
Malam ini tidak ada yang bisa dibawa pulang oleh Elena, selain kata pasti jika Justin akan menikahi dirinya dan meninggalkan Reema secepat mungkin.
Jika ditanya tujuan utama wanita cantik itu membuat Justin jatuh cinta lagi, sudah bisa dikatakan selangkah lagi akan berhasil. Namun semuanya terasa sangat lambat dan bertele-tele.
Tetapi jika ia bergerak cepat, resiko kedepannya akan sangat besar dan tidak bisa ditebak. Kini ia sedang mengendarai mobil sendirian dengan kecepatan sedang menuju rumah Rexy, tanpa ditemani oleh Clayton.
Namun ia mengernyit, ketika menyadari sebuah mobil yang mengikuti pergerakannya.
Itu mobil yang aku lihat sebelum meninggalkan basement. Apa dia mengikutiku? Tetapi siapa?. Batin Elena.
Ia segera menghubungi Rexy dan melaporkan apa yang tengah ia pikirkan. Takut jika terjadi sesuatu dan ia kembali mengalami kecelakaan seperti sebelumnya.
"Kamu tenang, ya. Aku sudah mengirim orang untuk mengawalmu pulang!" ucap Rexy santai.
"Beneran, Bee? Aku belum siap jika harus mengalami sesuatu lagi dijalanan!" ucap Elena berusaha untuk tenang dan fokus.
"Kamu harus siap, Sayang. Jangan lemah! Karena aku tidak selalu berada disisimu, dan itu akan menjadi celah untuk mereka. Lawan rasa takut dan ragumu, Sayang!" Ucap Rexy tegas.
Elena terdiam dan berusaha untuk meyakinkan diri, jika ia harus berani menghadapi ini semua. "Tunggu aku pulang, Bee!" ucap Elena.
"Hati-hati, Sayang," Ucap Rexy tersenyum.
Elena memperhatikan jalan dan sesekali melihat mobil yang ada di belakang, ia harus memastikan jika mobil itu memang mengikutinya atau tidak.
Ia mengambil jalan tikus menuju ke apartemen yang baru saja ia beli. Karena akan berbeda cerita jika ia harus berhenti di rumah Rexy.
"Bee, Aku ke Apartemen saja!" Ucap Elena yang masih terhubung dengan Rexy.
"Baiklah, aku akan ke sana!" Ucap Rexy segera bersiap tanpa memutuskan sambungan telepon.
Elena memacu mobilnya lebih cepat, dan benar saja mobil itu mengikutinya dari belakang. "Sepertinya benar jika aku diikuti!" ucapnya masih fokus kearah jalan dan kaca mobil.
"Tetap tenang, Sayang. Orang-orangku sudah mendekat dan menunggu kamu di pengkolan sebelum keluar dari jalan itu. Berhati-hatilah!" ucap Rexy.
"Tunggu aku di dalam Apartemen, Bee. Jangan di bawah!" Ucap Elena.
"Baiklah, tuan Putri," Ucap Rexy tersenyum.
Di depan Elena melihat tikungan terakhir dan juga sorot lampu yang menerangi jalan itu. Elena merasa jika ini adalah cahaya dari lampu mobil orang suruhan Rexy.
Ia melewati jalan dan berhenti, ada tiga mobil mulai menghadang jalan.
__ADS_1
Decit rem terdengar ketika mobil penguntit itu terkejut melihat jalan yang sudah ditutup. Mereka sedikit panik dan memilih mundur karena tidak ada tempat untuk memutar mobil.
Namun dari arah belakang sudah ada dua mobil lagi yang menghadang pergerakan mereka.
"Sial! Siapa perempuan ini sebenarnya? Dia bukan orang sembarangan, jika para curut ini suruhan dia," ucap salah satu penguntit.
"Kita harus tenang, jangan sampai mereka curiga," ucap yang lain.
Mobil yang mengikuti Elena sudah terjebak dan tidak bisa bergerak lagi. Muncul beberapa orang dengan pakaian lengkap dan bersenjata. Menyuruh mereka keluar dari mobil itu.
Beruntung di sana tidak terdapat rumah penduduk, sehingga aman dari kericuhan.
"Turun kalian!" Pekik pimpinan Body guard Elena.
Mereka membuka paksa mobil dan mengeluarkan mereka dari sana. Sehingga dua orang laki-laki sudah berhasil di ringkus dan diamankan.
