
Tak selang berapa lama, Rexy tiba dirumah dan langsung mencari Elena kedalam kamar. Berharap jika wanitnya dalam keadaan baik-baik saja.
Ceklek!
Ia membuka pintu, melihat suasana kamar sangat gelap dan sedikit berantakan. Jantungnya berdetak dengan cepat membayangkan kondisi Elena yang kembali memburuk.
"Sayang? Kamu dimana?" Panggil Rexy dan menghidupkan lampu.
Betapa teririsnya hati pria tampan itu ketika melihat Elena tengah duduk ditepi ranjang sambil menyangga kepalanya menggunakan lutut dan terlihat kacau.
Bayangan aksi kecelakaan tadi membuat ingatan Elena kembali memutar kejadian beberapa tahun lalu. Rexy segera mengejar Elena dan memeluk wanita cantik itu, memberikan ketenangan dan kenyamanan yang tiada batas.
"Sayang, aku di sini!" Ucap Rexy memeluk Elena.
Wanita cantik itu masih terdiam. Rexy segera menggendongnya dan merebahkan Elena di atas ranjang.
"Sayang, aku di sini! Jangan takut lagi, ya!" Ucap Rexy memeluk Elena.
Rexy selalu mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Elena tersadar dari lamunannya. Hingga tangan lentik itu menyentuh wajah Rexy dengan lembut.
"Aku takut!" Ucap Elena lirih.
"Aku di sini, sayang. Kamu aman bersamaku!" Ucap Rexy mengusap punggung Elena.
"Maaf," ucap Elena lirih.
"Maaf kenapa?" Tanya Rexy lembut.
Ia sudah tau jika Elena merasa bersalah kepada mereka, orang suruhannya yang menjadi korban tabrakan tadi.
"Me-mereka kecelakaan, Bee!" Ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu sudah resiko, Sayang! Berani berbuat harus berani sakit, berani bertaruh dan berani bertanggung jawab!" Ucap Rexy lembut namun tegas.
"Hiks, aku mau melihat mereka, Bee!" Ucap Elena menangis.
"Nanti aku panggil mereka ke sini, ya," ucap Rexy lembut.
Elena mengangguk dan memejamkan matanya. Ia terlelap di dalam pelukan Rexy yang terasa aman dan nyaman.
Pria tampan itu tersenyum dan menggeleng. Ia merasa ingin marah, namun tidak bisa. Yang ada hanya rasa gemas melihat tingkah Elena yang ingin membalas dendam namun masih merasa takut dengan semua resiko yang akan ia hadapi nanti.
"Ren, periksa dan perbaiki semua sistem keamanan. Upgrade dengan versi terbaru dan pastikan tidak ada yang bisa meretas sistem keamanan kita!" Ucap Rexy melalui panggilan telepon.
"Baik, Tuan!" Ucap Ren.
"Berikan juga bonus kepada mereka yang sudah menjalankan perintah Elena!" Ucap Rexy lagi.
__ADS_1
"Baik, tuan. Bagaimana dengan laporan yang sudah dibuat oleh Tuan Justin?" Tanya Ren.
"Kamu atur saja! Jangan sampai mereka tertangkap atau hal semacamnya!" Ucap Rexy tegas.
"Baik, Tuan! Ada lagi?" Tanya Ren.
"Kosongkan jadwal saya hari ini. Lalu panggil pelatih Elena semasa di Korea dulu dan carikan pelatih laki-laki yang bisa mengajarkan Elena melakukan sesuatu tanpa rasa takut!" Ucap Rexy tegas.
"Maaf, Tuan?" Tanya Ren bingung.
"Carikan saja! Tetapi berikan surat perjanjian apa saja yang harus dia perbuat kepada Elena dan apa saja yang tidak boleh ia langgar!" Ucap Rexy tegas.
"Baik, Tuan!" Ucap Ren Pasrah.
Rexy tersenyum, beberapa hal mungkin Elena akan bisa bertindak secara tegas, namun tidak dengan sesuatu yang akan membangkitkan traumanya.
Tiga tahun melatih diri setiap hari mampu menekan sedikit demi sedikit rasa traumanya, walaupun tidak dipungkiri ketakutan itu akan datang kembali secara tiba-tiba.
Ia hanya tersenyum menatap wajah cantik Elena yang masih terlihat pucat. Kamu ingin balas dendam, tapi menghadapi hal seperti ini saja sudah takut! Kamu memang aneh, sayang!. Batinnya terkekeh.
Mulai hari ini, Elena akan kembali melakukan latihan agar bisa memperkuat diri, mental dan fisik. Karena akan ada hal berbahaya yang akan dihadapi oleh Elena dikemudian hari.
Dilarang pun, tidak akan mempan karena dendam yang ada di hati wanita cantik itu sudah mendarah daging.
