OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-45


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Di dalam perjalanan menuju pesta, Owen menyempatkan waktunya untuk menghubungi Mia. Ia tahu saat ini sudah hampir tengah malam, Owen hanya ingin mengucapkan selamat malam. Dan juga mengatakan betapa ia merindukan kekasihnya sepanjang hari ini.


Mia sudah seperti vitamin bagi dirinya. Karena itulah saat ini Owen merasa begitu lelah. Sepanjang hari ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan Owen sedang membutuhkan suntikan semangat dari gadis itu.


Panggilan pertama yang di lakukan Owen ternyata diabaikan. Owen mengerutkan kening lalu mencoba untuk yang kedua kali. "Apakah sugar palm ku sudah tidur?" Jika memang tidak terjawab lagi; maka Owen hanya akan menahan rindunya sampai besok pagi.


Tapi untunglah pada panggilan kedua; Mia menjawab ponselnya. Kekasihnya masih terjaga. "Hai sugar palm. Apa aku mengganggu mu?" Owen tersenyum senang dan menunggu dengan antusias untuk mendengarkan suara Mia. Owen begitu merindukan sugar palm nya.


"Tidak. Aku baru saja sampai dirumah. Kau masih belum pulang?" jawab Mia. Sekali lagi senyum Owen mengembang. "Apa kau menunggu ku sayang? aku masih di jalan. Dan sepertinya akan pulang sedikit larut." jelas Owen.


Andai saja ia tidak harus menghadiri pesta Vivian, mungkin Owen akan berkesempatan untuk bisa memeluk Mia dan mengucapkan selamat tidur pada gadis itu.


"Tidak. Aku hanya sedikit penasaran. Kalau begitu lanjutkan saja. Aku juga ingin membersihkan diriku." Owen mengernyitkan dahinya karena menyadari bahwa ternyata Mia sedang tidak berminat pada percakapan mereka saat ini. Atau hanya perasaannya saja.


"Kau lelah? Aku hanya ingin mengatakan jika aku merindukan mu sugar palm. Seandainya saja aku bisa segera melihat mu. Tapi aku juga tidak ingin meminta mu menungguku karena kau pasti lelah setelah bekerja seharian."


Tidak ada penyangkalan terhadap kata-kata Owen. Sepertinya Mia memang benar-benar lelah. "Hem. Kalau begitu sampai bertemu besok. Bye Owen."


Kali ini Mia menutup panggilan tersebut tanpa mendengarkan balasan darinya. Owen mendesah pelan.


"Selamat malam sayang. Selamat istirahat." kata Owen sesudah panggilan nya terputus.


...❄️❄️...


...ARTEMIS PARADISE CLUB...


Saat tiba di ruang VIP Owen langsung di sambut oleh Vivian. "Hai. Akhirnya kau datang juga." Vivian melingkarkan tangannya dan mencium pipi Owen sekilas.


Owen memasang wajah tidak suka karena Vivian menciumnya di depan banyak orang. "Jangan salah paham. Aku mencium mu hanya untuk ucapan selamat datang."


"Ayo. Akan ku perkenalkan kepada beberapa orang penting yang bisa mendukung perusahaan kita."

__ADS_1


Owen pun langsung mengikuti Vivian karena ia merasa bahwa ini adalah salah satu bagian dari pekerjaannya. Dan ia harus melakukannya dengan baik.


Setelah berkeliling dan menyapa beberapa orang yang Vivian maksudkan, keduanya pun akhirnya tiba di depan Elston.


"Owen, perkenalkan ini Elston Stuard. Pemilik perusahaan tekstil dan perusahaan mode terbesar di kota ini." kata Vivian memperkenalkan keduanya.


Dengan sikap profesional Owen langsung mengulurkan tangannya; Elston mengabaikan Owen untuk sesaat. Ia yakin pernah melihat pria itu di satu tempat.


"Senang bertemu dengan mu. Kau bisa menyapaku seperti yang Vivian lakukan." Elston masih menggunakan aksennya sebagai seorang pria pesolek. Elston menaikan satu alisnya saat menangkap keterkejutan di wajah Owen.


"Tentu. Senang bertemu dengan mu. Aku harap suatu hari kita bisa bekerja sama."


"Tentu. Aku menantikan itu."


...❄️❄️...


"Kau masih belum terbiasa?" Vivian menghampiri Owen dengan membawa dua gelas minuman. Salah satunya di berikan kepada Owen. "Kau tahu aku tidak suka pesta seperti ini Vi." sahut Owen enggan.


