
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Ditengah-tengah kericuhan yang terjadi, Owen pergi begitu saja untuk mengejar Vivian. Sementara para wartawan ditangani langsung oleh pengawal yang berjaga di sekitar ruang konferensi.
"Vivian tunggu aku!" Suara Owen menggema saat memanggil Vivian. Itu bukan suara memohon. Tapi sebuah perintah yang sarat akan peringatan. Sedangkan Vivian terus berjalan untuk menghindari Owen.
Para karyawan yang saat itu masih bekerja juga turut memperhatikan apa yang tengah terjadi di antara keduanya.
"Vivian!" Owen menahan Vivian yang tak menghiraukan dirinya. "Tuan." Drigo mencoba menahan Owen, tapi langsung di tepis oleh Owen.
Melihat Owen yang terus mengejar dirinya, Vivian pun akhirnya berhenti di tempat yang lebih sepi. "Kau yakin ingin meninggikan suara mu di tempat ini Owen?" Vivian memandangi sekitar kemudian menatap Owen dengan tatapan yang meremehkan.
"Jadi semua ini yang kau rencanakan? apa maksud perkataan mu tadi?" Owen masih tidak habis pikir dengan apa yang saat ini di lakukan oleh Vivian. Apakah memiliki dirinya adalah satu-satunya tujuan wanita itu, atau bahkan ada tujuan lain yang masih belum Owen ketahui.
...Cih. Mengandung? tidak bertanggung jawab? Omong kosong!...
"Aku tidak bermaksud apa-apa." sahut Vivian dengan gamblang. "Aku memang mencintai mu. Dan seperti yang ku katakan sebelumnya Owen. Kita sama-sama sudah dewasa. Hubungan seperti itu ku rasa tidak akan mempengaruhi mu. Lalu apa masalah nya? kenapa kau harus marah?" Vivian tertawa kecil. "Kau terlalu berlebihan, bukan?"
Jika di dengarkan sepintas, perkataan Vivian memang tidak memiliki arti apapun. Tapi Owen sangat mengenal bagaimana wanita itu. Vivian berbeda dengan apa yang terlihat dari luar.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? jangan bermain teka-teki seperti ini Vi. Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu." Owen menghela nafas lelah. Sudah cukup ia memikirkan segala kemungkinan yang akan menyeret dirinya jatuh. Bukan hanya itu, tapi hal ini juga sudah menyeret nama baik perusahaan.
"Jika kau mengharapkan sebuah pernikahan." Wajah Owen mengeras, "kau tidak akan pernah mendapatkan nya. Karena aku tidak mencintaimu lagi." Vivian harus tahu kenyataan itu. Dan bukan itu tujuan Vivian. Yang ia inginkan adalah merusak hubungan Owen entah dengan siapapun pria itu menjalin nya saat ini.
__ADS_1
"Tapi jika yang kau inginkan adalah memiliki perusahaan ini." Owen kembali melemparkan tatapan tajam, "Kau juga tidak akan mendapatkan nya. Karena kau bukanlah siapa-siapa."
Setelah mengatakan semua itu, Owen langsung pergi meninggalkan Vivian. Ia tidak perduli dengan apa yang akan Vivian lakukan; Owen tidak akan membuat Vivian mendapatkan keinginannya dengan mudah. Tidak akan lagi.
Sialan Owen. Sialan! Wajah Vivian memerah marah. Ia menahan diri agar tidak semakin mempermalukan dirinya.
...❄️❄️...
Tujuan Owen selanjutnya adalah tempat tertinggi yang ada di gedung itu, ruangan milik papa nya. Hilbert Reaghal.
Owen harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan apa alasan ayahnya memberikan persetujuan untuk merilis berita tersebut.
"Tuan." Sekertaris milik Hilbert menyambut kedatangan Owen, "Di mana direktur? apakah di dalam?" tanya Owen yang di yakini nya sang ayah pastilah sudah mendengar dan melihat semua kehebohan yang terjadi di lantai bawah.
"Tuan ada di ruangannya. Tuan juga sedang menunggu anda." Sekertaris Hilbert mengantar Owen sampai ke depan pintu. Mengetuknya pelan, lalu membukanya. "Tuan muda ada di sini tuan."
"Silahkan tuan." tapi ternyata Owen salah. Saat memasuki ruangan, yang pertama kali Owen dapati adalah tatapan cemas dan khawatir dari sang ayah. Yang artinya ayahnya tahu.
"Apa uang baru saja terjadi Son? ada apa dengan semua berita itu?" alis Owen bertaut. Sekarang justru ayahnya lah yang sedang menuntut penjelasan dari dirinya. Padahal Owen juga bertujuan melakukan hal yang sama.
Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, Owen berjalan kearah sofa dan duduk di sana, Hilbert pun mengikuti setelahnya. "Apa papa yang memberikan persetujuan tentang berita pernikahan itu?" Owen langsung menanyakan hal yang ingin ia ketahui.
"Ya. Ada apa dengan itu? bukankah kalian sudah setuju sebelumnya?" satu fakta lain yang tidak Owen ketahui.
"Apa? aku setuju? aku tidak pernah melakukan itu papa." karena memang itulah kebenaran nya. Owen tidak tahu apapun "Tapi waktu itu diruang ini. Kau tidak mungkin melupakan nya bukan?"
Tentu saja ia tidak akan lupa. Tapi bukan tentang pernikahan yang saat itu di setujui nya. Melainkan tentang hal lain yang Owen yakini berhubungan langsung dengan perusahaan.
__ADS_1
"Jadi waktu itu yang kalian maksud adalah tentang pernikahan?" Owen tersenyum sinis.
"Ya, tentu. Apalagi? Vivian bilang kalian sudah membicarakan nya. Karena itulah papa setuju. Menurut papa itu bukan ide yang buruk." lagi-lagi Vivian.
Wanita itu memang selalu menimbulkan masalah. "Aku tidak pernah menyetujui semua itu papa. Dan kami tidak pernah membicarakan tentang pernikahan."
"Aku dan Vivian sudah berakhir beberapa tahun lalu. Tidak ada apapun di antara kami." Oh God.
Meskipun terlihat terkejut, tapi Hilbert tidak memberikan respon yang berlebihan. "Begitu kah?"
"Vivian tidak seperti yang papa kira. Aku tahu dia selalu melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini. Tapi tidak untuk hubungan kami papa. Dan aku tidak akan pernah menikah dengan nya."
"Tapi berita itu.."
"Aku akan mengurus semuanya papa. Aku hanya ingin kau tahu kebenaran tentang kami. Tidak akan pernah ada pernikahan antara aku dan Vivian. Itu saja." Sama seperti Vivian, papanya harus tahu tentang keputusan Owen.
"Baiklah Son. Jika memang itu keputusan mu. Lakukan saja yang terbaik. Tapi ingat, apapun yang terjadi nanti, kau harus bertanggung jawab dengan keputusan yang telah kau buat."
Owen tahu apa yang dilakukannya. Bahkan saat ini ia sudah sangat sadar tentang apa yang akan ia hadapi ke depannya nanti.
"Aku tahu papa. Aku tidak akan mengecewakan mu."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1