
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Sepertinya Owen harus menjelaskan semuanya dari awal. Melihat dari ekspresi yang Mia berikan, gadis itu tidak akan percaya begitu saja pada apa yang Owen katakan. Terutama tentang Vivian.
"Apa kau punya waktu untuk mendengarkan cerita ku?" ujar Owen setelah mempertimbangkan untuk mengatakan pada Mia tentang hubungan sebenarnya antara dirinya dan Vivian.
"Maksud ku apa kau benar-benar ingin mendengarnya sekarang? Karena jujur saja aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat mu, Mia." Owen tahu betul bagaimana lelahnya gadis itu setelah pulang bekerja. Dan sekarang, waktu istirahat nya harus berkurang akibat ulah dirinya.
"Kau sudah melakukan nya Owen." Mia menunjuk pada jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Owen kembali tersenyum canggung. Ia merasa konyol dan bodoh di saat yang bersamaan.
"Ah, maafkan aku Mia. Seperti nya aku lupa waktu." Owen benar-benar tidak menyangka jika ia datang begitu larut ke apartemen Mia dan menyatakan cinta di saat seharusnya gadis itu sudah tertidur lelap.
Mia tersenyum maklum. Dan baginya, ini juga bukan saat yang tepat untuk tidur. Owen sudah memulai sesuatu yang akan membuat mereka terjaga sepanjang malam, dan sudah seharusnya lah pembicaraan mereka dituntaskan hingga tidak ada yang perlu di pertanyakan lagi nanti nya.
"Kau bisa cerita apa saja jika kau mau. Dan aku akan mendengarkan mu sama seperti jika kita berada di kelas." Mia sedikit mencairkan suasana. "Kau tahu aku selalu fokus saat kau mengajar. Tapi sebelum itu, aku akan membuat coklat hangat untuk kita." kata Mia yang langsung berlalu ke arah dapur.
Kita yang baru saja terucap dari bibir Mia terdengar begitu manis bagi Owen. Ah.. Jantung nya benar-benar dalam masalah.
...❄️❄️...
__ADS_1
Secangkir coklat hangat dengan asap yang masih mengepul membuat suasana di antara keduanya menjadi sedikit canggung.
"Aku bingung harus memulai nya dari mana Mia." kata Owen yang duduk tepat di depan Mia. Sementara gadis itu membuat posisinya senyaman mungkin untuk mendengarkan cerita Owen.
Mia juga mengambil bantalan sofa dan mendekapnya erat, "Kau bisa mulai dari mana saja. Aku akan mendengarkan." sahut Mia.
Owen pun memulai ceritanya. Cerita yang di mulai sejak pertama ia mulai mengenal Vivian, cinta pertama Owen.
Menceritakan tentang dirinya kepada Mia membuat Owen merasa seperti sedang mengajar mata kuliah biografi, sedang Mia terlihat antusias.
Kadang gadis itu menyela. Kadang ia memberikan pertanyaan. Dan terkadang Mia hanya mendengarkan dalam diam.
...❄️❄️...
Dan mendengar alasan mengapa mereka harus berpisah. Mia sedikit ragu apakah perasaan Owen pada dirinya adalah perasaan yang sebenarnya ataukah hanya sebatas perasaan sesaat. Terutama setelah Mia tahu bahwa keduanya masih berhubungan sampai beberapa jam yang lalu.
Di bagian cerita tentang bagaimana Owen pergi meninggalkan kehidupan lamanya sampai dengan cerita dimana mereka bertemu, Mia benar-benar merasa seperti mendengar sebuah dongeng. Jika menjadi Owen, Mia tidak akan memilih jalan seperti yang Owen pilih saat ini.
Mungkin karena sejak dulu Mia sudah merasakan bagaimana lelahnya mencari uang untuk membiayai kehidupannya.
Karena itulah, sulit rasanya mempercayai sebagian kebenaran dari cerita Owen. Mengakui bahwa pria yang membuang hidupnya untuk mendapatkan kebebasan jatuh cinta pada dirinya membuat kepala Mia terasa pusing.
"Mia...?" Panggil Owen saat mendapati Mia terlarut dalam pikirannya sendiri. "Mia, kau mendengar ku?"
__ADS_1
Owen mendekati Mia dan menutup jarak di antara keduanya hingga membuat Mia tersentak dan mata keduanya saling mengunci.
"Kau tidak mendengarkan aku." suara Owen berubah rendah. Ya Tuhan. Mia bersumpah jika saat ini Owen benar-benar membuat Mia merinding.
"Ap- apa...?"
Tatapan Owen jatuh pada bibir ranum yang saat ini tengah di gigit gemas oleh Mia. "Aku memanggil mu sejak tadi, tapi sepertinya kau mengabaikan aku." tuduh Owen membuat wajah Mia bersemu.
...Deg.....
...Deg.....
"Ak- Aku."
Owen semakin mendekatkan wajahnya, "Ssttttt... Mia maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa menahannya lagi." ucap Owen.
Otak Mia membeku. Matanya membulat sempurna saat bibir keduanya menyatu dengan begitu lembut.
...Argh! Jantung sialan. Pelan kan suaramu!...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...