
"Apa aku boleh tidur di pangkuanmu?" Tanya Justin penuh harap.
Elena menatap Justin lekat, ada getaran lain yang mulai terasa di hatinya. Tanpa ragu ia menganggukkan kepala.
Justin tersenyum, ia segera merebahkan kepalanya di atas paha Elena. Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Justin. Elena ikut tersenyum dan membelai kepala pria tampan itu.
"Jika dulu aku diberi kesempatan untuk mengenal Vania, mungkin akan beda cerita jika kami dinikahkan!" Ucap Justin.
Kepalanya menghadap ke atas sehingga bisa melihat wajah Elena dari bawah.
"Jadikan yang lalu sebagai pembelajaran, Mas. Jangan karena keinginan kita, orang lain yang menjadi korban," Ucap Elena lirih.
Justin tersenyum, ia menggenggam tangan Elena sambil menutup mata. Merasakan hangatnya sentuhan yang terasa begitu tulus dan nyaman.
"Bagaimana kalau aku mulai mencintaimu, Na?" Tanya Justin lirih.
Deg!.
Elena menatap Justin tidak percaya. "Apa semudah ini kamu mencintai seseorang, Mas?" Tanya Elena.
"Tidak! Saat ini hatiku kosong, Na. Setelah kepergian Vania, aku baru menyadari jika aku tidak mencintai Reema. Dan kini hanya ada status pernikahan diantara kami. Aku juga sedang berusaha untuk melupakan Vania dan memulai hidup baru tanpa bayangannya!" Ucap Justin lirih.
Elena terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi mendengarkan pengakuan Justin.
"Apa Mas tidak ingin mencintai Reema? Jangn sampai nanti Mas menyesal," Ucap Elena.
"Mereka berbeda, Na. Aku yakin tidak akan menyesal jika harus berpisah dari dia!" Ucap Justin terlihat sangat yakin.
Mereka terdiam menyelami hati masing-masing. Elena yang berusaha untuk menahan hati, dan Justin yang sedang belajar untuk mencintai Elena.
"Apa kamu sudah dimiliki, Na?" Tanya Justin.
Elena tersenyum dan menatap Justin, "Tidak, Aku sedang tidak di miliki!" Ucapnya.
"Ah, syukurlah. Berarti aku masih memiliki kesempatan untuk mendekatimu!" Ucap Justin tersenyum.
"Aku tidak ingin membatasi diri, Mas," Ucap Elena.
"Apa kamu mau menerima seorang pembunuh?" Tanya Justin menatap wajah Elena dengan intens.
"Asalkan Mas mau berubah dan berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi!" Ucap Elena.
"Aku berjanji!" Ucap Justin memeluk pinggang ramping Elena.
"Mas?" Panggil wanita cantik itu.
"Hmm?" Justin hanya berdeham saja karena ia merasa mengantuk dan sedikit pusing.
__ADS_1
"Apa Mas pernah berfikir untuk menyerahkan diri dan bertanggung jawab atas apa yang sudah Mas lakukan?" Tanya Elena lirih.
Justin terdiam dan terkejut dengan pertanyaan Elena. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Sementara wanita cantik itu dengan sabar menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Justin.
"Aku hanya percaya, jika kejahatan pasti akan terbongkar dengan sendirinya! Aku hanya bisa menunggu hal itu, Na. Yang jelas, selagi aku bisa menyembunyikannya, aku tidak akan menyerahkan diri!" Ucap Justin menatap Elena.
Wanita cantik itu langsung tersenyum dan kembali mengelus wajah Justin dengan lembut. "Mas tau mana yang terbaik! Bukan berarti aku mendukung apa yang sudah Mas lakukan, tetapi baik sekarang atau pun nanti, Mas pasti akan menghadapinya!" Ucap Elena tersenyum.
"Aku harap kamu tidak menceritakan hal ini kepda siapapun!" Ucap Justin.
"Iya, asal Mas mau berubah!" Ucap Elena.
"Iya. Hmm, tadi siang aku melihatmu di perusahaan Magenta Corp. Kamu kenal dengan CEO nya?" Tanya Justin.
Deg!
"Magenta Corp? Akun tidak kenal, Mas. Mungkin hanya orang yang mirip saja!" Ucap Elena berusaha untuk tenang.
"Tapi dari porsi tubuhnya, tinggi dan rambut kamu sama!" Ucap Justin mengernyit.
"Bisa jadi itu pacar CEO nya, Atau mungkin istri? Mana mungkin aku orang biasa bisa berkenalan dengan orang besar seperti itu, Mas!" Ucap Elena berusaha untuk meyakinkan Justin.
