
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...2 Minggu kemudian......
...SEAM GROUP...
Owen kembali ke ruangannya dengan wajah merah padam. Saat ini Owen sedang menahan kemarahan yang hampir saja membuat dirinya meledak.
Pakaian Owen juga sudah tidak serapi sebelumnya. Ia kembali dalam keadaan yang sedikit kacau. Bahkan Dasi yang terpasang sempurna di lehernya pun kini menghilang entah kemana. Persetan dengan dasi sialan itu. Owen mengumpat penuh kemarahan.
Sementara di ruang konferensi pers, para wartawan sedang ricuh dan saling bertanya satu sama lain mengapa Owen pergi begitu saja tanpa memberikan pernyataan. Terutama tentang berita yang baru di rilis satu jam sebelum jumpa pers.
Yaitu tentang pernikahan Owen dengan Vivian yang akan di laksanakan dalam waktu dekat. Sialan!
"Seharusnya aku tahu." Owen menghembuskan nafas gusar. "Permainan licik ini tidak akan berhenti sampai di sini." Owen mengeratkan tinjunya. Owen sangat yakin jika kali ini adalah ulah Vivian lagi.
Wanita itu memang tidak bisa di percaya. Owen tidak habis pikir. Bagaimana ia bisa kembali di permainkan. Bahkan Owen hampir saja masuk ke dalam perangkap yang sudah Vivian rencanakan.
__ADS_1
Apakah melewati malam yang panas juga rencana licik Vivian? Gila! Owen benar-benar tidak habis pikir. Vivian sudah sangat berbeda dengan gadis yang di kenalnya dulu. Owen mulai takut.
Vivian yang penuh kasih dan juga perhatian, kini berubah menjadi sosok yang begitu asing.
Tapi kali ini Owen tidak akan bermurah hati pada trik kotor yang Vivian mainkan. Sudah cukup baginya membiarkan wanita itu melakukan apa yang diinginkannya selama ini. Sekarang Owen tidak akan tinggal diam jika Vivian berniat menyeret dirinya sekali lagi.
Ia harus bisa menghentikan semua berita yang sudah beredar. Tidak hanya tentang pernikahan nya, tapi juga semua berita miring lainnya. Owen yakin Vivian sudah pergi dengan sebuah rencana yang akan membuat dirinya terperangkap.
"Tenanglah Owen. Ini bukan masalah besar. Kau pasti bisa mengatasinya. Kau adalah Owen Reaghal. Kau yang memegang kendali."
Owen tidak menyangka, setelah menunda jumpa pers untuk beberapa saat justru memberi kesempatan bagi Vivian untuk merencanakan semua ini. Sialan.
Saat Owen hendak menemui ayahnya nya untuk meminta penjelasan terkait perilisan berita tentang dirinya, pintu ruang kerja Owen terbuka dengan suara yang cukup nyaring; Vivian berdiri di sana dengan wajah memerah.
"Apa yang baru saja kau lakukan Owen? bukankah seharusnya kau berada di sana?" Vivian memberikan protes atas sikap yang di tunjukan Owen di depan para media.
Owen balas menatap Vivian dengan sama marahnya, tapi lebih dari itu, sekarang Owen mulai membenci wanita itu. "Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu? apa yang sebenarnya kau rencanakan?" balas Owen dengan suara dalam. Owen sedang menahan dirinya.
Jika saja Vivian seorang pria, mungkin Owen sudah memberikan beberapa tinju pada wajah mulus sialan itu.
"Kenapa berita tentang pernikahan itu bisa keluar begitu saja? dan kenapa berita itu terkonfirmasi secara langsung oleh tim humas perusahaan ini?" tuntut Owen dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak tahu ini rencana mu?" Owen tertawa sinis. "Bagaimana berita itu tersebar sedangkan aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang isinya. Katakan kenapa?." Owen meninggikan suaranya.
"Apa kau sebegitu inginnya menikah dengan ku? karena itulah kau menggunakan cara licik seperti ini, lagi?." Owen memandang rendah Vivian. Ia sangat mengenal wanita itu. Dan baru saja Owen mengijinkan dirinya untuk dibodohi.
Vivian tersenyum miris. "Kau melakukannya lagi Owen. Sama seperti waktu itu." Vivian bersikap seolah-olah dirinya adalah orang yang paling terluka akibat pengabaian yang Owen lakukan.
"Padahal kau sendiri yang menyetujui rencana ini, tapi lihat. Kau menyalahkan aku?" playing victim. Adalah salah satu keahlian Vivian. Ia selalu bisa melakukan hal ini pada Owen. Ia selalu membuat Owen merasa bersalah dan terpojok. Itulah rencana Vivian.
Tapi kali ini, Owen tidak akan ikut dalam permainan tersebut; "Jangan menipu ku Vi. Aku tidak sebodoh itu. Jangan pernah berpikir kau bisa melakukan hal seperti ini padaku lagi!" Bentak Owen.
"Aku sudah berbaik hati untuk mentoleransi sikapmu hanya karena papa begitu menyukaimu. Tapi kali ini, tidak. Kau bukan lagi orang yang ku kenal dulu. Kau tidak akan bisa membuatku menjadi boneka mu. Camkan itu!"
Owen meninggalkan ruangannya begitu saja. Sementara Vivian masih bertahan di sana. Ia meradang atas penghinaan yang Owen lakukan secara terang-terangan terhadap dirinya.
"Kau harus membayar semua penghinaan ini Owen.!"
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1