OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-23


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...SEAM GROUP...


Suara pintu di ketuk..


"Masuklah."


Suara Hilbert samar terdengar. Pintu pun terbuka, dan sosok Vivian lah yang muncul dihadapan nya.


Vivian tersenyum ramah seperti biasanya pada Hilbert, "Selamat siang uncle." Sapa Vivian. "Vivian." Hilbert menyebutkan nama wanita itu dengan lembut dan akrab.


Hilbert sudah mengenal Vivian sejak lama, sejak nama wanita itu di kaitkan dengan nama putranya, Owen.


"Masuklah nak. Ada apa?" Sambutnya. Sejak dulu Hilbert memang menyukai sosok Vivian. Menurut nya wanita itu sangat cerdas dan juga sangat berpotensi. Karena itulah dulu ia membuat putranya bertunangan dengan Vivian saat keduanya terlibat dalam skandal.


Tapi sayangnya Owen tidak menyukai Vivian seperti Hilbert yang sudah menganggap Vivian layaknya putri nya sendiri.


Vivian selalu bersikap baik dan juga sangat kompeten saat bekerja, dan Hilbert tak memiliki alasan untuk menolak sosok Vivian.


"Apa aku mengganggu uncle?" Vivian duduk di depan Hilbert. Pria itu tersenyum lembut, "Tidak. Lagi pula apa yang membuatku sibuk jika aku punya orang-orang handal seperti dirimu." puji Hilbert atas apa yang sudah Vivian lakukan untuk SEAM GROUP.


"Apa Owen sudah memutuskan kapan ingin kembali ke sini Uncle?"Tanya Vivian. "Aku sudah bicara pada para dewan. Dan mereka setuju untuk memberikan dukungan bagi Owen jika ia benar-benar ingin mengambil alis semua tugas ini dan mengganti kan posisi uncle seperti rencana kita sebelumnya." papar Vivian lagi.

__ADS_1


Hilbert menggeleng lemah, "Aku tidak tahu Vivian. Kau tahu sendiri bagaimana sulit nya membujuk anak itu. Bahkan kau sendiri sebagai tunangan nya tidak ia dengarkan. Bagaimana dengan pria tua seperti diriku." sahut Hilbert seraya merenung.


Vivian pun melakukan hal yang sama, "Uncle tenang saja. Aku akan terus membujuk Owen sampai dia mau kembali. Kau tahu siapa aku kan, aku tidak akan menyerah hanya karena penolakan kecil seperti ini." sahut Vivian percaya diri.


Hilbert tersenyum. Ia sangat mengenal gadis di depannya, "Lakukan saja seperti yang kau mau nak. Lagipula pria itu tunangan mu. Tapi jangan terlalu kejam padanya. Dia pria keras kepala." setuju Hilbert.


"Yah tentu uncle. Aku akan bersikap baik padanya, tapi kali ini saja. Akan ku bujuk dia sampai dia mau kembali." Kini Vivian sudah mulai bertekad. Bagaimana pun caranya Vivian akan membawa Owen kembali ke perusahaan. Mereka tidak memiliki banyak waktu hingga rapat direksi di adakan.


...❄️❄️...


...MENSION ELSTON...


Matahari mulai meninggi, dan itu artinya Mia harus bangun. Padahal sangat di sayangkan jika ia harus bangun dari tempat tidurnya yang nyaman dan hangat.


Tapi kenapa kamar ku berbau seperti ini? pikir Mia yang masih terpejam.


Elston....


Buru-buru Mia membuka matanya dan memperhatikan sekitar. Benar saja. Mia sedang berada di atas ranjang majikannya. Tidur bersama pria itu.


Ah... mampus lah kau gadis bodoh. Apa yang sebenarnya kau lakukan! Bukan hanya sekali, tapi kau melakukan nya sampai dua kali!


Lagi-lagi Mia harus memarahi dirinya sendiri. Kali ini Mia benar-benar sudah berlaku sembarang.


Mia memandang cemas kepada Elston. Syukurlah pria itu masih tidur. Dan yang membuat Mia merasa beruntung ialah karena Elston memunggungi dirinya.


Mia beranjak dari atas tempat tidur perlahan agar tidak membangunkan Elston.

__ADS_1


Setelah merapikan dirinya, Mia pun langsung turun ke lantai dasar.


"Selamat pagi Bones." Sapa Mia terdengar canggung. Ia benar-benar wanita tidak tahu diri. Apa yang akan di pikirkan orang jika tahu bahwa ia tidur di atas ranjang yang sama dengan majikannya.


Bones mengangguk samar, "Selamat siang nona Mia. Saya sudah siapkan makan siang untuk anda." balas Bones tenang.


What ..?


Buru-buru Mia memeriksa jam tangannya. Pukul 1 siang.


Matilah kau Mia!


Mia tersenyum canggung, "Ah.. rupanya aku salah melihat jam." Balas Mia. "Aku akan ke kamar ku sebentar." pamitnya yang langsung buru-buru berjalan ke arah kamar tamu.


...Kali ini Mia benar-benar merasa malu....


Melihat reaksi Mia, Bones hanya tersenyum samar. Ia sudah memeriksa kamar sebelumnya karena mengkhawatirkan apa yang terjadi pada tuannya. Dan kenapa gadis itu tidak kunjung turun dari lantai atas..


Tapi setelah melihat jika mereka sedang tertidur dengan tenang, kecemasan Bones pun berkurang. Pilihan nya untuk meminta bantuan pada Mia memang lah hal yang tepat.


...Terimakasih nona......


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2