"Ah, mungkin bisa jadi. Aku mengantuk, Na!" Ucap Justin memejamkan matanya.
"Tidurlah, Mas!" Ucap Elena lembut.
Ia berharap Justin bisa terlelap dengan cepat, agar ia bisa pulang dengan segera. Sebab, jika lebih lama berada dekat dengan Justin, akan dipastikan jika ia akan termakan ucapan buaya darat ini.
Tidurlah, Mas. Aku ingin pulang dan bertemu dengan Rexy. Sungguh kata-katamu itu bisa membuat hatiku kembali goyah. Ayo tidur, Mas!. Batin Elena.
Tak selang berapa lama, dengkuran halus terdengar keluar dari mulut Justin. Elena bernafas lega, ia menunggu sebentar agar pria tampan itu benar-benar terlelap.
Dengan perlahan Elena mengangkat kelapa Justin dari pangkuan dan meletakkannya di atas bantal.
Elena menatap wajah Justin dengan lekat. Dia adalah laki-laki yang mengajarkannya sabar dan ikhlas dalam penderitaan.
Hatinya yang lembut harus di terpa dengan berbagai ujian dan cobaan dari Justin. Kini ia merasa semua itu harus dirasakan oleh Justin hingga akhir hayatnya nanti.
Aku pergi dulu Mas, bersiaplah untuk menjemput penderitaanmu!. Batin Elena.
Ia melangkah menuju pintu, namun tertahan ketika mendengarkan suara Justin yang tengah mengigau menyebutkan nama Vania.
"Va, maafin aku! Va, jangann pergi, akh menyesal!" Ucap Justin di dalam tidurnya.
Elena bergegas untuk keluar dari sana. Ketika hendak melangkah, ia menatap pintu masuk dengan rasa tidak percaya. Apakah benar apa yang dikatakan oleh Justin.
"Nona?" Panggil Clayton yang terlihat cemas.
__ADS_1
Elena mengurungkan niatnya untuk mencoba membuka pintu. "Clay, dia tertidur di dalam. Ayo kita pergi!" Ucapnya segera berjalan menuju lift.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya Clyton yang melihat Elena terdiam di dalam lift.
"Ya, aku baik. Ayo kita pulang, Rexy pasti sudah seperti orang gila menungguku pulang!" Ucap Elena memaksakan senyumnya.
"Baiklah, Mari nona!" Ucap Clyton.
Mereka segera meninggalkan gedung apartemen itu. Elena terdiam sepanjang jalan dan mengundang tanda tanya bagi Clyton, sebab ia tidak bisa menyadap ruangan Justin selama Elena berada di dalamnya.
Tak lama, mobil berheti di halaman rumah Rexy, terlihat pria tampan itu sudah menunggu kedatangannya dengan raut wajah cemas.
"Sayang?" Panggil Rexy sambil berlari mengejar Elena yang baru saja membuka pintu mobil.
"Bee," Ucap Elena langsung memeluk Rexy dengan erat.
"Sayang, kamu gak di apa-apain kan sama dia?" Tanya Rexy terdengar begitu cemas.
"A-aku, aku lemas!" Ucap Elena lirih.
Deg!.
Pikiran Rexy berkelana, apakah Elena telah mendapatkan pelecehan dari Justin, namun ia melihat wanitanya masih pulang dalam keadaan utuh.
Tanpa bertanya lagi, ia segera menggendong Elena dan masuk ke dalam rumah. Sementara wanita cantik itu hanya termenung kala semua ucapan Justin masih berkelana di dalam pikirannya.
"Sayang?" Panggil Rexy sambil mengusap kepala Elena.
Namun ia tidak menunjukkan respon apa pun hingga pelukan Rexy berhasil membuyarkan lamunannya.
"Bee, di-dia, dia mengakuinya!" Ucap Elena dengan air mata yang menetes.
"Mengakui apa Sayang? Bilang sama aku?" Ucap Rexy dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
"Di-dia mengakui semuanya, Bee. Dia membunuhku atas permintaan istrinya yang sekarang!" Ucap Elena terisak.
Rexy kembali memeluk Elena sembari menenangkannya. Memberi rasa aman dan nyaman agar Elena tidak merasa takut dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku di sini, Sayang. Menangislah hari ini, tapi setelah kamu reda jalankan semuanya dengan baik!" Ucap Rexy.
Suara tangis Elena semakin terdengar. Rexy masih setia memeluk dan menenangkannya.
"Jadilah lebih kejam, Sayang! Balas mereka dengan harga yang setimpal!" Ucap Rexy dengan mata yang menyalang.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1