Ia duduk sedikit jauh dari tamu undangan lainnya. Owen bukannya tidak suka bergaul, hanya saja ia sangat tidak suka suasana yang ada ditempat itu.


Owen tidak menjawab. Ia hanya membuang pandangannya kearah lain. "Minumlah. Kau tidak akan mabuk hanya karena satu gelas minuman bukan?"


Dimata orang lain; Vivian dan Owen saat ini seperti sedang bermesraan, karena kedekatan keduanya. Terlebih lagi karena tempat yang di pilih Owen. Seakan-akan mengatakan jika mereka butuh privasi.


...❄️❄️...


Setelah menghabiskan dua gelas minuman, Owen merasa kepalanya begitu berat. Padahal ia yakin kadar alkohol di minumannya tidak terlalu tinggi.


"Ada apa? kau terlihat tidak sehat?" Wajah Owen memanas. Ada desiran perasaan asing yang tiba-tiba saja menjalar di seluruh tubuhnya.


Oh ****!


"Aku baik-baik saja. Aku akan pergi sekarang Vi." kata Owen berusaha mengabaikan Vivian. Tapi dengan gesit Vivian menahan Owen hingga kembali ketempat duduknya; dan menciumnya di sana.


Entah apa yang terjadi pada diri Owen. Ia yakin betul bahwa isi kepalanya ingin menolak ciuman Vivian, tapi tubuhnya menginginkan hal lain. Owen tidak bisa menghindari Vivian.


Karena terbawa suasana; Owen membalas ciuman Vivian dengan sama rakusnya. Orang-orang hanya menonton dan sebagian lagi hanya mengabaikan keduanya. Bagi mereka hal tersebut sudah biasa. Termasuk bagi Elston.

__ADS_1


Sejujurnya, ia tidak berminat pada pertunjukan intim yang di lakukan di depan umum. Sedikit murahan bagi seorang Elston. Karena itulah Elston meninggalkan pesta tepat pukul sebelas malam.


Dengan kesadaran yang masih tersisa Owen menjauhkan Vivian yang sedikit terengah-engah dari sisinya. "Kita harus menghentikan ini Vi. Maafkan aku." Tolak Owen. Sepertinya ia memang terlalu mabuk.


"Aku akan mengantarmu." Vivian menuntun Owen keluar dari ruangan. Kali ini kesadaran Owen hampir runtuh sepenuhnya. Sebaliknya, ada hal yang lain yang sedang menguasainya.


...❄️❄️...


Saat membuka mata, kepala Owen masih terasa berat, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Owen menghembuskan nafas lega saat kesadarannya berangsur-angsur pulih.


"Selamat pagi." Owen tersentak karena melihat Vivian yang berdiri di depannya dengan mengenakan sebuah piyama.


Oh ****.


Sekali lagi Owen mengumpat karena baru menyadari jika saat ini ia sedang dalam kondisi yang benar-benar tidak baik.


"Apa semalam kita melakukan itu?" kata Owen sedangkan wajahnya terasa menebal. Kepalanya kembali terasa pusing. Alih-alih menjawab Vivian justru membuka piyamanya dan menunjukkan tubuhnya kepada Owen.


"Ku rasa kau bisa memastikan sendiri apa yang kau lakukan padaku semalam." kata Vivian dengan senyuman samar. Ini sungguh gila.


Dengan pandangan yang jelas, Owen bisa melihat jejak perbuatanya semalam di tubuh Vivian. Ini adalah hal tergila yang pernah Owen lakukan. Bagaimana ia bisa lakukan hal seperti ini kepada mantan kekasihnya. Mungkin dulu itu menjadi sesuatu yang biasa, tapi tidak dengan saat ini.


Owen segera bangun dengan melilit selimut ke bagian tubuhnya; "Aku sungguh minta maaf Vi. Sepertinya aku benar-benar mabuk." Vivian hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kita adalah orang dewasa. Dan aku tidak merasa dirugikan, karena aku juga menikmati malam yang panas bersama mu." Vivian menaikan lagi piyamanya.


Owen melihat Vivian dengan tatapan wajah menyesal; "Aku janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi."


"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untuk mu. Dan sebelum pergi, kita harus sarapan. Aku sungguh lapar. Kau tidak keberatan kan untuk menemani ku?"


"Baiklah."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2