
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Mia tidak tahu apa yang membuat Owen berhenti secara tiba-tiba seperti sekarang.
Alasan yang di berikan pun terasa aneh bagi Mia; Beliau sedang melakukan tugas resmi lainnya. Itulah yang di katakan oleh dosen pengganti. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Hanya sampai di sana.
Ingin bertanya pun Mia tidak tahu harus bertanya pada siapa selain pada Owen sendiri. Tapi nyatanya; Owen lagi-lagi tidak mengatakan apapun pada Mia.
Mia menghela nafas berat; merasa kecewa dengan fakta bahwa ia harus mengetahui hal seperti ini dari orang lain. Sedangkan sebelumnya mereka sudah menghabiskan waktu semalaman untuk bicara.
Ada banyak kesempatan bagi Owen untuk mengatakannya pada Mia. Lantas apa alasan Owen bungkam?
Jika saja Owen mengatakan sesuatu atau memberikan petunjuk; mungkin Mia tidak akan merasa bingung dan kecewa seperti saat ini.
Selain karena ia tidak bisa lagi bertemu Owen di kampus; Mia juga tidak tahu apakah mulai hari ini ia bisa bertemu Owen seperti biasanya. Karena pria itu sedang melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa Mia pikirkan.
...To; OWEN...
..."Apa kau sedang melakukan tugas resmi mu saat ini?"- delete....
Mia ingin mengirimkan pesan itu pada Owen, tapi ia kembali mengurungkan niatnya. Sekali lagi Mia hanya perlu menunggu; Bukankah ia sudah bisa melakukan itu sebelumnya?
...❄️❄️...
...MENSION ELSTON...
__ADS_1
Bones mengamati tanpa berkata-kata. Sudah lima menit berlalu sejak ia menekan tombol open yang terhubung langsung dengan pagar Mension tersebut.
Mia berdiri di sana tanpa bergerak sedikitpun. Jelas memperlihatkan bahwa gadis itu sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Boooonnn... !" suara melengking milik Elston terdengar dari alat komunikasi yang berada di depan Bones. "Apa Mia masih belum sampai?"
"Nona Mia sudah tiba tuan. Saat ini sepertinya sedang bersiap-siap." sahut Bones yang masih memperhatikan Mia dari layar monitor.
"Benarkah?" suara Elston lebih antusias dari sebelumnya. "Kalau begitu suruh dia segera naik ke kamar ku."
"Baik tuan."
...❄️❄️...
"Selamat siang tuan Bones." sapa Mia saat sudah berada di dalam mension. "Selamat siang juga nona Mia." Bones membalas tanpa mengatakan apapun selain apa yang di katakan oleh tuannya.
Mia mengangguk sambil tersenyum samar; "Baiklah. Terimakasih." Mia berharap hari ini Elston tidak akan berulah. Karena jika Elston sampai melakukan hal-hal yang di luar nalar lagi, maka bisa saja Mia menjadi lepas kendali dan bersikap tidak profesional.
Sedangkan Mia tidak boleh melakukan itu. Selama ini ia selalu bisa bersikap tenang seberat apapun masalah yang di hadapinya.
Sebelum Mia mengetuk pintu, pintu kamar Elston sudah terbuka lebar terlebih dahulu. Syukurlah kondisi kamar itu terlihat baik-baik saja. Sepertinya Bones sudah berbaik hati untuk membersihkan kamar tuannya sebelum ia tiba di sana.
"Hai." Mia tersenyum saat menyapa Elston. Pria itu duduk di kursi kebesarannya sambil menyilangkan kaki seperti biasanya. Sepertinya benar bahwa Elston sedang menunggu dirinya. "Ku kura kau akan datang terlambat. Syukurlah karena kau datang tepat waktu." gumam Elston senang.
Mia tersenyum samar. Tidak ada yang bisa ia kerjakan di sana. Kamar itu baik-baik saja. Begitu juga dengan Elston. "Kau menunggu ku?" sebuah map hitam tiba-tiba di letakan di depan Mia.
Elston memberikan kode agar Mia mengambil nya. "Apa ini?" Mia meraih serta membuka untuk mengetahui apa isi map tersebut.
"Kau bilang akan melakukan kontrak seumur hidup dengan ku bukan? Aku harap kau akan menepati kata-kata mu." mendengar hal itu Mia menahan nafasnya untuk sesaat.
__ADS_1
"Kau bisa melihat dan membaca isinya. Jika ada yang tidak kau setujui. Katakan langsung padaku, aku akan segera mengubahnya." Elston terlihat begitu senang saat memberitahu Mia betapa luar biasa isi pikirannya.
"O, ya aku juga mengosongkan bagian ini." Elston menunjuk di bagian paragraf kedua. Bagian yang menurut nya penting. Mia membaca dengan seksama. "Kau bisa mengisi nominal yang kau inginkan. Terserah kau saja."
Untuk sesaat Mia benar-benar di buat terperangah. Bagaimana bisa Elston menganggap serius semua percakapan mereka sampai seperti ini. Mia pikir mereka sama-sama setuju jika perbincangan itu hanyalah sebuah basa-basi belaka.
Mia menatap sangsi pada Elston, "Kau bercanda kan?" akhirnya, Mia tidak bisa berkata-kata saat mendapati Elston yang begitu sungguh-sungguh dengan surat kontrak tersebut. Dan sekarang wajah antusias itu berubah sedikit muram.
"Apa aku terlihat seperti itu?" Wajah Elston menunjukkan rasa tersinggung. "Sebaliknya, kau yang sepertinya tidak serius dengan perkataan mu." Kini wajah itu benar-benar terlihat muram.
Ya Tuhan. Apalagi ini. Kepala Mia terasa berat. Tadi Owen. Sekarang Elston. Ada apa dengan orang-orang di sekitarnya?
"Els, dengar." Mia merendahkan suaranya, dan menatap Elston dengan serius. "Aku tidak tahu jika kau akan menganggap penting pembicaraan kita kemarin. Ini bukan tentang aku mau atau tidak. Aku sungguh menghargai tawaran ini."
Elston mendengarkan dengan raut wajah terluka; "Tapi aku masih punya mimpi lain. Pekerjaan saat ini ku lakukan hanya untuk sementara. Setelah aku lulus, aku ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan juga menjalani kehidupan ku dengan bangga."
"Jadi selama ini kau tidak suka bekerja bersama ku? kau malu berdiri di samping ku?"
Mia menghela nafas kemudian sekali menatap Elston dengan berani; "Tidak. Jangan salah paham Els." Mia meraih tangan Elston dengan lembut.
"Aku senang bekerja bersama mu. Kau bos terbaik yang pernah ku miliki. Kau sangat perhatian dan juga pengertian. Hanya saja- Bukan ini dunia yang ingin ku jalani. Ada mimpi-mimpi kecil yang ingin aku wujudkan." Mia mendesah tertahan.
"Kalau begitu aku akan mendukung mu. Tolong jadikan aku sebagai batu pijakan mu Mia. Aku ingin agar kau terus berada di sekitar ku. Kau harus melakukan itu. Harus."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1