
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Studio apartment berukuran 38 meter persegi adalah tempat ternyaman bagi Owen.
Semenjak ia memutuskan untuk tinggal sendirian dua tahun lalu, Owen memilih tempat sederhana dan juga jauh dari keramaian sebagai tempat persembunyian baru nya.
Meskipun tidak benar-benar bisa bersembunyi, setidaknya di sini Owen bisa melakukan apa yang ia mau tanpa harus khawatir keesokan pagi namanya tertulis dalam daily news ataupun majalah metro yang selalu terbit pada rabu pagi.
Hal yang juga menyenangkan bagi Owen adalah karena ia bisa bertetangga dengan seorang gadis penuh semangat.
Mia Allura. Tetangga mudanya yang super sibuk namun selalu tepat waktu. Bahkan kesibukan Mia mengalahkan kesibukan dirinya sebagai seorang pengajar. Entah pekerjaan seperti apa yang di miliki gadis itu. Owen bahkan mulai tertarik dengan hal-hal kecil yang tidak ia ketahui.
Sambil menyeruput segelas kopi hangat yang baru saja di seduh nya Owen berdiri di depan balkon sambil memperhatikan sekitar. Sesekali Owen juga melirik ke pintu apartemen milik Mia.
Kebetulan sekali Mia adalah tetangga di depan apartemen nya. Pintu apartemen mereka saling berhadapan. Dan hanya terpisah oleh sebuah tangga dan juga pagar besi. Dengan kata lain, hanya dengan beberapa langkah Owen bisa bertemu dengan Mia.
Sepertinya, Owen lebih mirip seorang pengawas di bandingkan tetangga. Salah satu pekerjaan sampingannya selama ini. Mengamati.
...❄️❄️❄️...
Hampir satu jam lamanya Owen duduk di balkon. Pintu apartemen di depannya masih terlihat sepi dan tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan segera kembali.
"Sir...?" suara Mia terdengar sedikit nyaring. Owen mencari sumber suara yang memanggil namanya. Sementara Mia masih berjalan menaiki tangga. Dan Owen dapat melihat siluet seorang gadis yang hampir tiba di lantai yang sama dengan dirinya.
...Mia. Gadis itu sudah datang....
Owen melirik jam yang melingkar dengan gagah di tangannya. "Kau baru selesai bekerja?" Mia mengangguk samar menjawab pertanyaan Owen. "Tempat baru ku bekerja cukup jauh. Jadi aku perlu waktu untuk kembali kerumah sir."
__ADS_1
"Owen saja Mia. Lagi pula kita sudah tidak di kampus lagi." Owen memperhatikan wajah Mia yang mulai nampak lelah. "Sudah makan malam?"
Mia kembali mengangguk. "Aku sudah memakan sepotong burger dengan dua kantong kentang goreng dalam perjalanan tadi. Jadi ku rasa, sudah." Mia tidak suka mempersulit dirinya.
Terutama jika berhubungan dengan hal mengisi perut. Ia bisa makan apa saja tanpa harus duduk di meja makan.
"Apa itu cukup? bukan kah kau seharusnya makan sesuatu yang lebih sehat? kalau pola makan mu seperti itu kau tidak akan mendapatkan energi yang cukup untuk bekerja." ceramah kecil dari Owen membuat Mia tersenyum.
...Ah... sudah berapa lama ya mereka bertetangga? Mia bahkan tak sempat memikirkan hal itu....
Owen begitu perhatian dan juga hangat pada dirinya. Persis seperti seorang kakak laki-laki. Jika saja Mia memiliki seorang saudara. Mungkin akan sama seperti pria di depannya. Sayangnya, bahkan ia tak punya semuanya. Menyedihkan.
"Ya. Aku akan makan yang lebih sehat besok pagi." Turut Mia. "Kalau begitu aku masuk dulu. Aku lelah." pamitnya pada Owen. Berjalan menuju pintu apartemen nya seraya mengambil kunci dari dalam tas untuk membuka pintu.
"Mia..?" Owen menghampiri dan manahan gadis di depannya. "Bisa kau tunggu sebentar sebelum tidur. Aku ingin memberikan sesuatu." pinta Owen.
"Apa..?"
Tanpa banyak bicara Owen langsung bergegas masuk ke dalam apartemen nya. Mia hanya memperhatikan sekilas.
"Kau harus menunggu ku, mengerti." ulang Owen sekali lagi.
"Yes sir."
...❄️❄️❄️...
...30 menit sudah berlalu....
Mia sudah selesai mandi dan juga sudah memakai piyama nya. Ia Manahan agar matanya tetap terbuka.
Meskipun ia sudah begitu lelah, Mia sudah berjanji kepada Owen. Ia akan menunggu pria itu.
__ADS_1
"Apa yang ingin dilakukannya?" Mia berjalan keluar dari kamar. Berharap Owen segera datang. Matanya tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
Saat bel apartemen nya berbunyi, Mia langsung berjalan ke arah pintu. "Sir..?" Mia menyambut Owen dengan senyuman. Syukurlah ia tak harus menunggu lebih lama.
"Kau menunggu lama?" Owen terlihat beberapa kali menghela nafas. Mia mengerutkan kening. Tapi ia tidak ingin bertanya, mungkin saja pria di depannya baru selesai berolahraga malam. Mungkin itu jugalah alasan kenapa Mia harus menunggu cukup lama.
"Tidak juga. Tapi mataku tidak akan bertahan lebih lama lagi." jawab Mia dengan sebenarnya. Wajah polos tanpa make up itu membuat Mia terlihat lebih bersinar di mata Owen.
Dan wangi ini. Hati Owen berdebar. Mia berbau manis dan segar. Gadis ini baru saja mencuci rambut panjangnya. Sungguh cantik.
"Ini untuk mu. Kau bisa menyimpan nya di kulkas dan menghangatkan nya besok pagi. Ada vitamin juga." ujar Owen memberitahukan isi dari kantong belanjaan nya tanpa basa-basi.
"Kau membelikan semua ini?" Mia mengecek sekali lagi. "Anggap saja seperti dosen yang sedang mengkhawatirkan muridnya. Lagi pula kita sudah lama bertetangga. Kau terima saja." ujar Owen tidak ingin di tolak.
Mia merasa sungkan. Bagaimana bisa ia menerima pemberian pria di depannya begitu saja. Hubungan mereka memang cukup baik sebagai seorang guru dengan murid, apalagi sebagai tetangga. Tapi Mia tidak tahu apakah ia bisa selalu menerima kebaikan pria di depannya ini.
"Lain kali kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa mengurus diriku dengan baik. Tapi ku ucapkan terimakasih. Akan ku terima dengan senang hati." Lain kali Mia lah yang akan membalas kebaikan Owen.
Owen tersenyum senang, "Gadis pintar." akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk Mia.
Melihat senyum Owen, Mia jadi berdebar. Senyum pria tampan ternyata tidak selalu baik bagi kesehatan jantung nya. Bahkan sekarang Dadanya terasa aneh.
"Sebaiknya aku masuk. Dan kau juga. Terimakasih untuk barang-barang berharga ini. Selamat malam Owen." pamit Mia untuk kedua kalinya.
"Selamat malam." Mia.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1