Tidurlah Sayang, besok hari-harimu akan semakin sulit. Ini terakhir kalinya kamu merasa takut untuk berbuat sesuatu!. Batin Rexy.
Hingga sore menjelang, mata cantik Elena mulai terbuka, terbangun dari tidur dan menatap wajah tampan yang sudah tersenyum dihadapannya.
"Ha? Sudah pagi, Bee?" Pekik Elena langsung bangun dari kasur.
Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 PM. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Rexy hanya tertawa melihat tingkah polos wanitanya.
"Bee, ayo mandi sana. Nanti kamu terlambat!" Ucap Elena tergesa-gesa.
"Terlambat kemana, sayang?" Tanya Rexy menahan tawa, ketika melihat Elena mengambil baju kerja untuknya.
"Ke kantorlah, Bee. Memangnya mau kemana lagi?" Ucap Elena mulai kesal.
"Coba lihat keluar dulu! Sekarang jam berapa?" Ucap Rexy duduk di atas ranjang sambil melihat ponselnya.
"Bukannya kamu bilang tadi selamat pagi?" Tanya Elena mengernyit.
Ia segera melihat keluar dan terkejut, karena langit masih terang dan dihiasi dengan temaram senja yang mulai memancarkan cahaya orange.
"Rexy!" Pekik Elena.
Ia kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Rexy yang hendak keluar dari kamar.
__ADS_1
"Haha, maaf, Sayang!" Ucap Rexy berlari turun kebawah.
Elena segera berjalan dengan cepat untuk mengejar Rexy karena kakinya yang tidak bisa lagi untuk dibawa berlari.
"Bee, jangan kabur kamu!" Pekik Elena.
Namun matanya membola ketikan melihat beberapa orang duduk di ruang tamu. Bahkan Rexy juga sudah berada di sana.
"Sayang, sini!" Panggil Rexy tegas.
Kenapa kamu bersikap seperti itu, Bee?. Siapa mereka?. Batin Elena bertanya-tanya.
Ia berjalan mendekat kearah Rexy dan duduk disamping pria tampannya.
"Sayang, hari ini sudah cukup rasanya kamu bermain-main dengan mereka," Ucap Rexy menatap Elena.
"Apa kamu akan langsung turun tangan, Bee? Aku minta maaf karena aku ceroboh, tetapi beri aku kesempatan terakhir untuk melakukannya, Bee!" Ucap Elena lirih.
"Sayang, apa yang kamu lakukan tadi adalah sesuatu yang sangat fatal dan akan merugikan banyak pihak! Kamu paham?" Ucap Rexy tegas.
"Paham, Bee!" Ucap Elena lirih.
"Mulai hari ini, kamu akan berlatih kembali! dalam seminggu kamu harus berlatih paling sedikit 4 hari, jika kurang jangan harap bisa keluar dari rumah!" Ucap Rexy tegas.
Elena melotot. Ia menatap Rexy dan dua orang berbasan kekar yang ada dihadapannya secara bergantian.
"Apa tidak bisa kurang, Bee?" tanya Elena.
"Tidak! Jika kamu tidak mau, kita akhiri semuanya hari ini. Besok dengar saja kabar dari mereka!" Ucap Rexy.
"Jangan! Baiklah aku akan latihan!" Ucap Elena pasrah.
"Semua hal yang akan kita lakukan memiliki resiko, Sayang. Kalau kamu masih merasa takut, resiko yang kita dapat akan semakin besar, bisa jadi kita yang kalah atau dua-duanya yang kalah!" Ucap Rexy tegas.
"Aku paham!" Ucap Elena lirih.
Rexy tersenyum dan membelai kepala Elena dengan lembut. Lalu ia menatap dua orang pelatih, anggota terbaik dari bawahan Ren.
"Latih istriku menjadi wanita yang tidak kenal ampun, hilangkan segara rasa takutnya hingga ia kuat membanting kalian!" Ucap Rexy tegas.
Elena melotot, tidak mungkin badan kecilnya bisa membanting orang dengan badan dua kali lebih besar darinya.
"Baik, Tuan!" Ucap mereka tegas.
"Clayton, kamu awasi pergerakan Elena. Jangan sampai kamu mengulangi kesalahan seperti sebelumnya. Paham?" Ucap Rexy tegas.
"Paham, Tuan!" Ucap Clayton menunduk.
__ADS_1
Rexy memberikan Elena dan pelatih barunya tentang segala hal yang berkaitan dengan latihan Elena. Mulai dari fisik maupun psikis, bela diri, senjata dan sistem IT lainnya.
Ini memang kesempatan terakhirku untuk membalas kejahatan mereka. Tidak ada lagi ampun, tidak ada lagi tangis dan rasa takut!. Aku akan membalas dendam dengan cara terindah dan terkejam yang pernah ada!. Batin Elena dengan penuh tekad.