PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Disaat Elena dan Rexy saling berbagi kasih, berbeda dengan keadaan Justin dan Reema. Mereka masih saja berdebat tentang masalah tadi. Beruntung mobil masih bisa dikendalikan, sehingga nyawa mereka terselamatkan hingga sampai di rumah.


Reema masih tidak terima dengan perlakuan Elena yang memukulnya hingga meninggalkan bekas memar, bahkan sekarang sudah terlihat membengkak. Dan sikap yang diambil oleh Justin tanpa membelanya.


"Kau tidak membela aku istrimu Mas. Tetapi kau malah bermain mata dengan perempuan itu! Aku tidak mengerti jalan pikirmu!" Ucap Reema sarkas.


"Hon, aku tidak tau bagaimana kejadian sebenarnya! Baik kamu atau tidak perempuan itu, aku tidak bisa menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar!" Ucap Justin masih berusaha sabar.


"Tapi setidaknya kau membelaku, Mas! Apa kau pikir aku tidak melihat cara kau menatap perempuan itu?" Ucap Reema dengn emosi yang sudah meledak.


Justin hanya terdiam dan membuat wanita cantik itu semakin meradang.


"Katakan Mas! Katakan kepadaku dengan jujur, apa kalian bertemu ketika aku pergi?" Tanya Reema menggenggam kerah baju Justin.


Laki-laki itu mengeraskan rahangnya melihat kelakuan Reema yang terlalu berlebihan menanggapi sesuatu.


Ia menghempaskan tangan Reema dengan kasar dan menatap tajam ke arahnya. Justin berjalan mundur hingga punggung Reema membentur tembok dan tersudut.


"Cukup Reema! Jangan melewati batasanmu!" Ucap Justin tegas.


Reema tersentak, ia tau jika Justin sudah marah, apapun akan dilakukan oleh laki-laki ini. Persetan dengan semuanya! Hari ini aku tidak akan kalah dari dia! Apa pun yang terjadi aku pasti akan mendapat dukungan dari keluarga! Lihat saja kau Mas!. Batin Reema.


Mata tajam mereka bertemu, Justin mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga semua urat yang ada di sana terlihat menonjol.


"Katakan, Mas. Kau selingkuh dengan dia! Kalian tidur bersama dan kau juga memuaskan perempuan itu!" Ucap Reema dengan berani.


"Jangan berbicara sembarangan karena kau tidak tau apa yang terjadi, Reema! Jangan mengada-ngada kamu! Sebejad-bejadnya aku tidak pernah bermain dengan perempuan lain!" Ucap Justin dengan nafas yang memburu.


"Katakan Mas! Katakan apa yang sudah kalian lakukan! Jalaang itu sudah mengatakan semuanya!" Ucap Reema semakin memancing Justin.


"Dia bukan jalaang, Reema. Dia bukan jalaang!" Ucap Justin masih menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan kepada Reema.


"Dia jalaang Mas! Dia wanita tidak benar! Tidak mungkin ada perempuan baik-baik yang mau merebut suami orang!" Pekik Reema.


"Jangan lupa kau juga seorang jalaang Reema! Kau merebutku dari Vania!" Teriak Justin yang sudah tidak tahan.

__ADS_1


"Dia yang merebutmu dariku Mas!Jalaang-jalaang itu yang merebut kamu dari aku!" Pekik Reema.


"Cukup Reema!" Ucap Justin menunjuk wajah Reema. "Cukup kau menghina mereka, sementara kau tidak tau dimana dirimu berada!" Pekiknya.


"Mas, kau membela seorang jalaang dari pada istrimu sendiri?" Ucap Reema menantang.


Bugh!!


Bugh!!


Krek!!


Tangan Justin melayang, berulang kali memukul sesuatu yang ada di hadapannya. Reema memejamkan mata dan menutup telinga, takut jika tangan Justin memang benar-benar mengenai tubuhnya.


Justin memukul dinding itu dengan keras berulang kali, bahkan terdengar bunyi remukan yang cukup keras persis di telinga Reema.


Mereka terdiam, Reema tidak lagi mampu mengatakan apapun selain melihat lelehan darah mulai mengalir dari tangan Justin.


"Mas, ta-tanganmu!" Pekik Reema meraih tangan Justin.


"Mas, jadi kau mengatakan aku lebih hina dari mereka? Kau anggap aku apa selama ini Mas?" Ucap Reema kembali emosi.


"Kau harus tau dimana tempat kau Reema! Kau pikir aku tidak tau apa yang kau perbuat di luar sana?" pekik Justin dengan wajah yang sudah memerah.


