
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Menenangkan seorang gadis yang sedang menangis bukanlah bidang keahlian Elston. Ia tak pernah melakukan hal itu. Meskipun pada keluarga terdekatnya. Ia bukan seorang ahli.
Ia sendiri pun bingung harus melakukan apa. Karena biasanya ia tak pernah peduli dengan apa yang orang lain rasakan. Lebih tepatnya, Elston tak ingin terlibat.
Tapi kali ini sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk Mia. Tapi apa? Memeluknya kah? memberikan kata-kata penghiburan? atau sebaiknya ku diamkan saja. Ini benar-benar sulit.
"Katakan padaku apa yang membuat mu menangis seperti ini? apa seseorang menyakiti mu?" Tanpa berpikir lagi, Kini giliran Elston yang menginterogasi Mia. Ia tidak tahu harus melakukan apa, selain mengambil peran sebagai seorang tuan yang tiba-tiba merasa kesal karena waktu nya telah di ganggu oleh seseorang.
"Aku tidak percaya jika kau menangis hanya karena melihatku menangis. Kau tahu sendiri siapa aku bukan?" Elston menyilangkan tangannya. Saat ini mereka sudah duduk di atas bangku yang sama.
"Aku adalah Elston yang agung, jadi aku tidak mungkin menangis. Kau hanya salah sangka. Penglihatan mu juga buruk ternyata." Elston ingin mengaburkan sebuah kenyataan.
Sementara Mia masih menangis sesenggukan.
Apakah caranya salah? kenapa gadis ini tak mau berhenti juga? atau kata-kata ku kurang terdengar?
Pada akhirnya, Elston memegang dagu Mia dan membuat wajah gadis itu menengadah. Mata keduanya pun bertemu. Mia benar-benar menangis. Tapi tentu saja ia tahu bahwa bukan dirinya lah penyebab dari jatuhnya air mata itu.
"Hei.. ayo.. ceritakan padaku gadis kecil. Kenapa kau menangis seperti ini!" ucap Elston mengulang kata-kata nya.
"Kau sendiri kenapa menangis?" balas Mia melewatkan pernyataan Elston sebelum nya. Gadis ini! "Cih. Kapan aku menangis. Jelas-jelas yang sedang menangis itu dirimu. Kau tidak sadar atau bagaimana?" balas Elston melepaskan dagu Mia kemudian kembali menyilang tangan nya.
Elston malu. Karena sisi lemahnya terlihat oleh seseorang.
Sementara Mia justru larut dalam pikirannya sendiri. Apa aku salah melihat? pikir Mia. Padahal sangat jelas tadi ia melihat Elston menangis. Kenapa pria ini mengatakan tidak? Apa hanya khayalan ku saja? Tapi aku yakin melihatnya.
__ADS_1
"Benarkah kau tidak menangis?" ulang Mia, mempertanyakan kembali kenyataan baru yang di paksakan pada dirinya. Elston kembali menggeleng. "Tidak. Kau hanya salah lihat." Elston tetap tak ingin mengakuinya.
"Lalu kau? apa alasan mu menangis?" Mia menekuk sedih wajahnya. Ia tak tahan untuk tidak menunjukkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Kalau aku tidak menangis. Aku rasa aku bisa gila." sahut Mia membersihkan hidungnya yang sedikit tersumbat.
Elston kembali berpaling. Ia menatap wajah Mia seakan mencari tahu sesuatu di wajah gadis itu.
Cukup lama Elston mengamati wajah Mia. Tak ada lagi yang ingin Elston ketahui. Karena ia yakin, baik dirinya ataupun Mia pastilah memiliki kesulitan yang di hadapi masing-masing.
Dan tak etis rasanya jika Elston terlalu ikut campur. Meskipun ia juga tak keberatan jika Mia bisa bersandar pada dirinya. "Lihat. Wajahmu benar-benar jelek saat ini. Ceps! Kau benar-benar hanya seorang gadis kecil." Elston mengusap pipi Mia yang terasa basah.
Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Elston pun sering mengalami hal yang sama seperti yang Mia rasakan. Kadang, sesuatu terjadi tak selalu sama dengan apa yang kita harapkan. Dan hal terbaik yang bisa mereka lakukan hanyalah diam bersama keheningan malam.
Membiarkan perasaan sakit itu, dan juga membiarkan semua luka berlalu bersama dengan lewatnya sang malam..
...Itu saja......
Hampir satu jam lamanya Mia dan Elston berdiam diri. Hingga suasana benar-benar terdengar tenang. Hati Mia kini terasa lebih lega setelah melepas semuanya melalui tangis.
"Astaga!" Mia berdecak kaget. Pikirannya pun sudah kembali waras.
Apa yang aku lakukan tadi? Kau benar-benar gila Mia. Gadis itu memarahi dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa melakukan hal ceroboh seperti tadi. Terlebih lagi ia melakukannya di depan tuan mudanya.
...Ah, sial....
Mia mencuri pandang ke arah Elston. Lagi-lagi pria itu sedang menengadah ke langit. Entah Elston menyadarinya atau tidak. Tapi Mia benar-benar sedang memperhatikan dirinya saat ini.
"Kau sudah tenang?" suara Elston memecah keheningan. Mia tersentak. Berbeda dengan sebelumnya, suara Elston terdengar lebih lembut dan juga menenangkan.
"Hem. Maafkan aku Elston yang agung. Aku sudah membuat kesalahan. Tidak seharusnya aku menangis seperti tadi di depan mu. Aku benar-benar minta maaf." Mia benar-benar menyesal dengan apa yang dilakukannya di depan Elston. Bisa saja pria itu memberikan penilaian jelek di akhir masa kontrak nya nanti.
__ADS_1
Elston tertawa kecil, "Rupanya kau sudah tahu salah." gumam Elston. Sejujurnya Elston justru merasa sedikit terhibur karena keberadaan Mia.
Gadis itu membuat malam nya yang sangat kelam terasa sedikit lebih baik.
Mia menunduk diam. Ia baru menyadari, bahwa pengaruh Owen dalam dirinya lebih besar dari apa yang ia bayangkan. Tahu begini ia tidak akan pernah menyalah artikan kebaikan pria itu pada dirinya.
Dasar bodoh. Sudah seenaknya berpikir, seenaknya pula melakukan hal-hal yang memalukan!
Mia sekali lagi larut dalam pikirannya. Tiba-tiba saja Elston malah berbaring di atas pangkuan Mia. Lagi-lagi Mia terkejut dengan hal-hal yang Elston lakukan.
Pria itu bahkan tidak terlihat canggung. Justru terlihat natural dalam melakukan segala sesuatu. Apa karena Elston sudah terbiasa melakukannya?
"Aku mengantuk. Aku ingin tidur sebentar." ucap Elston mengabaikan keterkejutan Mia.
Tapi Mia justru membiarkan apa yang Elston lakukan. Bahkan ia tidak merasa keberatan. Dalam hati kecilnya, Mia benar-benar yakin jika tadi Elston juga sedang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Meskipun pria itu mencoba menyangkalnya.
Saling menghibur. Mungkin itulah yang mereka sedang lakukan saat ini...
Mia menepuk pelan pundak Elston dan membiarkan pria itu terhanyut..
"Tidurlah tuan muda." ucap Mia pelan, "Aku memang tidak tahu apa yang kau alami hari ini. Tapi yang pasti, aku benar-benar bersyukur karena saat ini aku sedang bersamamu."
"Apapun yang kau alami. Aku harap, besok pagi kau bisa melupakan semuanya. Tidurlah."
..."Terimakasih karena tidak bertanya lebih jauh tentang ku... "...
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1