu luang untuk menyebarkan omong kosong di bandingkan bekerja." balas Owen sarkas.


"Ayolah Owen. Santai saja. Siapa juga yang tidak mengenal mu kecuali orang itu buta." Sahut Vivian tidak ambil pusing dengan ketidaknyamanan yang Owen rasakan.


Vivian melirik pada jam tangannya kemudian duduk dengan santai di depan Owen. "Duduk saja. Lagi pula tidak ada wartawan di sini. Kau tidak perlu cemas begitu." suara Vivian terdengar mengejek.


Wajah Owen pun berubah muram, karena kesabaran nya mulai menipis. Owen tidak suka di permainkan, terutama jika yang melakukan nya adalah Vivian, "Kau sedang menyindirku?" wajah Owen semakin kaku.


Owen berharap waktu segera cepat berlalu. Atau setidaknya Vivian segera pergi dari hadapannya. Owen tidak suka dengan kenyataan bahwa dulu ia sempat tergila-gila pada wanita yang gila akan kekuasaan itu.


Untuk kedua kalinya ganggang pintu kembali terputar. Tubuh Owen menegang, dan sosok yang di tunggu Owen pun tiba. Papa nya.


Harus Owen akui bahwa ia merindukan pria tua yang selalu memberinya dukungan itu, "Papa?" Owen memeluk Hilbert cukup lama.


"Nak. Kau benar-benar datang." Hilbert membalas pelukan hangat putranya. "Senang melihatmu kembali."


...❄️❄️❄️...


Owen membiarkan mobilnya berjalan perlahan saat kembali ke apartemen.

__ADS_1


Papa ingin agar kau segera mengambil alih perusahaan Owen. Papa tahu apa yang kau cemaskan, hanya saja, saat ini semuanya sudah berubah.


Kau tidak bisa terus seperti ini. Kembalilah secepat mungkin. Atau papa harus dengan berat hati menyerahkan perusahaan ini kepada orang lain. Kau tahu bukan apa yang papa maksudkan?


Kata-kata papanya membuat hati Owen menjadi bimbang. Terlalu sulit untuk memutuskan seperti apa kehidupan yang ingin Owen jalani di masa depan.


Di satu sisi Owen ingin terus menjalani pekerjaan nya sebagai seorang pengajar, karena itu adalah impian Owen sejak dulu.


Tapi di sisi lain, Owen juga harus memikirkan papanya sedang membutuhkan dirinya. Begitu pula dengan SEAM GROUP yang sudah keluarga nya bangun 26 tahun silam.


Owen tidak bisa membiarkan papanya menyerahkan perusahaan mereka begitu saja kepada orang lain. Meskipun tidak tertarik dengan dunia bisnis, tetap saja Owen merasa tidak rela. Karena SEAM GROUP adalah hasil kerja keras papanya.


...Tapi apa yang harus Owen lakukan?...


...From: MIA...


..."Apa nanti kita bisa bicara? ada yang ingin ku sampaikan. Aku akan tiba pukul tujuh."...


...Owen tersenyum samar....


...From: Mr. O...


..."Tentu. Kita memang harus bicara."...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2