Elena segera turun dari mobil dan menyusul mereka. Ia begitu penasaran dengan dalang yang ingin mencelakainya kali ini.
Berjalan semakin dekat dan melihat wajah para penguntit itu dengan seksama.
Walaupun berusaha untuk memberontak, namun mereka tidak bisa bergerak bebas karena kukungan dari para body guard yang cukup kuat.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Elena sangar.
Bugh!
Sebuah bogeman mentah mendarat di rahang laki-laki itu, membuatnya terpekik dan menjerit kesakitan.
"Berani kau berkata seperti itu kepada Nona kami! Cari mati kau, ha?" Pekik Sang pimpinan.
"Memang seperti itu adanya! Apa kalian tidak melihat? Atau kalian semua Gay?" ucap penguntit itu remeh.
Elena mengeraskan rahangnya. "Bawa mereka ke markas. Mungkin para buaya sudah sangat lapar! Suruh dia mengaku, jika tidak berikan saja kepada mereka!" Ucap Elena tegas.
Dua orang laki-laki itu terkejut mendengar ucapan Elena. Namun tidak mungkin rasanya seorang perempuan memelihara buaya.
Bukan hanya mereka, para body guard pun dibuat terheran oleh Elena. Pasalnya tidak ada buaya di markas, dan hanya ada sepasang iguana kecil milik Rexy.
Namun mereka mengikuti perintah Elena. Mungkin setelah ini akan ada buaya di dalam markas, begitu pikir mereka.
Sementara Rexy hanya terkekeh geli mendengarkan ucapkan Elena. "Ah, apa kamu ingin memiliki buaya, Sayang?" tanya Rexy.
__ADS_1
"Diam kamu, Bee! Jangan hancurkan kekejamanku kali ini!" Ucap Elena kesal.
"Ayo pulang sayang, aku merindukanmu!" ucap Rexy genit.
Elena tidak menjawab, ia menatap dua laki-laki yang ada dihadapannya. "Besok harus dapat siapa yang menyuruh mereka!" ucap Elena tegas.
Para body guard itu cukup terpesona dengan ketegasan Elena. Sebab, selama mereka mengenal perempuan itu, hanya ada kelembutan yang terpancar dari dirinya.
"Baik, Nona! Besok akan aku berikan apa yang Anda mau, akan kami usut tuntas sampai mereka mengaku," ucap pimpinan body guard.
"Terima kasih!" ucap Elena mengangguk.
Ia kembali masuk kedalam mobil, dan kembali menagarah menuju apartemen diikuti oleh dua mobil lainnya, memastikan Elena pulang dengan selamat.
Sementara penguntit itu segera dibawa menuju markas untuk dieksekusi.
🍃🍃
"Bee, ayolah! Jangan bersikap seperti ini. Aku lelah!" ucap Elena ketika Rexy menuntut untuk memperlakukannya seperti apa yang ia perbuatan kepada Justin.
Rexy hanya memasang wajah datarnya menatap Elena dengan rasa cemburu yang sudah tidak tertolong lagi.
"Kenapa tadi kamu mau menyuapi dia? Sementara kamu gak mau menyuapi aku. Padahal aku belum makan malam dan kamu tega membiarlan aku kelaparan?" ucap Rexy dingin.
"Astaga, Bee!" pekik Elena frustrasi. "Ya sudah, ayo sini aku suapi!" sambungnya dan mengambil makanan yang ada di atas meja.
"Kamu tidak mau, jangan dipaksa! Besok jangan harap bisa bertemu lagi dengan dia!" ucap Rexy mengancam dan merebut makanan itu.
"Bee!" ucap Elena dengan nada rendah.
Rexy paham, jika wanita cantik ini sudah berada pada titik kesal. Ia melepaskan makanan itu dan membuka mulutnya.
Elena menyuapi Rexy dan menatap wajah cemberut pria tampannya.
"Kamu gak cocok dengan wajah seperti itu!" ucap Elena.
"Biarin!" dengus Rexy kesal.
Ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Elena sembari mengusap bekas kepala Justin yang sempat merasakan empuknya paha mulus itu.
"Duduk dulu, Bee. Habis makan baru boleh tiduran!" ucap Elena yang mulai paham gerak-gerik Rexy.
__ADS_1
"Udah kenyang! Aku gak suka kamu dipegang-pegang seperti tadi!" ucap Rexy kesal.
Ia membenamkan wajahnya di perut Elena dan memeluk pinggang wanita cantik itu dengan posesif.