Deg!.


Reema terdiam, apa Justin tau tentang permainannya selama ini?. "Apa yang kau tau Mas? Kau bahkan tidak memahami istrimu sendiri!" Ucap Reema tidak ingin disalahkan.


"Apa? Apa yang aku tidak paham dengan kamu sekarang? Katakan Reema! Apapun yang kau inginkan aku beri, kau ingin jadi model aku izinkan, kau tidak ingin hamil aku setuju! Kau ingin hartaku? Bahkan sebagian kekayaanku kepemilikannya sudah atas nama kamu! Apa lagi yang kau inginkan Reema?" Ucap Justin dengan air mata yang menggenang.


Rasa sakit itu mulai menjalar. Ia menjambak rambutnya dan terduduk lemas di lantai karena darah yang mengalir tidak kunjung berhenti.


"Coba katakan apa yang sudah kau lakukan untukku!" Ucap Justin dengan nafas yang memburu. "Katakan!" bentak Justin.


"Hati! Cinta! Kau tidak memberikan itu kepadaku, Mas! Kau sibuk dengan perempuan itu! Dia sudah mati Mas! Dia sudah mati!" Pekik Reema

__ADS_1


Justin terdiam dan menatap Reema dengan tajam. Ia kembali berdiri dan berjalan mendekat ke arah Reema. "Cinta seperti apa lagi yang kau inginkan? Membunuh Vania pun aku lakukan untukmu! Cinta seperti apa, Reema?" Pekik Justin.


"Kau tidak pernah mencintaiku lagi sejak kau menyadari jika kalian saling mencintai! Kau tidak memikirkan aku Mas! Jika saja aku tidak mengancam, kau tidak akan pernah menikahiku hingga sekarang!" Pekik Reema.


Justin terdiam, apa yang dikatakan boleh Reema memang benar adanya.


"Kau ingin aku hamil, Mas. Sementara tidak ada sedikit pun cinta untuk ku! Wanita mana pun tidak akan pernah mau, Mas!" Ucap Reema dengan air mata yang mengalir.


"Jika saja kau masih mencintaiku seperti dulu, aku tidak akan berpikir dua kali untuk hamil! Aku tidak akan bermain di luar sana! Banyak hal yang akan aku lakukan untuk mempertahankan cintaku, tapi apa? Kau tidak seperti dulu Mas! Aku hanya memiliki ragamu, tapi tidak dengan hatimu!" pekik Reema.


Justin terdiam, ia benar-baner tidak tau harus berkata seperti apa. Semua yang dikatakan oleh Reema memang benar adanya.


Suara mereka menggelegar memenuhi seluruh rumah. Bahkan semua pelayan yang ada tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Jika bisa memilih, mereka serasa ingin hilang dari permukaan bumi saat ini juga.


Mendengarkan perdebatan yang lebih mencekam dari biasanya membuat mereka menahan napas ketika suara tegas Justin sudah terdengar keluar.


"Sekarang kamu hanya memiliki dua pilihan, Mas! Bersamaku dan kita mulai dari awal, atau kita berpisah tetapi setiap wanita yang dekat denganmu akan aku perlakukan seperti Vania!" Ucap Reema tegas.


"Kau tidak bisa berkata seperti itu, Reema!" Bentak Justin.


"Terserah kamu, Mas. Pikirkan baik-baik, atau masalah ini aku ceritakan kepada orang tua kita!" Ucap Reema.


Ia berjalan menuju kamar dan meninggalkan Justin di ruang tengah itu sendirian, bahkan tanpa menoleh sedikitpun.


Sementara Justin hanya bisa mandik napasnya meredakan sesak yang semakin terasa menghambat pernapasannya. Ia terduduk di atas lantai dengan badan yang mulai terasa lemas.


Wajah yang terlihat pucat dan lelah tergambar jelas. Rasa sakit perlahan mulai menjalar hingga keseluruh tubuhnya. Bahkan kini jari Justin tidak lagi berbentuk karena retakan dan patahan yang ia alami.


Semakin lama tubuhnya semakin lemas, Justin tergeletak di lantai dengan darah yang masih mengalir dari tangannya.


Cukup lama ia tergeletak di sana, hingga seorang pelayan memberanikan diri untuk melihat situasi dan keadaan rumah saat ini.


"Tuan?" Peliknya melihat kondisi Justin yang sudah tidak sadarkan diri.


Tanpa menunggu lama ia memanggil satpam untuk membati Justin dan membawanya menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2