
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Elston masih bersama Mia. Sejak gadis itu berhenti menangis, tidak satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Mia hanya berdiam diri dengan berbagai macam pertanyaan dalam dirinya yang bisa Elston kenali dari raut wajah Mia.
Saat ini Elston sedang membawa Mia ke kantor nya. Ia tahu tidak tepat membawa gadis itu untuk datang kesana dengan suasana hati seperti saat ini, tapi bagi Elston, di sini lebih baik dari pada ia harus meninggalkan Mia seorang diri, meskipun untuk sementara waktu.
Karena bagi Elston, Mia adalah hal yang terpenting. Dalam hatinya, Elston merasakan sedikit kebahagiaan karena hubungan Mia dan kekasihnya sudah berakhir, tapi di sisi lain, Elston juga merasa terluka saat melihat Mia harus menanggung kesedihan nya.
Gadis di hadapannya nya ini ternyata memiliki perasaan yang lebih besar dari pada yang ia bayangkan. Karena itulah, Elston berjanji, jika Mia memang memilih dirinya, Ia tidak akan melepaskan Mia barang sedetik.
Mia menggeleng lemah. Jari-jari tangannya yang mungil dan tampak pucat saling bertaut, sedang tatapan matanya telah berubah gusar. "Aku tidak tahu Els." kata Mia. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku juga tidak tahu jika rasanya akan sesakit ini."
Elston tau apa yang Mia maksudkan. Perasaan gadis itu memang sedang kacau. Ia bisa melihat dengan jelas dari hilangnya sisi Mia yang biasa ia lihat. Dan tidak tepat rasanya jika ia memanfaatkan kesedihan gadis itu untuk menunjukkan eksistensi yang di milikinya.
__ADS_1
"Tenanglah Afrodite kecilku. Kau adalah seorang Dewi." Kata Elston memasang topeng seorang pria pesolek seperti sebelumnya. "Kau hanya akan merasa seperti ini untuk sesaat saja. Percaya padaku."
"Jika dalam waktu yang lama kau masih seperti ini. Maka aku juga akan berhenti saja menjadi seorang dewi. Aku akan menjadi diriku seperti yang kau mau. Aku janji." tambah Elston dengan mimik wajah membujuk. "Karena itu, aku akan menunggu hingga kau kembali seperti dirimu yang biasanya."
"Pelan-pelan saja sembuhkan rasa sakit mu. Jika kau butuh obat, aku ada di sini. Karena aku yang akan menjadi obatmu. Dan sebagai obat, aku berjanji jika kau tidak akan pernah kehabisan aku. Aku akan selalu menjadi amunisi bagi mu. Aku akan selalu ada dalam hitungan yang tidak terhingga. Sampai kau bosan bahkan sampai kau tidak menginginkan aku lagi."
Mia yakin sekali jika saat ini Elston sedang menghibur dirinya. Pria itu memang selalu menjadi pelangi setiap kali ada hujan badai yang menerpa dirinya.
"Kau ingin agar aku meminum mu seperti resep dokter saat pasiennya mengalami penyakit hati?" Mia memicing. Alisnya terangkat dengan guratan senyum samar di pipinya.
Elston balas menatap menyelidik, "Apa sekarang kau punya penyakit hati? seperti iri pada kecantikan serta ketampanan yang ku miliki?"
Kali ini Mia tersenyum samar. Baginya Elston sungguh konyol dan hangat di saat yang bersamaan. Mia bahkan tidak tahan jika harus mengabaikan Elston hanya karena perasaan terluka yang ia alami.
Elston menangkup kedua tangan Mia lalu menciumi dengan sentuhan seringan bulu. "Aku juga berharap begitu Mia. Aku berharap jika aku akan selalu menang atas apapun." Juga atas dirimu.
...❄️❄️...
...Malam harinya.....
__ADS_1
Owen kembali ke apartemen seperti biasanya. Tapi kali ini ia tidak akan lama. Owen hanya datang untuk mengambil barang-barang penting miliknya sebelum kembali pergi kerumah orangtuanya.
Sebelum Owen pergi, ia berharap agar sekali saja ia bisa melihat Mia. Owen sangat ingin memeluk kekasihnya, meskipun hanya sebentar.
Karena itulah ia berdiri sambil menatap lekat pada pintu apartemen Mia. Karena ia berharap, baik itu di sengaja ataupun tidak, mereka bisa bertemu dan saling memastikan bahwa mereka masih saling mencintai.
Owen tidak akan menjadi pria yang serakah. Karena itulah ia menuruti kata-kata Mia. Dan melepaskan gadis itu. Meskipun bagi Mia hubungan mereka sudah berakhir, tapi baginya, Mia tetaplah satu-satunya wanita yang akan ia cintai.
Mungkin saat ini Mia memang perlu waktu untuk memaafkan dirinya. Dan juga perlu waktu untuk mengakui jika perasaan yang ia rasakan bagi gadis itu adalah sesuatu yang nyata.
Owen tidak akan memungkiri jika tidur dengan Vivian adalah kesalahan terbesarnya. Tapi ia juga tidak bisa kehilangan Mia begitu saja. Karena baginya, selama ini Mia sudah memiliki tempat tersendiri dalam hatinya. Dan tempat itu tidak akan pernah digantikan oleh siapapun.
Hanya akan ada Mia di sana. Karena itu, Owen berharap jika suatu saat, mereka bisa bertemu lagi. Pada saat itu, Owen harap Mia sudah bisa memaafkan dirinya.
"Selamat tinggal sugar palm. Maafkan aku karena telah memberi mu rasa sakit hingga seperti ini. Aku bersalah padamu. Dan aku akan menebus nya dengan hidupku."
"Aku mencintaimu."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...