OWEN HEART BEAT

OWEN HEART BEAT
OWEN-26


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Katakanlah Vivian. Apa mau mu sebenarnya." kata Owen sinis. Ia sudah di buat marah sepanjang hari karena memikirkan Mia.


Dan untuk saat ini Owen tidak ingin menambah kemarahan nya hanya karena kehadiran Vivian.


Seperti keinginan Owen, tanpa basa-basi Vivian langsung melemparkan sebuah map di depan Owen. Wanita itu menyilangkan tangannya seakan ia tidak pernah merasa gentar atas gertakan yang diberikan Owen kepada dirinya.


Wanita itu tidak peduli meskipun Owen menunjukan secara langsung rasa tidak sukanya. Seharusnya Owen menyadarinya.. Sejak dulu pun Vivian memang seperti ini.


"Buka dan lihatlah sendiri." Ucap Vivian berusaha bersikap ramah. Meskipun logikanya mengatakan untuk berteriak dan memarahi pria itu saat ini juga. Vivian sudah cukup bersabar dengan tingkah Owen. Dan sekali lagi Vivian harus kembali bersabar dan mengabaikan pendirian nya.


"Aku datang karena aku perduli terhadap uncle. Tidak seperti seseorang yang terlalu egois dan meninggalkan keluarganya begitu saja hanya untuk bersembunyi."


Owen meremas kuat kertas di tangannya, tapi tidak bersuara,


"Rapat direksi akan di adakan dua minggu lagi. Jika kau benar-benar peduli dengan apa yang sudah Uncle bangun selama ini, maka buatlah keputusan secepat mungkin. Dan untuk kau ketahui saja, aku tidak akan pergi sebelum mendapat jawaban Ya' dari mulutmu." Inilah yang selama ini ingin Vivian katakan pada Owen.


Meskipun dulu ia juga memiliki perasaan terhadap pria di depannya ini, tapi kali ini Vivian tidak akan bertingkah naif. Ia tahu apa tujuan hidupnya, dan target apa yang ingin ia capai. Dan bagi Mia, Owen bisa menjadi batu pijakannya untuk meraih semua mimpinya.


Hanya saja pria itulah yang terlalu naif saat ini. Untuk pria seusia dirinya, Owen menganut faham yang tidak bisa Vivian mengerti. Karena itulah selama ini mereka tidak pernah cocok.


Terlalu kesal dengan apa yang ada di pikirannya, Vivian langsung beranjak dari tempat duduk nya, "Pikirkan saja dulu. Jika kau sudah menyiapkan jawabanmu aku berada di sana." katanya, kemudian berjalan ke kamar Owen.


"Vi. Apa yang.."


"Kenapa? bukankah dulu kita juga sering begini? kenapa sekarang kau harus memasang wajah seperti itu? Ayolah Owen." Vivian tersenyum sinis. "Jangan menyakiti harga diriku. Aku sudah bersikap manis kepadamu." Vivian tersenyum kecut.


...❄️❄️...

__ADS_1


...Di tempat lain.....


Setelah Mia berusaha mati-matian untuk membalaskan kemarahan nya pada Elston dengan berniat membengkokkan barang pusaka milik pria itu namun berkahir sia-sia, Mia pun akhirnya menyerah.


Sampai kapanpun ia tidak akan bisa menang melawan Elston. Pria itu bukan tandingan nya. Mia hanya bisa menyerah.


...❄️...


Elston menangkap dan menahan tangan Mia erat. Elston juga menyudutkan Mia di sandaran sofa karena gadis itu berusaha untuk melepaskan diri.


"Sekarang giliran ku." Elston tertawa puas. Ia mengambil spidol dan menggambar sesuatu di wajah Mia. "Nah. Sudah."


Apapun yang di lukis Elston di wajahnya sudah pasti akan membuat wajah Mia terlihat konyol.


"Kau curang!" seru Mia dengan nafas ngos-ngosan. "Kau sudah kalah. Terima saja hukuman mu. Hem?." Elston menekan gemas pipi Mia yang lembut di tengah-tengah jarinya yang lentik.


"Aih.. lihat wajah ini. Kau benar-benar sesuatu gadis kecil."


Hari Elston benar-benar menyenangkan saat bersama Mia. Menghabiskan waktu seperti ini adalah sesuatu yang belum pernah Elston pikirkan sebelumnya.


Jadilah seperti sekarang..


Mia kira Elston tidak akan tahu bagaimana cara memainkan permainan itu. Karena itulah Mia menantang Elston karena berniat balas dendam. Tapi ternyata ia telah keliru. Sial.


Karena Elston, Ciuman pertama Mia yang berharga hilang begitu saja. Dan yang lebih menyebalkan adalah sampai permainan monopoli sekali pun tidak mau berpihak pada dirinya. Benar-benar sial.


...❄️...


Setelah puas bermain dan melihat-lihat dimana Mia tinggal, sudah saatnya bagi Elston untuk kembali..


"Baiklah gadis kecil. Aku rasa hari ini cukup. Karena aku sibuk aku akan pulang sekarang." ujar Elston terdengar sungguh-sungguh.


"Seharusnya kau pulang sejak tadi kalau kau benar-benar sibuk!" Cibir Mia. Namun Elston mengabaikan cibiran kesal dari mulut gadis itu.

__ADS_1


"Aih.. Dasar. Aku memang berniat pulang. Kau pikir aku mau lama-lama berada di ruangan sempit seperti ini." balas Elston dengan mimik yang sengaja dibuat-buat.


Elston mengambil ponselnya dan menekan-nekan layar.


...Ting....


"Baiklah. Sudah selesai. Aku pulang. Bye. Jangan terlambat besok pagi." peringat Elston dengan suara manja.


"Bukankah besok aku libur?" protes Mia.


"Siapa bilang? kau harus datang besok. Jangan terlambat. Mengerti?" tunjuk Elston memperingati. Mia hanya bisa memanyunkan bibirnya. Elston pun tersenyum.


"Hus.... Hus.. cepatlah pergi yang mulia, tempat ini tidak cocok untuk mu." ucap Mia yang juga turut mengantar Elston sampai ke depan pintu.


"Kau benar. Seperti nya kau harus segera pindah dari tempat kecil ini. Tidak nyaman bagiku untuk mengunjungi mu disini. Udaranya juga kurang sehat untuk kulit mu." gumam Elston menilai.


Mia hanya bisa mengabaikan ucapan Elston begitu saja. Tentu saja Elston bisa mengatakan apa saja tentang dirinya, karena dunia mereka memang berbeda. Mia tidak akan ambil pusing dengan apa yang Elston katakan. Toh mulut pria itu memang tidak bisa dikendalikan.


Sambil tersenyum, Mia memperhatikan Elston yang sudah mulai menjauh.


"Periksalah ponsel mu sayang." Suara Elston terdengar melengking saat menuruni tangga. Mia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.


Setelah Elston benar-benar pergi, tanpa sengaja tatapan Mia justru tertuju pada pintu apartemen milik Owen..


"Ahh...Abaikan saja Mia. Apa urusanmu dengan mereka. Terserah mereka mau melakukan apapun. Jangan ikut campur. Dan jangan terluka..."


Di dalam apartemen, Mia segera mengurung diri di kamar.


Apa maksud Elston tadi? pikir Mia seraya mengecek ponsel miliknya. Mia hampir saja menjerit... "OMG... $30.000?"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2