OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-74


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Pukul 6 pagi. Sebuah taksi berhenti di depan Mension megah kepunyaan salah satu pebisnis muda yang namanya akhir-akhir ini cukup sering diperbincangkan, entah di media cetak maupun media sosial. Elston Stuard.


Dan dari dalam taksi tersebut, Mia keluar dengan perasaan meragu. Bukan karena ia takut pada respon yang akan ia terima atas kehadiran nya di pagi buta seperti ini. Tapi karena kejadian sebelum itu. Hati Mia kembali goyah.


Di depan pagar megah itu, Mia yang biasanya tak pernah ragu untuk melangkahkan kaki kini dibuat mematung. Ia berpikir sejenak, apa yang seharusnya ia lakukan.


Jujur saja, Mia tidak ingin membunyikan bel. Karena ia takut jika melakukan hal itu makan bisa saja ia justru membangunkan Elston. Karena itulah Mia memilih alternatif kedua, yaitu dengan menelpon sang pemegang kunci, Bones. Meskipun merasa sungkan, Mia tidak punya pilihan lain.


Dan hanya dalam hitungan menit pintu pagar di depan Mia terbuka secara otomatis, Bones sendiri lah yang langsung menyambut dirinya. Mia merasa sedikit bersyukur.


"Nona?" seru Bones nampak tak percaya. Mia bisa menangkap raut keterkejutan di wajah Bones saat itu. Bagaimana tidak, bukannya berada di LA tapi sekarang ia justru berdiri seperti orang bodoh di sini.


"Selamat pagi Bones? maaf membuat mu bangun pagi-pagi begini." ujar Mia cepat. Meskipun merasa sungkan, Mia tidak bisa mengabaikan momen pertama mereka bertemu setelah satu tahun berlalu.


"Nona, bagaimana?"


"Aku tiba di London kemarin sore. Dan semalam aku pergi kerumah seorang teman untuk bermalam di sana." jawab Mia. Ia harap penjelasannya cukup. Dan benar saja, Selanjutnya Bones tidak bertanya lagi. Pria itu memang pintar membaca situasi. Syukurlah. "Apa kau yang memegang kunci apartemen ku?" ujar Mia langsung pada inti dari kedatangannya.


"Ah, itu benar nona. Saya akan mengembalikan nya pada anda. Masuklah." ajak Bones, ramah dan juga hangat seperti biasanya.


"Terimakasih Bones." Mia pun mengikuti di belakang pria itu tanpa pikir panjang. "Senang bisa bertemu dengan anda lagi nona Mia."


Deg...


Dada Mia menghangat. Ia terharu dan juga bahagia. Meskipun lama tidak bertemu, Bones masih menyambut dirinya seperti dulu. Bahkan sepertinya pria paruh baya itu tak berubah sedikitpun.


"Terimakasih Bones."


Saat keduanya sudah tiba di depan ruang kontrol, Mia pun hanya menunggu di depan pintu. Ia memilih untuk mengamati situasi serta setiap inci dari mension megah yang cukup lama tidak ia lihat Mia benar-benar merindukan suasana di tempat ini. Bahkan senyum simpul di bibirnya Sangat jelas menunjukkan hal tersebut.


Tak lama kemudian, Bones pun kembali lagi pada Mia. "Kunci apartemen anda nona. Saya tidak tahu bagaimana kondisi apartemen anda saat ini. Tapi sebelumnya saya sudah mengirimkan orang untuk membersihkan isinya secara rutin."


"Kau sudah melakukan banyak hal untuk ku Bones. Terimakasih." Mia merasa terharu di perlakukan dengan baik oleh Bones seperti saat ini. Terlebih lagi jika mengingat hubungan diantara mereka yang hanyalah terikat karena pekerjaan.


"O, ya, aku juga membeli hadiah kecil untuk mu. Terimalah." ujar Mia yang hampir melupakan bingkisan yang ia bawa sejak tadi.


Dengan senyum samar, Bones menerima bingkisan yang Mia siapkan. "Terimakasih nona."


"Aku hanya datang untuk mengambil kunci apartemen Ku. Aku akan datang lagi nanti, lagi pula tuan muda belum bangun bukan?" ujar Mia tidak ingin terlalu lama berbasa-basi.


"Ya nona. Tuan muda belum bangun."


"Tolong rahasiakan kedatangan ku pagi ini Bones. Aku pergi dulu, dan aku akan segera kembali lagi." ujar Mia mempersingkat waktu.


"Biar saya yang mengantarkan anda nona."


"Tidak usah Bones. Taksi sudah menunggu ku di luar. Terimakasih dan maaf membangunkan mu pagi-pagi begini."


"Tidak masalah nona. Hati-hati di perjalanan anda."

__ADS_1


...❄️❄️❄️...


...Sementara itu, ditempat lainnya......


Dengan mata yang masih terpejam, Owen menyunggingkan sedikit senyuman di wajahnya. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman. Bahkan dalam hati ia sudah membayangkan bahwa harinya akan benar-benar indah.


Tapi tiba-tiba saja bayangan itu kembali melintas...


Ingatan aneh yang membuat dadanya berdebar lebih cepat. Dan hal ini membuat Owen tidak bisa mempertahankan senyum di wajahnya lagi.


Bangun dengan di hantam oleh ingatan yang membuat perasaan kembali berkecamuk membuat Owen berubah panik.


Ah sial.


...Sekelebat ingatan akan kejadian beberapa jam sebelumnya memukul kenyataan Owen dengan telak....


...Apa yang sudah ku lalukan? bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu, bahkan di hari pertemuan pertama kami?...


"Kau benar-benar Brengsek Owen!"


Ia mengingat semua pengakuan tiba-tiba nya pada Mia. Dan juga...


