OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-61


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Setelah kembali ke kamar, rasa kantuk yang tadinya memaksa kesadaran Mia untuk kembali terlelap kini berangsur-angsur menghilang.


Bagaimana Mia bisa kembali tidur, jika rencana kepergian mereka saja sudah membuat ia sadar sepenuhnya. Sesungguhnya, Mia merasakan sesuatu yang janggal di balik kata-kata Elston.


Pertama, Mia tidak tahu alasan kenapa dirinya harus ikut pergi ke LA. Kedua, sesungguhnya tidak ada yang bisa Mia lakukan selain hanya menemani Elston sebagai seorang pendamping. Mia tidak bisa ikut membantu dalam pekerjaan Elston sedikitpun.


Mungkinkah Elston membutuhkan dirinya untuk mengatur barang-barang pribadi seperti yang biasanya ia lakukan di sini? Tapi bukankah seharusnya lebih tepat jika Bones yang pergi alih-alih dirinya?


Dan yang membuat Mia kembali bertanya-tanya, mengapa sikap Elston justru membuat Mia merasa sedikit khawatir. Apakah sudah benar jika ia memutuskan untuk pergi? Karena setahunya, ia tidak mempunyai pilihan lain.


Pergi ke LA dan meninggalkan kota ini untuk sementara adalah suatu keberuntungan yang tidak disangka-sangka bagi Mia. Karena itu sama artinya dengan ia di beri satu kesempatan untuk melupakan semua yang telah terjadi Antara dirinya dan Owen.


Tapi bisakah ia melakukan itu? Pergi dan melupakan semuanya? Meskipun hanya sebentar, tapi apa yang ia rasakan bagi Owen adalah sebuah perasaan yang tulus. Karena bagi Mia, Owen tetaplah cinta pertamanya. Cinta pertama yang membuatnya bahagia sekaligus terluka.

__ADS_1


Mengingat semua masa-masa itu membuat perasaan Mia berubah resah dan gelisah. Ada segelintir perasaan asing yang membuat sisi tergelap dari hatinya terasa semakin menyedihkan. Ia kecewa dan juga terluka, tapi mencinta dan tak rela di saat yang sama.


Jujur saja jika saat ini Mia merasa takut. Takut jika ia selamanya tidak akan bisa melepaskan Owen sepenuhnya. Meskipun ia telah mengatakan jika hal itu demi kebaikan mereka bersama, tapi di sisi terdalam hatinya, Mia masih ingin mereka bersama. Tapi ketakutan telah mengalahkan semua keinginan tidak tahu malu itu.


Meskipun begitu. Mia selalu menghibur dirinya dengan kenyataan yang selalu ingin ia yakini benar adanya. Mia selalu berpikir jika Putus dengan Owen bukan berarti mereka tidak bisa bertemu lagi. Karena seharusnya mereka bisa kembali seperti sebelumnya. Saat-saat dimana mereka hanya menjadi seorang tetangga.


Saling bertukar sapa. Saling memberi perhatian, dan juga saling berbagi sesuatu yang bisa mereka berikan sambil tersenyum penuh kehangatan. Setidaknya semua itu bisa terulang lagi.


Atau mungkin itu hanya harapan semu yang jelas akan sia-sia. Bagaimana pun juga mereka sudah saling menyakiti. Bagaimana bisa ia berpikir senaif itu. Bukankah justru sebaliknya yang akan terjadi? mereka akan menjadi canggung dan pada akhirnya saling menyakiti lagi.


Sejak awal hubungan seperti inilah yang Mia takutkan. Tapi semuanya sudah terlanjur. Dan ia tidak bisa mengulang kembali waktu yang sudah berlalu.


Bahkan Mia tidak akan bisa melihat punggung Owen meski dari kejauhan. Apa ia bisa melakukan semua itu? meninggalkan London dan juga Owen? Bisakah?


...❄️❄️...


Mia berjalan gontai ke arah balkon. Kakinya menuntun ia kesana. Yang Mia butuhkan saat ini bukanlah tidur, tapi udara. Karena itulah Mia memilih balkon. Benar saja, hembuskan angin malam membuat fungsi otaknya kembali bekerja. Mia terduduk dan diam sejenak untuk memperhatikan ponselnya.


Sejak terakhir kali ia bertemu Owen, pria itu tidak mengirimkan pesan apapun lagi. Bahkan jika itu hanya panggilan yang tidak di Sengaja. Mia menghela nafas gusar. Karena ponselnya tidak memiliki pemberitahuan semacam itu.

__ADS_1


...Apa yang sebenarnya kau harapkan Mia? kau sudah meninggalkan nya. Owen pastilah sedang sibuk, bukan seperti dirimu....


...Pikiran Mia mulai melayang entah kemana......


Apakah saat ini Owen sudah kembali pada tunangannya? apakah saat ini mereka sedang menghabiskan waktu bersama? karena itukah Owen tidak mengirimkan pesan satu pun. Karena ada orang lain yang bersamanya.


Ataukah, justru karena dirinya? karena ia yang telah menyakiti hati Owen? bodohnya Mia. Seharusnya ia tahu apa yang akan ia hadapi. Inah kenyataan nya. Kenyataan yang benar-benar membuatnya harus kembali merasa tersakiti.


"Maafkan aku Owen. Aku merindukan mu. Aku benar-benar merindukan mu." kekosongan yang tiba-tiba menguasai hati Mia membuat air matanya mengalir tanpa ia sadari.


"Seharusnya kau tidak melakukan itu jika kau benar-benar mencintai ku. Kau tidak akan menyakiti ku seperti ini."


"Aku mencintaimu, tapi aku juga membenci mu. Aku benci padamu Owen."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2