Ah... bisa-bisa nya.


Wajah Owen menghangat. Bayangan itu begitu kuat dalam ingatan nya. Bahkan harum tubuh Mia masih menyatu sempurna dengan aroma tubuhnya.


...Apakah aku memeluk nya sepanjang malam?...


Deg..


Deg..


Owen berhenti mematung. Otaknya kembali bekerja. Meskipun tubuhnya terasa hangat karena selimut yang mungkin saja di berikan Mia untuk menutupi tubuhnya, tapi tetap saja tidak bisa menutupi wajahnya yang merona.


Owen bergegas bangun untuk mencari Mia dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan nya semalam.


Owen tidak ingin hubungan mereka kembali berubah canggung karena perbuatan semboro yang dilakukannya.


"Mia?" panggil Owen seraya mencari-cari keberadaan gadis itu. Tapi Mia tidak terlihat di ruang tamu, pantry, maupun balkon.


"Apa gadis itu masih tidur?" mungkin saja. Owen tersenyum simpul. Ia ingin mengetuk pintu tapi tidak ingin membangunkan Mia. Karena itulah ia kembali meninggalkan depan kamar Mia dan melangkah ke pantry.


Owen harap saat bertemu dengan Mia nanti, gadis itu tidak akan mengabaikan dirinya. Apalagi dengan tingkah konyol yang dilakukannya semalam.


"Kau benar-benar. Kenapa kau masih saja jadi pria brengsek bahkan setelah perpisahan kalian. Bukankah kau seharusnya membujuk nya dengan benar. Mendapatkan kesempatan mu lagi? bukannya malah bertingkah seperti orang bodoh."


Owen memarahi dirinya. Ia Merasa konyol sekaligus berdebar. Ini pertama kalinya ia bersama Mia setelah sekian lama.


...❄️❄️...


...Satu jam kemudian......


Setelah membersihkan dirinya dan juga menyiapkan sarapan, Owen kembali berdiri di depan kamar Mia. Mungkin saja gadis itu sudah bangun, dan merasa canggung jika harus bertemu secara langsung.


Karena itulah Owen yang berinisiatif untuk mengajak Mia bicara lebih dahulu. Lagi pula ialah pihak yang sudah membuat kekacauan. "Mia?" Owen mengetuk pintu pelan.

__ADS_1


...Hening. Tidak ada jawaban....


"Mia kau di dalam?" ujar Owen sekali lagi. "Mia, aku akan masuk jika kau tidak menjawab ku." Owen menunggu sesaat. Dan masih juga tidak ada jawaban. Owen pun membuka pintu kamar di depannya, dan kosong. Bahkan semua barang-barang Mia tidak ada di sana. Mia sudah pergi.


Wajah Owen memucat. Apa Mia benar-benar menghilang lagi? Sial.


Hal pertama yang dilakukan Owen adalah berlari keluar dan memastikan apartemen yang ada di depan apartemen miliknya. Tanpa berpikir panjang Owen langsung membuka pintu.


Mia yang berada di dalam sedikit tersentak, tapi ia sudah memperkirakan semuanya, "Selamat pagi. Aku sedang membereskan barang-barang ku." ujar Mia tak terlihat canggung.


Jantung Owen yang tadi berdegup cepat perlahan-lahan mulai berdebar dengan kecepatan yang normal.


Syukurlah, ternyata Mia ada di sini. Di depannya.


"Kau pergi seorang diri? kenapa tidak membangunkan aku? aku kira.."


"Maaf membuat mu cemas. Aku baik-baik saja. Kau mau secangkir kopi?" ujar Mia mengalihkan topik. Dan Owen bisa merasakan, gadis itu kembali membuat jarak tipis diantara mereka.


...Ini salahmu!...


"Mia, maafkan aku. Aku tahu tidak seharusnya.."


Deg...


Tubuh Mia menegang. Kenapa Owen harus mengingat semua itu? kenapa tidak dilupakan saja.


"Masuklah, akan ku buatkan kopi untuk mu." tawar Mia, setelah nya beranjak dari sana. Owen pun tidak mengatakan apapun. Mungkin ia terlalu terburu-buru.


Tidak lama setelahnya, secangkir kopi sudah tersedia di depan Owen. Sementara Mia kembali menata beberapa barang yang tidak berada di tempatnya. Bisa di bilang Mia tidak ingin bertatapan langsung dengan Owen dalam situasi seperti ini.


Owen kembali memandangi punggung yang saat ini terasa jauh dari genggamannya, "Tentang semalam.."


"Sebaiknya kita lupakan saja Owen." Sela Mia cepat. Tidak. Tidak. Bukan seperti ini. Owen tidak ingin melupakan semua nya begitu saja. "Aku tidak apa-apa. Aku tahu kau mabuk, jadi.."


"Mia,-


"Semoga kita bisa kembali seperti dulu. Aku akan sangat senang jika kau tidak bersikap seperti itu lagi." Mia tersenyum canggung. Ia harap keputusan nya kali ini tidak akan goyah lagi.


Mendengar hal itu, hati Owen kembali terasa sakit. Mia sudah memutuskan ingin seperti apa mereka nanti.


...Apakah kesempatan ku benar-benar sudah hilang?...


"Aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk.-" Owen benar-benar tidak tahu ingin mengatakan apa lagi. Sepertinya ia memang terlalu gegabah. Ini bukanlah waktu yang tepat.


"Sebaiknya aku pergi. Terimakasih untuk kopinya Mia" pamit Owen kemudian pergi meninggalkan apartment Mia.


...Tidak apa-apa kau menolak ku sekarang....


...Aku akan membuat mu berubah pikiran Mia. Karena perasaan ku masih sama untuk mu dan aku yakin kau pun begitu......


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2